Kategori » Kota

Masyarakat dan Kebudayaan Indisch di Surakarta 1871-1940

Masyarakat Indisch Surakarta (selanjutnya disebut masyarakat Surakarta) pada paruh kedua abad XIX hingga paruh pertama abad XX merupakan bentuk masyarakat majemuk yang muncul sebagai produk kultural dan politik dari praktik kolonialisme abad XIX dan awal abad XX di Indonesia. Bentuk masyarakat... Selengkapnya →

Pertahankan Rumah dan Pekarangan

Prolog: Ruang bagi manusia sangat dibutuhkan pada wilayah kota, manusia bisa bergerak sesuka hatinya dengan memiliki akses kemana arah yang akan dituju, ketika sesama manusia menanyakan beragam kepentingan ruang untuk alasan tempat tinggal, usaha, peribadatan, bermain, proses pembelajaran, atau... Selengkapnya →

Kota-kota Beraksara

Buku tak hanya merekam gerak kota, namun juga berkembang dalam kultur kota. Kita ingat, kota tertua di dunia adalah Kota Jbail di Libanon. Kota ini mempunyai nama lain yang sangat khas: Byblos, dalam bahasa Yunani, yang berarti buku. Pada masa kejayaan kebudayaan (filsafat) Yunani, Byblos sudah... Selengkapnya →

Solo, Keroncong dan Kenangan #2

Keroncong Setelah kemerdekaan (Periodisasi 1945-1950-a). Perkembangan musik pada penghujung tahun 1945 menghadapi dua hal yang penting dalam perkembangannya. Hal yang pertama adalah lepasnya tekanan terhadap dunia hiburan pada umumnya dan dunia musik pada khususnya, yang selama masa pendudukan... Selengkapnya →

Solo, Keroncong dan Kenangan #1

Perkembangan keroncong sebelum kemerdekaan, Keroncong Pada Masa Kolonial Belanda (1920-1942). Perkembangan musik keroncong di Surakarta mendapat tempat yang Istimewa dan semakin kuat citra Surakarta menguasai keroncong Indonesia (Japi Tambayong, 1992:307). Awal kemunculan musik keroncong berkembang... Selengkapnya →

16th : Merayakan Kebersamaan

9 Februari 2016: terasa istimewa, sebab Pasoepati telah memasuki setidaknya 16 tahun perjalanan menjadi salah satu kelompok suporter. Ada banyak alasan untuk mensyukuri semua perjalanan yang ada dan telah dilalui, oleh setiap kita yang menggemari bola, mencintai dan mendukung klub di kota... Selengkapnya →

Dari Kampung Memandang Kota

Tatkala menjelajah halaman demi halaman buku ini, senandung lirih Silampukau remang terngiang: Mentari tinggal terik bara tanpa janji. Kota tumbuh kian asing, kian tak peduli. Dan kita tersisih, di dunia yang ngeri dan tak terpahami ini. Silampukau melalui Balada Harian dan Akhmad Ramdhon... Selengkapnya →

Sastra dan Narasi Kampung

Oleh Widyanuari Eko Putra   Manusia urban menempatkan kampung sebagai tempat berpulang. Di kampung, orang-orang beristirahat, ber nostalgia, dan mengurai segala kepenatan. Sejauh apa pun kita menjelajahi waktu di perantauan, kampung (halaman) tetap merangsang kerinduan. Kota... Selengkapnya →