Siaga Bencana Berbasis Masyarakat

Pelatihan Kebencanaan : Merencanakan Hunian Korban Bencana

JEBRES--Antusiasme dan keceriaan terlihatdari wajah 40 wakil dari Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) Kelurahan Solo dan Korp Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) pada pelatihan teknis tanggap bencana di Taman Makam Pahlawan (TMP) Jurug, Jebres, Kamis (6/12). Di halaman TMP yang luas itu mereka merencanakan sebuah hunian bagi warga yang terdampak bencana. Anggota staf Sumber Daya Manusia (SDM)PMI Solo, Jumadi, mengatakan pelatihan kebencanaan tersebut berisi bagaimana merencanakan dan mengelola apabila terjadi bencana. Warga terdampak membutuhkan hunian sementara, pelayanan air bersih dan kesehatan. Distribusi logistik untuk masyarakat terdampak juga perlu dipikirkan. Pelatihan tanggap bencana tersebut tidak menghilangkan bagaimana proses evakuasi terhadap korban terdampak bencana. Namun, yang mereka lakukan lebih pada manajemen dan perencanaan hunian sementara (huntara). ”Kemarin dua hari materi penuh di ruangan dan setelah selesai pulang. Setelahnya sejak Rabu [5/12] pagi sampai Kamis [6/12] menginap di sini [TMP Jurug]. Kemudian untuk materi diberikan di luar ruangan,” kata Jumadi.'

Selain itu, peserta mendapatkan materi teori manajemen tanggap bencana dan pertolongan pertama. Menurut Jumadi, materi yang diberikan yaitu bagaimana mengakses keamanan apabila ditugaskan di daerah bencanaatau daerah konflik, kemudian etika memberikan bantuan kepada korban. ”Pelatihan bencana apa saja yang bisa didapatkan untuk mempercepat penanganan diberikan kepada peserta. Mereka akan melakukan observasi di lapangan mengenai kebutuhan apa yang harus dipenuhi, supaya kebutuhan dasar juga terpenuhi [sandang, pangan, papan] dengan melihat kondisi di lapangan, biar terjaga kondusivitasnya,” jelas Jumadi. Peserta diajarkan merencanakan kebutuhan bagi korban. Stok kebutuhan terjaga harus dijaga.

Yang harus dipikirkan oleh mereka juga soal kebersihan dan kesehatan kepada masyarakat terdampak. Hal itu dilakukan agar penyebar penyakit tidak berkembang di pengungsian dan menyebabkan wabah penyakit. ”Mereka [para sukarelawan] akan melakukan manajemen seperti ini [memberantas wabah penyakit], agar penyintas sadar dan melakukan aksi itu [memberantas wabah penyakit]. Apabila penyebar penyakit muncul peserta mengetahui bagaimana penanganannya,” kata Jumadi. (Ratih Kartika)

Sumber : Harian Solopos 7 Desember 2018