Kategori » Kampung

Solo, Kota Federasi Kampung-Kampung

Solo, sebagai kota, telah berumur 273 tahun. Dihitung dari dipindahkannya ibu kota kerajaan Mataram Islam dari Kartasura ke desa Solo. Desa Solo adalah satu di antara banyak desa di tepi-tepi aliran sungai yang menggurita di tanah lembah Bengawan Solo ini. Desa-desa ini, sejak Solo menjadi... Selengkapnya →

Kali Ilang Kedhunge

/1/ Tiap kali musim hujan, aku teringat seorang tokoh bernama Ki Wiron Lumut. Dia adalah seorang pertapa-pemikir ekologis di tanah Sala. Dia meninggalkan Kidul Tanggul, desanya yang sering terkena banjir tiap musim hujan. Ki Wiron Lumut memutuskan pergi ke Brang Wetan, untuk bersemedi ekologis,... Selengkapnya →

Merekam Kali Pepe : Sowan Sesepuh Kandang Doro

Bagian Kali Pepe dimulai Jembatan Pose In atau tepatnya dari kampung Srambatan RT 01/RW 01 sampai dengan kampung Gumunggung Gilingan, mudah dijelaskan bahwa pada musim kemarau memperjelas keadaan Kali Pepe yang sesungguhnya. Apalagi saat ini bendung karet Tirtonadi ditutup sehingga Kali menjadi... Selengkapnya →

Merekam Kali Pepe : Bersua Stasiun Balapan

Berikutnya, selepas menyusuri Kali Pepe di mulai daerah belakang Terminal Tirtonadi yang merupakan hulu Kali Pepe sampai dengan daerah Stasiun Balapan tepatnya sampai jembatan depan Pose In Hotel. Sedangkan perjalanan berikutnya dari jembatan kedua setelah Rumah Sakit Brayat Minulya dan berakhir... Selengkapnya →

Merekam Kali Pepe : Berjalan Dari Terminal Tirtonadi

Kali Pepe merupakan anak sungai dari Bengawan Solo yang membentang di sebelah utara kota membelah kota Surakarta dari daerah terminal Gilingan sampai pintu air di daerah Sangkrah. Kali Pepe melewati beberapa Kelurahan diantaranya Kelurahan Gilingan, Manahan, Kestalan, Mangkubumen, Kepatihan,... Selengkapnya →

Agar Keningar Tak Menjadi Kenangan

Mata Warto berkaca-kaca ketika menceritakan kampung halamannya, Desa Keningar. Perjuangan beratnya bersama warga kampung lain untuk menghentikan pertambangan batu dan pasir, mengoyak emosinya. Desa kami tak layak lagi ditambang, kata pria kelahiran 1969 ini, Minggu 10 September 2017. Warto... Selengkapnya →

Mendata Cinta dan Luka

Ketika pertama kali membaca draft buku ini, aku belum bisa membayangkan seperti apa Keningar. Tetapi kemudian, untuk keperluan editing kumpulan tulisan ini akhirnya aku berkesempatan mengunjunginya pada akhir Februari 2017. Si Cantik Keningar, begitu akhirnya aku menyebut desa kecil itu.... Selengkapnya →

Setiap Penggal Narasi adalah Mantra

Setiap kita bermula dari narasi-narasi yang jamak. Kisah-kisah Asmat hari ini adalah penggalan-penggalan yang tak terpisahkan dari tonggak kebudayaan yang telah tertanam sebelumnya. Dan setiap tonggak baru yang hadir akan membentuk narasi baru pula, begitu seterusnya. Sebab proses perubahan... Selengkapnya →