Surakarta & Memori Kuliner Yang Tak Lekang (1)

Kota Surakarta atau sering dijuluki Kota Solo adalah kota tujuan wisata budaya di Jawa Tengah kental dengan nuansa budaya Jawa yang masih terjaga hingga saat ini. Surakarta sebagai kota peninggalan Kerajaan Mataram, menyimpan kekayaan potensi alam dan budaya baik fisik maupun nonfisik yang mampu mengangkat citra kota khususnya pada bidang pariwisata. Peninggalan-peninggalan ini tidak saja berwujud peninggalan fisik, seperti gedung-gedung, benda-benda pusaka, senjata dan busana, melainkan juga peninggalan non-fisik yang berupa adatistiadat, tradisi, kesenian, hingga upacara religi. Peninggalan-peninggalan ini apabila dikaitkan dengan masalah kepariwisataan, maka secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu objek wisata dan atraksi wisata (Sutirto, 1995:26-27).
 
Kekayaan budaya Kota Surakarta yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam kerangka kepariwisataan adalah kuliner. Kuliner kota yang beragam sejatinya belum sepenuhnya dikemas menjadi salah satu atraksi wisata andalan kota. Padahal jika dilihat dari sisi potensi kuliner yang beragam, Surakarta menyimpan referensi kuliner yang lezat yang tersebar di berbagai titik di seluruh penjuru kota dengan masing-masing kuliner khasnya. Kekayaan kuliner tersebut merupakan sebuah modal besar yang harus dimanfaatkan dalam rangka pengembangan daerah dari sisi kepariwisataan. Perkembangan tren pariwisata dewasa ini yaitu wisata kuliner. Wolf dalam Suriani (2009:12) menjelaskan bahwa “culinary tourism is not prentious forexclusive. Its includes any unique and memorable gastronomic experience, not just restaurant rate four star or better and include both food and all type of beverages”. Pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa wisata kuliner bukan hal yang mewah dan esklusif, dan wisata kuliner menekankan pada pengalaman bukan pada kemewahan dari restoran maupun kelengkapan jenis makanan atau minuman yang tersedia.
 
Surakarta dan Kekayaan Budaya
Sejak Akhir 1960-an, sebagian besar negara-negara sedang berkembang memfokuskan pengembangan ekonomi mereka pada sektor pariwisata. Strategi ini adalah bagian dari upaya mengurangi ketergantungan negara-negara tersebut pada ekspor produk primer yang berbasis pada sumberdaya alam, sehingga sektor pariwisata mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan nasional (Scheyvens, 2011).  Sektor kepariwisataan telah tumbuh menjadi sektor unggulan dengan pertumbuhan tercepat di dunia dan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi. Bahkan sektor pariwisata terbukti mampu memberi kontribusi sebesar 9,5% pada Produk Domestik Bruto (PDB) global (Yahya 2015).  Bahkan negara di wilayah Asia-Pasifik berhasil menempatkan pariwisata sebagai kontributor lebih dari 50% dari total pendapatan nasional (Jeyacheya, 2013; Royle, 2001). Pariwisata juga terbukti pro terhadap perkembangan ekonomi kerakyatan, melalui Community Based Tourism (CBT), pariwisata mampu menjadi pendorong kemajuan perekonomian rakyat di pedesaan, di antaranya: (1) Mampu meningkatkan penghasilan masyarakat; (2) Membuka peluang kerja; (3) Meningkatkan kesempatan berusaha; (4) Meningkatkan kepemilikan dan kontrol masyarakat lokal terhadap pengelolaan sumber daya desa; (5) Meningkatkan pendapatan pemerintah melalui retribusi wisata dan lain sebagainya (Hermawan, 2016). 
 
Desentralisasi  memberikan ruang otonomi daerah yang luas  untuk mengembangkan potensinya di sektor pariwisata . Hal ini mengacu pada UU No. 25 Tahun 2005 yang menegaskan pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat melalui upaya optimalisasi potensi wisata dan kebijakan untuk melestarikan, mengembangkan dan mengapresiasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai jati diri warga kota/kabupaten sekaligus menjadi pijakan wisata di daerah. Kota Surakarta mengimplementasikan komitmen tersebut dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD 2005–2025)  berupa pengembangan kota, spirit untuk mengembalikan kota sebagai kota yang beridentitas budaya (pariwisata) yang menjadi spirit kolektif sehingga mampu menggerakan denyut perdagangan, jasa maupun pendidikan. Skema tersebut terwujud melalui komitemen lahirnya Perda No 3 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Usaha Pariwisata. 
 
