Suromulyo = Suronatan + Sasonomulyo

Suromulyo merupakan gabungan dari Kampung Suronatan dan Kampung Sasonomulyo. Singkatan nama ini dibuat baru akhir-akhir ini, saat kepengurusan RT yang sekarang. Hal ini dilakukan hanya untuk mempermudah penyebutan nama kampung saja. Karena sebenarnya Suronatan dan Sasonomulyo adalah 2 kampung yang masih dalam lingkup 1 RT. Keadaan ini sudah ada sejak dulu, sejak dibentuknya Kampung Suronatan dan Sasonomulyo oleh Keraton. Penduduk kampung Suromulyo dulunya adalah abdi dalem. Meski sebagian bisa dikatakan tidak bekerja di Keraton pun banyak yang tinggal di kampung Suronatan dan Sasonomulyo. Selain itu, banyak pendatang baru di kampung itu.

Pendatang yang tidak memiliki kenalan warga kampung yang telah tinggal terlebih dulu tidak dapat menempati rumah yang ada di kawasan dalam Keraton, termasuk Kampung Suromulyo. Bahkan pendatang yang sudah memiki kenalan tetap harus ijin pada Keraton. Hal ini dilakukan karena tanah di Kampung Suromulyo dan kampung-kampung lain yang berada di dalam beteng masih milik Keraton Surakarta. Jadi warga kampung hanya dapat membangun rumah atau bangunan di atas tanah milik Keraton tetapi tidak bisa memiliki tanah tersebut, sehingga warga masih tetap membayar PBB pada Keraton. Namun tidak terlau memberatkan karena hanya 10 ribu/tahun. Bangunan di kampung Suromulyo ini jarang direnovasi, karena ijin untuk renovasi di Kampung Suromulyo memang agak sulit. Pihak Keraton membatasi pembangunan dan perbaikan bangunan di Kampung Suromulyo karena kampung ini letaknya paling dekat dengan Keraton, alangkah baiknya jika bangunan yang ada masih terjaga keasliannya. Selain itu juga agar tidak merusak bangunan peninggalan  Belanda yang ada di dalam kampung ini.

Nama Suronatan itu sendiri memiliki banyak versi. Versi pertama, menurut Pak Sis yang sudah lama menjabat sebagai ketua RW 02, “Nama Suronatan itu marga ana masjid, masjid kan boso Jowo ne suro”. Sedangkan menurut Mbah Darmini, yang sudah tinggal sejak kecil untuk membantu ibunya berjualan di depan Keraton hingga beliau sendiri yang berjualan dan sekarang digantikan oleh anaknya yang berjualan di kawasan warung yang ada di Kampung Suronatan, nama Suronatan adalah nama yang diberikan oleh Keraton sejak dibentuknya kampung ini. Dulunya, Suronatan adalah tempat parkir untuk abdi dalem Keraton. Jadi mereka menitipkan sepeda di samping Masjid Paromosono sebelum masuk ke dalam Keraton. Namun karena telah dibangun permukiman warga kampung, maka sudah jarang abdi dalem yang menitipkan sepedanya. Namun di tempat ini masih menyisihkan ruangan untuk parkir sepeda tetapi bukan untuk sepeda abdi dalem melainkan sepeda warga kampung yang memiliki rumah di situ.  Di sini juga ada Pabrik Batik Tulis yang sangat berjaya saat masa pemerintahan Raja Keraton yang ke-10. Namun, sekarang yang tertinggal hanyalah bangunan besar yang tidak terawat.

Sedangkan nama Kampung Sasonomulyo berasal dari Pendopo yang ada di situ. Sasonomulyo dalam bahasa Indonesia berarti ‘tempat yang dimuliakan’. Hanya pendopo yang ada di Kampung Sasonomulyo saja yang digunakan untuk acara-acara penting Keraton seperti ngunduh mantu anak maupun cucu keturunan raja Keraton. Di dalam Kampung Suromulyo masih terdapat tembok tinggi yang sebenarnya memisahkan antara Kampung Suronatan dan Kampung Sasonomulyo. Tapi sekarang tembok tinggi ini dijebol untuk menghindari banjir pada tahun 1966 yang melanda Kota Surakarta, termasuk di Kampung Suronatan dan Sasonomulyo. Dan sekarang bekas tembok yang dijebol ini  menjadi jalan pintas warga kampung.

