Warta: Merekam Denyut Kampung Di Kota Solo

Solopos, 4/5/2014

Perkembangan sebuah kota yang begitu pesat bisa membawa warganya mengalami peningkatan kesejahteraan ekonomi. Di sisi lain dampak negatif juga bisa muncul seperti perubahan kehidupan sosial, perilaku, dan ditinggalkannya budaya atau adat istiadat. Padahal bisa jadi sebuah kampung memiliki beragam cerita kehidupan. Bahkan bisa jadi menjadi bagian dari sejarah dari perkembangan sebuah wilayah yang jika tak didokumentasikan kisah sejarah itu akan sirna. Beruntung di Kota Solo ada sebuah komunitas yang terus berkarya dengan mendokumentasikan wajah kampung-kampung yang ada di Kota Solo. Kampungnesia adalah nama komunitas itu, yang dosen sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, memiliki dedikasi mendokumentasikan kampung-kampung yang ada di Kota Solo.

Ramdhon menjelaskan Kota Solo berkembang terlalu cepat menjadi sebuah kota metropolitan yang ditandai banyaknya pusat perbelanjaan, hotel-hotel, dan apartemen yang dengan cepat mengubah wajah Kota Bengawan. “Sementara lingkungan kampung di sekitar gedung-gedung penanda kemajuan kota itu ada sebagian yang ikut berubah namun ada yang tetap sama dengan kesederhanaannya. Karena itu, sebelum semuanya berubah dan menghilang, kita ingin mendokumentasikannya,” terang dia kepada Espos, belum lama ini. Ramdhon dan pendamping lainnya, Kusumaningdyah N.H., melakukan aktivitas bersama para mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UNS serta mahasiswa teknik perencanaan kota dan wilayah. Tidak hanya itu, menurut Mentari Adhika, anggota komunitas sekaligus pengelola situs www.kampungnesia.org, aktivitas komunitas tersebut juga menggandeng Pokdarwis (kelompok sadar wisata) dan anak-anak muda di kampung setempat. “Sehingga ketika kita masuk ke sebuah kampung yang akan kita dokumentasikan, prosesnya menjadi lebih mudah. Pengumpulan data mengenai budaya, kehidupan sosial,bangunan bersejarah dan kegiatan warganya menjadi lebih terbantu dan fokus,” jelas Mentari kepada Espos, belum lama ini. (Arif Fajar)

 

Belajar Dari Kerusuhan Mei 98

Kampungnesia, komunitas yang mendokumentasikan kampung di Kota Solo dengan foto, sketsa, peta dan video yang dirangkai menjadi sebuah dokumen akademik, terbentuk karena keprihatinan terhadap kesenjangan sosial. “Kita belajar pada sejarah kerusuhan Mei yang menghancurkan segi kehidupan sosial ekonomi Kota Solo,” terang pendamping dan pembina komunitas Kampungnesia, Akhmad Ramdhon kepada Espos, belum lama ini. Dari kejadian itu, tampak bahwa adanya kesenjangan kehidupan sosial di tingkat masyarakat akibat perkembangan kota menimbulkan tindakan-tindakan perusakan dan penjarahan. “Kota yang tumbuh terlalu cepat risikonya rentan konflik,” papar dia. Karena itu, lanjut dia, pihaknya ingin mendokumentasikan kampungkampung yang ada sekaligus memberi pembelajaran kepada masyarakat, sehingga kampung dan kota bisa tumbuh bersama. “Sehingga ketika Kota Solo berkembang dengan cepat, maka kampung kampung di sekitarnya pun bisa mengikutinya tanpa harus merasa ketinggalan, yang kemudian menimbulkan perbedaan jenjang sosial, budaya,” tuturnya. Melalui dokumentasi generasi muda pun tahu perkembangan kampungnya atau lingkungan tempat tinggalnya. Maka sejak tiga tahun lalu, dibentuklah komunitas yang mendokumentasikan kampung-kampung di Kota Solo. “Saat ini sudah ada tiga buku yang mendokumentasikan 23 kampung di Kota Solo,” jelas Ramdhon. Dijelaskannya, titik awal terbentuknya komunitas ini adalah proyek dokumentasi kampung yang dilakukan mahasiswa, dimana narasumbernya adalah mahasiswa yang tinggal di kampungkampung tersebut. Kini selain situs www.kampungnesia.org, ada juga fanpage kampungnesia dan twitter:@kampungnesia yang bisa dikunjungi.

Kampung-kampung yang sudah didokumentasikan dalam buku antara lain Kampung Jetis, Kadipiro; Kampung Gremet, Manahan; Kampung Jogopanjaran, Purwodiningratan; Kampung Kratonan, Kratonan; Kampung Sangkrah, Sangkrah; Kampung Suromulyo, Balurwati; Kampung Kepatihan, Kepatihan; Kampung Kestalan, Kestalan; Kampung Lor Pasar, Pajang; Kampung Mangkubumen, Mangkubumen; dan Kampung Margorejo, Banjarsari. (Arif Fajar)

 

Mengetahui  Jejak dan Perkembangan Kampung

Dokumen kampung-kampung di Kota Solo yang telah digarap Kampungnesia dan dibukukan serta diunggah di website sangat bermanfaat bagi generasi muda dan masyarakat. Mereka yang semula tidak tahu, ada apa dan bagaimana perkembangan sebuah kampung, kini mengerti dengan membaca buku dan membuka situs www.kampungnesia.org. “Rencana tahun ini kita akan mendokumentasikan dalam bentuk video,” terang pembina komunitas Kampungnesia, Akhmad Ramdhon didampingi Taufan Bara, penanggung jawab kreatif video komunitas kepada Espos, belum lama ini. Adanya dokumen tersebut, dirasakan betul Hafizah Jasmien dan Lia Sparingga, dua mahasiswa UNS yang bergabung dalam komunitas Kampungnesia. “Kita tidak hanya tahu fisik bangunan namun ada aspek sosial, bagaimana kehidupan masyarakatnya. Pembangunan fisik bisa mengubah interaksi masyarakat di sekitarnya. Contoh keberadaan mal dan apartemen Paragon,” papar Lia. Hal ini juga dirasakan Zsa Zsa yang mengaku jarang keluar rumah. Namun sejak ikut komunitas jadi tahu bagaimana perkembangan kampung-kampung di Kota Solo. Yang jelas ada harapan, bahwa proses pendokumentasian dari komunitas yang bermarkas di Laboratorium Sosiologi FISIP UNS Solo ini tidak berhenti, tapi terus berkembang dengan segala bentuk pendokumentasian. “Ada pihak yang siap mem bantu dalam proses pendokumentasian. Respon dari pihak kampung juga bagus, termasuk Kelurahan dan Pemkot Solo,” terang Ramdhon. Tidak hanya itu, Kampungnesia berharap dengan melibatkan pemuda kampung nantinya mereka akan mandiri membuat cerita dan dokumen dari kampungnya. Sehingga bisa menjadi acuan dan bentuk pengetahuan bagi orang lain. “Rencananya, video yang kita buat dari kampung satu akan kita putar di kampung lainnya. Jadi warga kampung lain tahu kehidupan kampung lain melalui dokumen tersebut,” ujarnya. (Arif Fajar S./JIBI)

 

Sumber: Solopos, 4 Mei 2014

 

Berita Terkait