Kota Surakarta mempunyai beragam strategi untuk mengembalikan kota yang beridentitas budaya dan pariwisata yang menjadi spirit kolektif. Dengan beragam modal baik sejarah, destinasi, agro hingga spiritualitas yang mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan. Berbagai event wisata dalam berbagai lapis segmen dikreasikan untuk menstimulasi kunjungan wisata : seni, budaya, performance, conference maupun meeting. Revitalisasi asset-asset kota dilakukan dalam rangka repacking-konservasi untuk penguatan stake holder agar menjadi bagian dari kerja kolektif mempromosikan wisata kota. Semua agenda-agenda tersebut bersambut dengan antusiasme warga untuk terlibat secara aktif dalam proses pengembangan pariwisata. Oleh karena itulah dibentuk  Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) melalui Keputusan Walikota Surakarta, No 556/08/1/2011.  Maka keberadaan Pokdarwis menjadi strategis sebagai upaya untuk memberikan ruang partisipatif bagi warga. Berdasarkan rumusan diatas, maka penelitan ini bertujuan untuk menggambarkan proses pemberdayaan Pokdarwis dalam mengembangkan kampung wisata budaya yang berbasis pada pengetahuan local dan sistem informasi di Kelurahan Setabelan Kota Surakarta. Melalui pengembangan desa atau kampung wisata, pariwisata juga terbukti meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat lokal, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, serta memotivasi masyarkat untuk lebih bangga terhadap identitas budayanya (Hermawan, 2016).
 
Pemberdayaan Masyarakat dalam mengembangkan sector pariwisata menjadi strategi dalam rangka mendukung otonomi daerah. Hal ini sejalan dengan  teori pemberdayaan oleh John Friedman menyebutkan bahwa pemberdayaan adalah proses kolaboratif (Friedman, 1992). Proses pemberdayaan menempatkan masyarakat sebagai aktor atau subyek yang kompeten dan mampu menjangkau sumber-sumber dan kesempatan. Masyarakat harus melihat diri mereka sendiri sebagai agen penting yang dapat memperngaruhi perubahan. Masyarakat harus berpartisipasi dalam pemberdayaan mereka sendiri, tujuan, cara dan hasil dirumuskan oleh mereka sendiri karena tingkat kesadaran merupakan kunci dalam pemberdayaan. Pemberdayaan melibatkan akses terhadap sumber-sumber dan kemampuan untuk menggunakannya secara efektif. Sementara itu proses pemberdayaan bersifat dinamis, sinergis, berubah terus, evolutif, sehingga pemberdayaan dicapai melalui struktur-struktur  personal dan pembangunan ekonomi secara pararel.

Kerja pengabdian dilakukan di Kampung Setabelan Kota Surakarta yang sedang berupaya mengembangkan kampung wisata budaya. Dengan menggunakan metode action research (Reason, 1994)  maka penelitian ini dilakukan dengan kerja sama antar individu sebagai anggota dari komunitas untuk mengembangkan cara pemecahan masalah yang progresif. Action research dapat  ditafsirkan sebagai penelitian tindakan, para ahli mengartikan penelitian tindakan sebagai bentuk refleksi diri secara kolektif yang melibatkan serangkaian kegiatan sehari-hari. Action Research ini melibatkan serangkaian kegiatan meliputi (a) membangun akses dan jaringan, (b) Produksi pengetahuan lokal warga  (c) Penyusunan rencana tindak lanjut (d) membangun kesepakatan dan skala priorotas berbasis pengetahuan lokal warga (e) reproduksi pengetahuan dan workshop kampung (f) pemantauan dan evaluasi bersama para pihak. Cohen dan Manion (1980) dalam Mikkelson (2010) mengartikan penelitian tindakan sebagai intervensi skala kecil terhadap tindakan dalam dunia nyata dan pemeriksaan secara cermat terhadap efek dari intervensi tindakan tersebut. Jadi dapat dikatakan bahwa action research sebagai penelitian tindakan yang dilakukan atas dasar telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi oleh masyarakat atau komunitas.
 