Lokasi kampung yang berada di sekitar Pendopo Sasonomulyo (pendopo yang sering dipakai untuk kegiatan upacara orang dalam Keraton) serta masjid Paromosono (salah satu pusat religi yang dimiliki Keraton) menjadikan Suromulyo sebagai tempat yang mendapat apresiasi lebih dari pihak kraton. Agenda Keraton sering diadakan di sana. Hal ini menjadi pengabdian tersendiri bagi warga di sana ketika Keraton mengadakan acara. Mereka membantu dengan sepenuh hati. Sebagian dari pekerjaan mereka (sekitar 30% dari KK) adalah seorang abdi dalem. Bagi mereka diberikan tempat tinggal sudah merupakan wujud kasih sayang Keraton untuk mereka, apalagi ditambah keberadaan dua tempat penting tadi serta pinjaman gamelan yang bisa digunakan kapan saja menjadi nilai lebih yang diberikan Keraton bagi mereka.

Luas kampung Suromulyo kurang lebih 40.000m2 yang hampir separuh luasnya digunakan untuk bangunan serta dihuni sekitar 55 KK (sebenarnya 70 KK namun sisanya tinggal di luar Baluwarti). Dengan tiap KK-nya sekitar 4-9 orang, pastilah menyimpan segudang kepenatan di dalamnya setelah beraktivitas seharian untuk menyambung hidup, baik kepenatan fisik maupun batin. Sore hari terkadang menjadi waktu tersendiri untuk melepas kepenatan tersebut walaupun hanya sekedar ngobrol, mengasuh anak yang sedang bermain bola ataupun bersepeda di dekat pendopo Sasonomulyo bagi ibu-ibu, dan nongkrong di warung makan Bu Ambar maupun toko klontong Bu Sri untuk sekedar ngopi dan ngerokok bagi bapak-bapak. Saat-saat seperti itulah yang menjadi waktu intensif bagi mereka untuk saling mengungkapkan masalah, membicarakan peristiwa kampung, bercanda dan bergosip.

Interaksi sosial kampung Suromulyo sangat erat ditunjukkan dengan adanya berbagai kegiatan sosial yang ada di sana berupa pertemuan warga, PKK, dll. yang diadakan secara rutin di pendopo Sasonomulyo. Warga di sana sangat aktif sekali mengikuti kegiatan tersebut. Pertemuan PKK dilakukan sebulan sekali pada tanggal 15 oleh ibu-ibu RT 01 (warga kampung Suronatan dan Kampung Sasonomulyo). Di dalam PKK ini terdapat iuran kas, simpan pinjam yang rutin diadakan. Sedangkan pertemuan warga merupakan pertemuan seluruh warga Suromulyo baik laki-laki maupun perempuan. Namun dikarenakan pertemuan ini banyak dihadiri oleh bapak-bapak maka warga menyebut pertemuan ini dengan pertemuan bapak-bapak. Pertemuan ini diadakan tanggal 10 di tiap bulannya. Dalam pertemuan ini warga membahas mengenai kampung mereka, memberikan saran serta masukan untuk ke depannya. Selain itu di pertemuan ini rutin diadakan pengumpulan uang iuran kas serta arisan bapak-bapak.

Karang taruna merupakan perkumpulan pemuda pemudi yang ada di Suromulyo untuk membahas kegiatan kampung yang melibatkan pemuda Suromulyo. Namun karang taruna di sini kurang begitu aktif, hanya bergerak ketika akan ada kegiatan saja. Semisal kampung akan memeringati 17 Agustus, maka ketua karang taruna mengikuti rapat atau pertemuan warga untuk membahas kegiatan seperti lomba dan sebagainya. Untuk kemudian dibahas lebih lanjut bersama anggota karang taruna sebagai panitia lomba.

Selain diwujudkan dengan keaktifan warga dalam menghadiri kegiatan sosial tersebut, warga Suromulyo juga masih aktif dalam mengikuti kegiatan kerja bakti untuk membersihkan kampung, walaupun untuk jadwal rutin belum ada dan biasanya mereka melakukan kerja bakti hanya ketika ada himbauan dari kelurahan atau dari pihak Pemkot Surakarta. Meskipun Suromulyo terdiri dari 2 kampung yaitu Suronatan dan Sasonomulyo namun kohesi sosialnya begitu kuat dikarenakan kedua kampung ini masih dalam lingkup 1 RT. Kegiatan keagamaan merupakan salah satu kegiatan penting di kampung, warga Suromulyo juga sering berbaur dalam kegiatan tersebut seperti kegiatan saat bulan Ramadhan. Mereka secara bergantian memberikan takjil dan buka bersama di masjid Paromosono. Lalu ketika Idhul Adha warga bersama sama menyembelih hewan kurban dan kemudian membagikannya kepada warga sekitar yang berhak serta membutuhkan.

