Narasi

Menghanyutkan Kenangan

Belum lama ini diriku berkesempatan melakukan observasi di Gunungkidul untuk riset pribadi. Pagi hari aku diajak teman untuk menemani anak-anak SD jalan-jalan keliling desa. Musim kemarau, sejauh mata memandang hanya ada batu dan pohon yang meranggas, didukung alam Gunungkidul yang memang demikian.   Aku melihat rombongan di depan sedang berhenti di jembatan desa. Karena penasaran aku ikut nimbrung di keramaian. Seorang anak menangis karena botolnya jatuh ke sungai karena disenggol temannya. Ibu guru mengomeli karena jengkel peringatannya tidak...

Selengkapnya →

Konferensi dan Festival Sungai Asia : Ihtiar Merajut Kebersamaan

Bertempat  di  Hotel  Pesonna  kota  Pekalongan,  menghadiri Undangan  Konfrensi dan Festival Sungai Asia  dari tanggal 8 – 10  November  2018.  Dihadiri  345  peserta  dari  70an komunitas  pecinta  sungai  dan  alam  se  Indonesia.    Dari beragam  usia,  pendidikan,  latar  budaya  dari  Aceh, Banten, Medan, ...

Selengkapnya →

FISIP UNS : Srawung Kampung-Kota 2

FISIP UNS. Potret suatu daerah dapat menggambarkan bagaimana  peran warga dalam keikutsertaannya  didaerah tersebut. Partisipasi aktif  warga akan berkorelasi positif terhadap perubahan menjadi lebih baik. Beberapa contoh didalamnya adalah peran warga didaerah Semanggi dan Kampung Sewu bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia Cabang Surakarta lewat aktivitas Siaga Bencana (SIBAT) dalam mengantisipasi  bahaya banjir yang acap kali muncul saat musim penghujan. Contoh lain adalah peran warga di sekitar Kali Winongo lewat pendampingan dari Komunitas FKWA...

Selengkapnya →

Berita : Srawung Kampung-Kota 2

KBRN Surakarta. Dua dekade lebih, narasi ke-Indonesiaan mengalami banyak perubahan yang bersifat fundamental lewat arus desentralisasi dan demokratisasi. Demikian disampaikan Sosiolog dan penggagas  Srawung Kampung Kota Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret FISIP UNS Surakarta, Akhmad Ramdhon kepada RRI hari ini (Rabu 17/10/2018)  di kampus setempat.   Dikatakan, realitas saat ini kampung yang ada, tetaplah potret  gelap dari ruang yang tumbuh terlalu cepat dan melaju hingga tak terjangkau warganya, relasi...

Selengkapnya →

Orang-orang Bantaran Kali Ciliwung

Pada tahun 1988, Wiji Thukul menulis satu sajak kritik-deskriptif berjudul Nyanyian Akar Rumput: mendirikan kampung/ digusur/ kami pindah-pindah/ menempel di tembok-tembok/ dicabut/ terbuang/ kami rumput/butuh tanah. Orang kampung dalam puisi Thukul, seperti orang-orang kampung Bantaran Kali Ciliwung yang ditulis antropolog Roanne van Voorst dengan sangat menarik, menggugah, sekaligus menggugat, adalah bagian dari satu perkembangan kota (urban slum) di Indonesia. Dalam kompleksitas perkembangan ekonomi-politik di Indonesia sejak merdeka, mereka menjadi makhluk rumput bahkan tikus yang...

Selengkapnya →