Narasi

Orang-orang Bantaran Kali Ciliwung

Pada tahun 1988, Wiji Thukul menulis satu sajak kritik-deskriptif berjudul Nyanyian Akar Rumput: mendirikan kampung/ digusur/ kami pindah-pindah/ menempel di tembok-tembok/ dicabut/ terbuang/ kami rumput/butuh tanah. Orang kampung dalam puisi Thukul, seperti orang-orang kampung Bantaran Kali Ciliwung yang ditulis antropolog Roanne van Voorst dengan sangat menarik, menggugah, sekaligus menggugat, adalah bagian dari satu perkembangan kota (urban slum) di Indonesia. Dalam kompleksitas perkembangan ekonomi-politik di Indonesia sejak merdeka, mereka menjadi makhluk rumput bahkan tikus yang...

Selengkapnya →

Seabad Kongres Kebudayaan Jawa

Di Dalem Joyokusuma, Baluwarti, Solo, 14 Juli 2018, puluhan orang berkumpul dalam suasana tenang berhawa sejuk. Pohon-pohon besar seperti sedang menaungi keinginan orangorang mengenang sejarah di Solo (Surakarta). Diskusi yang diselenggarakan lembaga Concent (Solo) dan Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bertema Merunut Sejarah Komunitas di Surakarta itu terasa lambat bergerak sampai ke penjelasan dan argumentasi. Foto-foto di pameran masih membisu, pelit cerita dan keterangan. Pendapa itu menanti pengucapan sejarah dengan ribuan kalimat, memungkinkan...

Selengkapnya →

Merekam Kali Pepe : Transit di Pringgondani

Melintasi Kali Pepe dikawasan ini akan bersinggungan dengan dua kampung, yakni kampung Pringgading di sebelah utara dan kampung Kusumodiningratan di sebelah selatan. Berbagai jenis sampah terlihat area yang panjangnya kurang lebih 250 meter dengan lebar 9 meter, mulai dari sampah-sampah plastik rumah tangga seperti bungkus detergen, shampo, dan masih banyak lagi. Selain sampah plastik, terdapat juga sampah botol-botol seperti botol kecap dan softdrink hingga yang paling parah terdapat pula kasur yang dibuang ke Kali Pepe. Kantong-kantong sampah banyak menumpuk di bawah jembatan belakang...

Selengkapnya →

Merekam Kali Pepe : Bersua Warga Ngebrusan

Kali Pepe di seberang jembatan setelah monumen Ponten, yang melalui sepanjang jalan Kalimantan, dimana batas akhir segmen ditandai pula dengan keberadaan sebuah jembatan yang melintang di ujung jalan Kalimantan. Kondisi Kali Pepe di area ini pada musim kemarau terlihat menyedihkan. Sampah-sampah menumpuk menyumbat aliran Kali, ditambah sedimentasi yang menggunung dan lebar semakin menghalangi air mengalir. Hasilnya sampah dan endapan air menimbulkan sarang nyamuk dan bau menyengat. Kali pada area ini melintasi empat kampung, dari sisi sejajar dengan letak monumen Ponten di seberang jembatan...

Selengkapnya →

Merekam Kali Pepe : Selepas Hotel-Kota

Kondisi Kali Pepe diarea ini masuk kawasan yang relatif sudah tertata rapi, hanya ada beberapa bangunan yang berada di sepadan Kali Pepe. Tepatnya 100 meter setelah hotel Pose In sudah mulai beralih fungsi sepadan Kali yang digunakan oleh warga untuk mendirikan bangunan.  Rumah warga tertata rapi disamping badan jalan, dari sepanjang hotel Pose In hingga monumen Ponten ini terbelah menjadi dua kampung. Di sisi kanan ada kampung Ketelan, sedangkan di sisi kiri ada kampung Kestalan. Dengan adanya hotel Pose di sisi timur Kali, membuat Kali Pepe terlihat berbeda dibandingkan daerah...

Selengkapnya →