Kota Surakarta merupakan kota yang berbasis sejarah tradisi yang panjang. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (1746) menjadi simpul terbangunnya sejarah kota yang melibatkan kolonialisasi di Hindia Belanda. Surakarta tumbuh dalam dinamika modern dengan investasi masa lalu. Proses transisi tersebut berjalan seiring beragam bentuk resistensi-konflik dan menyisakan relasi ekonomi, politik dan budaya yang paradoks. Artefak dan tradisi masa lalu tetap hadir dalam penggalan-penggalan keseharian warga kota yang  juga telah mengadopsi kebudayaan modern, dimana kota bergerak mengikutinya (Setiawan, 2010). Kini, semua catatan sejarah dijadikan modal  bagi pengembangan kota sebagai kota pariwisata, pendidikan dan budaya.
 
Proses pemberdayaan diawali dengan keinginan untuk berkontribusi bagi perubahan kota yang sangat cepat. Kekhawatiran atas perubahan yang terjadi di kota dan meninggalkan warganya dengan situasi yang tak berdaya, memunculkan ide berupa sumbangsih untuk kota dalam mewujudkan kampung wisata budaya. Kesadaran tentang kota yang berubah, lokalitas kampung yang mulai terancam, hingga keinginan untuk menempatkan anak-anak muda beserta lokalitasnya sebagai subyek baru dari pengetahuan dan informasi tentang kota. Ide tersebut kemudian dikoneksikan dengan agenda stakholder lainnya, yaitu Kelompok Sadar Wisata/Pokdarwis yang kelembagaanya terdapat diseluruh Kelurahan di Surakarta termasuk Kelurahan Setabelan. Proses ini memungkinkan koneksi yang lebih intens, dimana anak-anak muda/mahasiswa mempunyai akses ke warga secara langsung lewat fasilitasi Pokdarwis.
 
Setelah terbangun akses dan jaringan, maka proses brainstorming memungkinkan warga memahami lebih baik  agenda yang telah dirancang bersama. Secara bersama-sama warga didorong untuk melakukan produksi pengetahuan tentang sejarah kampung mereka dengan menekankan pada aspek lokalitas dan pengetahuan local warga. Selain itu, menggali potensi, kebutuhan, harapan dan problem kampung juga dilakukan dengan berbasis pada pengetahuan warga dari berbagai struktur sosial maupun kelas sosial. Hal ini dimungkinkan agar pengetahuan yang dihimpun mampu merepresentasikan semua kepentingan yang ada. Dengan difasilitasi oleh anak muda dan Pokdarwis sebagai aktor kunci, maka proses produksi pengetahuan dapat dilakukan lebih natural dan partisipatif.
 
Tahapan dan proses dokumentasi yang dilakukan oleh anak-anak muda, dilakukan secara berkelompok. Dalam prakteknya kelompok-kelompok ini terbagi ke dalam beberapa titik kampung yang sedianya akan didokumentasikan. Prosesi ini sekaligus menginisiasi dua pendekatan akses ke kampung, pendekatan pertama yaitu kampung target berbasis aktor anak muda yang target dan pendekatan kedua yaitu kampung target dengan basis akses  Pokdarwis. Skema tersebut dirancang untuk memastikan proses dan hasil dari dokumentasi tersebut akan kembali ke warga (ownership), sebagai bentuk pengetahuan atas kampungnya masing- masing. Mendokumentasikan kampung diharapkan bisa menjadi menjadi media komunitas (community media) yaitu media yang hadir di dalam lingkungan masyarakat atau komunitas tertentu dan dikelola oleh dan diperuntukkan bagi warga komunitas tertentu (Pawito, 2007).
 