Kegiatan ekonomi warga kampung Suromulyo cukup beragam, sebagian besar warganya bekerja sebagai Abdi Dalem Keraton, baik abdi dalem yang bekerja setiap hari maupun yang hanya bekerja saat-saat tertentu. Sebagian lagi, warga bekerja dengan berbagai macam pekerjaan di luar kaitannya dengan Keraton antara lain pegawai negeri, pegawai swasta, wirausaha (berdagang). Warga yang berwirausaha dengan warung makan dan kelontong di sekitar Keraton terlebih dahulu harus memeroleh izin dari Keraton sebelum menjalankan usahanya tersebut.

Kegiatan ekonomi warga tidak hanya kegiatan ekonomi perorangan yang berjalan, namun kegiatan ekonomi sebagai satu kesatuan wilayah juga berjalan dengan sangat baik. Kegiatan-kegiatan tersebut di antaranya pemanfaatan fasilitas kamar mandi umum yang berada di dekat masjid Paromosono sebagai komersialisasi untuk aktivitas wisatawan. Dengan pemanfaatan ini setidaknya Suromulyo memiliki pemasukan rata-rata Rp. 200.000 per bulannya pada hari-hari biasa serta mencapai rata-rata Rp. 700.000 per bulannya ketika ada event-event di sekitar Keraton seperti Suro, Jumenengan, Sekaten dll. Adanya event-event seperti ini juga dimanfaatkan warga Suromulyo untuk membuka lahan parkir, baik untuk motor (di sekitar masjid Paromosono) maupun mobil (di sekitar pendopo Sasonomulyo). Iuran wajib warga juga rutin dilakukan besarnya biaya pun bervariasi. Semua hasil tersebut akan masuk ke kas RT dan dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan kampung.

Pemerintah Indonesia berhasil menempatkan peranan perempuan sebagai hal yang penting dalam pembangunan. Kenyataan ini dapat dilihat dalam wacana pembangunan yang menjelaskan peranan khas perempuan, dengan menekankan perempuan sebagai ibu dan istri. Perempuan Indonesia tidak terkecuali perempuan di Suromulyo adalah warga negara yang secara otomatis menjadi organisasi paling besar di negeri ini, yakni PKK dengan aneka pertemuan dasawisma, arisan, tabungan simpan pinjam dll. yang menjadi rutinitas bulanan. Di Suromulyo sendiri aktivitas simpan pinjam merupakan program unggulan yang sudah sangat sukses di wilayah ini. Koperasi yang walaupun belum berbadan hukum ini bisa melakukan peminjaman kepada anggotanya hingga sebesar 10 juta. Pengelolaan sumberdana sendiri berasal dari iuran arisan ibu-ibu di Suromulyo sekitar Rp 5.000 hingga Rp 15.000 tiap bulannya serta uang tabungan pribadi.

Dari hasil tersebut serta potongan kegiatan simpan pinjam maka koperasi di Suromulyo bisa kokoh berdiri. Perputaran uang pun selalu terjadi sehingga modal di sini selalu tumbuh. Tiap Januari maupun mendekati hari raya Idhul Fitri pembagian hasil pun selalu dilakukan. Hasil yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup warga serta membantu sekolah anak-anak mereka.

Sejauh ini belum ada masalah dalam menjalankan koperasi simpan pinjam tersebut. Hal ini adalah salah satu alasan mengapa koperasi ini belum berbadan hukum. Mereka hanya bermodalkan kepercayaan terhadap masing masing anggota untuk menjalankan koperasi ini. Itu kenapa anggota koperasi ini hanya berasal dari warga Suromulyo saja dan tidak ada keinginan untuk menambah anggota dari luar Suromulyo karena warga sudah nyaman dengan kondisi seperti ini. Dari kegiatan-kegiatan ekonomi yang berjalan lancar dan rutin tersebut, warga kampung Suromulyo sudah bisa berdiri mandiri, kegiatan demi kegiatan berjalan lancar tanpa masalah berarti dan warga pun merasa nyaman dengan aktivitas rutin yang dijalankan sekarang.

Bagian I:
Alfariani Pratiwi, Muh. Iqbal, Reza Eka P., Riris Rachmawati,                               
Woro Aryatika, Irqas Aditya Herlambang, Gunawan Wibisono

 

Berita Terkait