Tanggap Darurat hingga Kelola Dapur Umum
Gardhika Yunas Aftikasari, 32, menjalani hari-harinya sebagai pemadam kebakaran sejak 2015. Sebelumnya, Sari, sapaan akrab perempuan berambut cepak ini, bergabung dengan SAR UNS sejak 2006 hingga sekarang.Jiwa kerelawanannya sudah kentara sejak Sari duduk di bangku SD. Dia senang membantu orang lain. Sari kemudian tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan ekstrover, yang lebih sering mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. ”Bahkan dulu sering ikut kerja bakti dengan Karang Taruna, dan saya menjadi yang paling kecil,” ungkap Sari kepada Espos, Rabu (19/4).
Perasaan suka membantu itu semakin kuat ketika Sari duduk di bangku kelas V. Sari yang tidak bisa berenang pernah tenggelam saat bermain di sungai. Kala itu tidak ada yang menolong. ”Setelah kejadian itu langsung berpikir bagaimana jika hal yang sama terjadi pada orang lain,” ucap ibu satu anak ini.Sari kemudian merantau ke Solo untuk melanjutkan kuliah di Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Universitas Sebelas Maret (UNS) pada 2004. Sari merupakan anggota Paskibraka UNS 2009 dan tergabung di SAR UNS sejak 2006. Saat kuliah, Sari matimatian belajar berenang. Tak disangka dia kemudian menjadi guru renang di beberapa sekolah dan memperoleh sertifikat selam Scuba Driver A1. ”Karena Jurusan Olahraga kalau enggak bisa renang ya enggak mungkin lulus, ” tuturnya mengenang.Bergabung dengan SAR membuat Sari banyak tergabung dalam misi sukarelawan bencana alam.
Di antaranya gempa Jogja 2006, banjir bantaran Bengawan Solo 2007, banjir di kawasan Sumber 2009, letusan Merapi 2010 untuk wilayah Boyolali dan Magelang, letusan Kelud 2014, serta longsor Banjarnegara 2015. Dulu, ketika menjadi sukarelawan longsor Banjarnegara, Sari banyak bergerak di pendampingan psikososial. Dia memberikan materi mengurangi trauma anak-anak korban bencana.Saat melakukan trauma healing(pemulihan trauma), Sari biasanya memberikan materi yang dekat dengan lingkungan anak-anak.” Misalnya dengan tema bersyukur hari ini, saya mengajak mereka melakukan flashbackkejadian. Kalau ada anak yang masih sedih biasanya saya beri pengertian bahwa si anak lebih beruntung daripada teman-temannya yang lain, ” katanya.
Menjadi sumber kebahagiaan bagi Sari apabila dia bisa berperan dalam menyembuhkan trauma seseorang apalagi anak-anak. ”Tapi yang perlu diingat proses tiap anak dalam menyembuhkan trauma itu berbeda-beda. Untuk tipe ekstrover biasanya butuh dua pekan,” ujar Sari. Dukungan SuamiHal sama dilakukan Sri Indriyani Dian. Dia adalah sukarelawan apa saja. Bisa menjadi tenaga medis, mengelola dapur umum, tanggap darurat, hingga psikososial atau trauma healing. Dia masih mengingat jelas situasi mencekam yang terjadi di lereng Gunung Kelud, Kediri, Jawa Timur, pada Februari 2014. Ia bersama sukarelawan Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Muhammadiyah mendapatkan tugas membantu korban erupsi Gunung Kelud.
Berada di garis paling depan dengan menginjakkan kaki di permukiman warga yang hanya berjarak 300 meter dari puncak Gunung Kelud tidak membuatnya takut. Tak ada satu rumah warga pun yang kondisinya bagus. Batu berukuran sedang bercampur dengan abu menutupi semua rumah warga. Bahkan rumah warga banyak yang rusak akibat tertimpa material erupsi Gunung Kelud. Tidur beralas tikar bersama korban bencana merupakan hal biasa bagi Dian. “Saya pernah menjadi sukarelawan di sejumlah daerah seperti erupsi Gunung Merapi di Prambanan, longsor Banjarnegara, erupsi Kawah Sileri, Dieng, Wonosobo, banjir Solo, dan lainnya. Namun, yang paling berkesan adalah saat menjadi sukarelawan erupsi Gunung Kelud,” ujar Dian saat berbincang dengan Espos, Jumat.