Tahap selanjutnya adalah pembahasan hasil produksi pengetahuan melalui Focus Group Discussion (FGD) secara intensif kepada kelompok-kelompok sosial masyarakat yang relevan dengan topicnya. Melalui FGD, secara bersama-sama dalam relasi yang setara, warga berdiskusi untuk merumuskan rencana tindak lanjut dari proses produksi pengetahuan. Rencana tindak lanjut disusun berdasarkan skala prioritas dengan mempertimbangkan potensi dan kebutuhan warga. Berdasarkan hasil kesepakatan antar warga maka diperoleh beberapa potensi dan kebutuhan kampung terkait dengan ide pengembangan kampung wisata budaya. Potensi yang dimiliki warga berupa potensi kuliner khas kampung yang dikenal luas dan  dimiliki oleh sebagian besar perempuan dalam industry rumah tangga. Potensi lainnya berupa kelompok-kelompok kesenian tradisional baik gamelan pada semua umur maupun jenis kelamin, kelompok tari, kethoprak maupun serta beberapa jenis kerajinan seni yang menjadi ciri khas kota Solo. Sayangnya, beragam potensi tersebut dalam kondisi yang beragam, ada yang masih aktif berjalan, ada yang belum terorganisir dengan baik dan ada pula yang lama tidak aktif. Beragam kondisi potensi wisata tersebut tentu dibutuhkan rancang bangun untuk dikemas dan dikelola kembali menjadi potensi kampung wisata budaya.
 
Jejaring informasi yang telah dibuat, setidaknya mampu menjadi jembatan informasi tentang kampung kota di Surakarta. Distribusi informasi tentang kampung, diharapkan mampu memerankan fungsinya sebagai media komunitas dimana titik berat materinya mengusung beberapa tekanan (Pawito, 2007). Dengan demikian maka proses memberdayaan warga kampung dapat dilakukan secara bertahap dengan berbasis pada lokalitas dan pengetahuan local yang hadir sebagai alternative destinasi wisata di Kota Surakarta. Berbagai event wisata dalam berbagai lapis segmen dikreasikan untuk menstimulasi kunjungan wisata berupa seni, budaya, performance, conference maupun meeting.  Komitmen tersebut mesti ditopang pula dengan kemauan untuk mengembangkan terlebih dahulu fasilitas yang ada, untuk kemudian penguatan stake holder untuk menjadi bagian dari kerja kolektif mempromosikan wisata kota berbasisi warga (community based). Sehingga, efektifitas pembangunan kemudian akan mendapatkan ganjarannya dengan  keberanian daerah untuk melakukan pengembangan daerah, mengelola dan merevitalisasi kembali aset daerah untuk kemudian dijadikan strategi pariwisata. 