Dian merinding melihat situasi di lereng Gunung Kelud saat itu. Menyisir rumah warga dan membantu warga yang mengalami luka di tengah ancaman letusan Gunung Kelud merupakan hal bisa bagi Dian. “Saya menjadi sukarelawan dalam berbagai bidang mulai dari bagian dapur memasak, tim medis, tim evakusi hingga psikologi,” ujar Dian yang menjabat sebagai Bendahara Umum LPB Muhammadiyah Solo. Ia juga menjadi Komandan Baznas Tanggap Bencana (BTB) Solo dan Jateng. Di jajaran pengurus, hanya dia yang perempuan. “Sebagai sukarelawan Srikandi pastinya punya kisah suka dan duka. Kisah sukanya bisa menolong sesama yang sedang terkena musibah dalam kondisi apa pun. Kisah dukanya saat keluarga membutuhkan seorang ibu tidak ada di rumah karena ada tugas,” kata Dian yang juga menjabat sebagai Kepala AIK Stikes PKU Muhammadiyah Solo. Istri Agus Thontowi Mahdi ini mendapatkan dukungan dari suami dan kedua anaknya. Setiap ada kegiatan sebagai sukarelawan, lanjut dia, tidak lupa meminta doa kepada suami karena rida suami kunci perjalanan suksesnya. (Muhammad Ismail)
Si Ibu Tangguh
Pekerja sosial sebagai sukarelawan penanggulangan bencana bukanlah hal mudah yang bisa dilakukan setiap orang. Terlibat dalam kegiatan itu tentu mempertimbangkan segala sesuatu, termasuk berbagai risiko. Tak hanya waktu, namun juga siap mengorbankan tenaga, pikiran, keluarga, kehidupan pribadi, pekerjaan sebagai satu paket pengorbanan menjadi sukarelawan kebencanaan. Itu pun berlaku bagi Menik Trimedyana Setiati, sebagai sukarelawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) Sewu yang dibentuk Palang Merah Indonesia (PMI) Solo.
Ibu enam anak itu mengorbankan segalanya untuk menjadi sukarelawan bencana. Perempuan kelahiran Semarang, 3 Mei 1969, itu masuk sebagai sukarelawan perempuan pertama di Sibat Sewu yang terbentuk pada 2012. Wanita paruh baya mengikuti pendidikan dasar (diksar) kebencanaan di Tawangmangu. “Selama diksar peserta pe rempuannya hanya be be rapa orang. Sebagian besar adalah laki-laki,” katanya saat berbincang dengan Espos di Kantor Kelurahan Sewu, Jumat (20/4).Bagi Menik, men jadi sukarelawan kebencanaan datang dari hati nuraninya. Melihat kondisi tempat tinggalnya yang menjadi langganan banjir tahunan akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo menggerakkan dia menjadi sukarelawan.“Saya tidak bisa berenang, tapi harus menolong korban banjir. Kuncinya adalah keberanian menolong korban banjir meski harus dilengkapi pelampung,” katanya.
Saat banjir, waktunya lebih banyak untuk membantu para korban banjir. Bahkan bisa 24 jam nonsetop berjaga terus. Bersama para sukarelawan lain, Menik mencurahkan tenaga dan waktu untuk membantu para korban banjir. Tenaganya pun tak kalah dengan laki-laki.“Beberapa yang laki-laki sampai bilang badannya lara kabeh [sakit semua]. Padahal saya tidak, sampai dijuluki ibu tangguh,” katanya. Beruntung keluarga memahami dan mendukung penuh apa yang dikerjakannya. Tak ada protes dari keluarga. Saat bencana, dia langsung berkoordinasi dengan sang suami agar mengambil alih sementara pekerjaan rumah yang mestinya dikerjakannya. “Jadi urusan rumah bisa ditangani suami dan anak-anak,” katanya. Menurutnya, perempuan sukarelawan dibutuhkan dalam penanganan kebencanaan. Terutama saat menangani perempuan korban yang biasanya mereka lebih merasa nyaman karena sama-sama perempuannya. “Tidak ada rasa canggung saat kami evakuasi,” katanya.(Indah Septiyaning W.)
Merasakan Ketulusan
Ester Murtiningsih, 50, Jumat (20/4), tertawa bersama warga Griya PMI Solo dalam lomba permainan tradisional yang diadakan dalam rangka memeringati Hari Kartini. Ester sudah lupa cerita awal dia bisa bergelut dengan orangorang yang dianggap berbeda oleh kebanyakan masyarakat ini. Namun, baginya ada ketulusan yang terpancar dari mereka. ”Kalau kita baik sama mereka, mereka juga baik sama kita, ” ucap Ester kepada Espos. Puluhan penghuni Griya PMI Mojosongo, Solo, kebanyakan terasing dari lingkungan, mereka dianggap tidak waras. Ada mantan pengamen yang terkena razia, ada pula yang sengaja dititipkan oleh keluarganya.
Sepekan dua kali Ester aktif mengisi kelas keterampilan. Jenisnya bermacam-macam, mulai dari kerajinan dengan kain perca, flanel, dan menjahit. Dia tak pernah alpa hadir tiap Senin dan Kamis. ”Harapannya agar suatu saat ketika mereka kembali ke masyarakat, ada keterampilan yang dimiliki, ” kata Ester. Ester memang tidak menargetkan agar para warga Griya PMI memiliki kemampuan khusus. Tujuannya hanya satu, supaya memiliki aktivitas positif dan tidak melamun saban hari. ”Kalau sering melamun biasanya mereka kembali ke sifat aslinya,” ucap Ester. Bertahun-tahun bergelut bersama orang-orang di Griya PMI Ester akan ikut bahagia jika ada yang bisa kembali diterima di masyarakat.” Bagi saya mereka tidak sakit, mereka sama saja dengan kita.” (Nadia Lutoana Mawarni)
Sumber : Solopos 21 April 2018