Tenongan sebagai  Unggulan Wisata Kuliner
Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan tenongan sudah mulai jarang terlihat. Jikapun ada, tenongan itu sudah banyak dimodifikasi. Salah satunya dibuat dari alumunium agar awet dan mudah dibawa ke mana-mana, tidak gampang rusak. Saat ini tenongan lebih dikenal sebagai jajanan pasar. Jajanan pasar adalah jenis kue-kue tradisional yang biasanya hanya dijual di pasar-pasar seperti klepon, serabi, bolu, kue mangkok yang sering dijumpai di acara sedekahan, kenduri, acara keluarga dll. Jajanan pasar lainnya ada yang disebut dengan istilah lenjongan, terdiri dari beberapa makanan, antara lain gethuk, sawut, klepon, ketan ireng, tiwul. Juga makanan yang cara pembuatannya dikukus dan dibungkus daun pisang seperti (1) meniran atau makanan yang dibuat dari menir atau bulir-bulir beras yang dikukus bersama santan. Rasanya gurih, empuk, lembut, lezat, melted jadi satu. (2) Awuk-awuk sagu mutiara yang dibuat dari sagu mutiara dan dicampur parutan kelapa kemudian dikukus. (3) Nagasari adalah makanan yang dibuat dari tepung beras disisipi irisan pisang. (4) Mendut atau makanan dari tepung dengan santan yang di dalamnya diisi parutan kelapa dicampur gula jawa. (5) Jongkong adalah makanan yang dibuat dari tepung yang di dalamnya diisi gula jawa cair.
Ada beberapa ciri yang menonjol dari jajanan pasar tradisional. Pertama, menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Wadah daun pisang ini masih kita jumpai dan menandakan begitu banyak ragam produk budaya kita yang sangat kreatif dan ramah lingkungan. Budaya tradisi tidak hanya sekedar memiliki nilai filosofi, namun memiliki nilai ilmu pengetahun yang dapat membantu kehidupan sehari-hari (konsep ramah lingkungan). Kedua, harga relatif murah. Dengan harganya ini, jajanan pasar akan tetap diminati masyarakat sehingga permintaan di pasaran pun meningkat. Ketiga, banyak penjual jajanan pasar yang berjualan di pinggir jalan, bahkan boleh dikatakan bertambah. Mereka biasanya membuka lapak di pinggir jalan raya utama atau jalan besar. Keempat, penikmatnya berasal dari semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Kelima, makanan tradisonal dan rasanya pas di lidah sehingga membuat jajanan ini sangat digemari oleh banyak orang dan mungkin bisa menggantikan makanan modern seperti bakery atau cake. Keenam, memiliki peluang bisnis yang masih layak dan berpeluang untuk dijalankan sebagai penghasil uang. Bagaimana kiat sukses memulai bisnis jajanan pasar? Untuk memulainya diperlukan beberapa hal berikut (1) Memiliki keterampilan membuat aneka macam jajanan pasar yang lezat dan memiliki pembeda rasa atau rasanya khas. (2) Memiliki jaringan pemasaran yang luas meliputi toko-toko penjual dan para penjual jajanan pasar serta langganan tetap. (3) Memproduksi hanya jajanan pasar yang laris di pasaran sehingga memungkinkan terjual lebih besar. (4) Memasang harga jajanan pasar yang lebih rendah daripada harga yang ditawarkan para pesaing. (5) Memberikan bonus khusus bagi jaringan pemasaran yang bisa menjual lebih banyak atau sesuai target. (6). Memasarkan jajanan pasar di minimarket dan supermarket apabila sudah cukup berkembang agar target konsumen yang dicapai bisa semakin luas.
Jika bisnis jajanan pasar sudah mulai berjalan, bagaimana mengembangkan bisnis jajanan pasar ini? Pertama-tama, harus mencari tempat lokasi berjualan yang strategis. Kemudian, menggunakan peralatan yang menarik untuk mendukung penjualan. Lalu, membuat inovasi yang bervariasi seperti dari rasa, jenis dan model kue tersebut. Selanjutnya, melakukan promosi misal dengan membuat spanduk yang bisa terbaca oleh masyarakat, membagikan brosur, kartu nama ke tempat keramaian. Perlu diketahui, jajanan pasar ini memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal seperti (1) setiap orang punya hobi 3N, yaitu ngeteh atau minum teh hangat tiap pagi hari atau sore hari. Tapi umumnya dilakukan di pagi hari sebelum makan nasi (khususnya masyarakat di Pulau Jawa). Budaya tersebut kurang lengkap rasanya tanpa kehadiran camilan yang berupa kue-kue basah atau jajanan pasar. Ngopi atau minum kopi setiap pagi atau sore hari. Kemudian ngemil entah itu makanan ringan atau jajanan pasar. Hobi inilah yang menjadi prospek bisnis jajanan pasar. (2) Jajanan pasar biasanya merupakan jajanan yang masih tradional sehingga belum banyak diolah dan dikembangkan menjadi jajanan pasar yang eye catching dan madol (memiliki nilai jual). (3) Bisnis jajanan pasar bisa dilakukan tanpa modal dan tanpa risiko.
 
Bagaimana caranya? Bisnis tenongan dapat dilakukan dengan modal sedikit dan risiko sedikit. Bahkan dapat dilakukan tanpa modal dan tanpa mengikat waktu serta tanpa risiko sama sekali. Peluang-peluang inilah yang bisa dimanfaatkan menjadi sebuah bisnis. Kita tentu berpendapat bukannya repot harus membuat aneka jajanan pasar sendiri dan ada risiko jika tidak laku. Memang benar jika kita membuat sendiri, namun ada cara lain yang lebih mudah dan tanpa risiko yaitu Anda cukup berperan sebagai penjual (reseller) sedangkan jajanan dipasok dari para pengusaha kecil jajanan pasar yang mengadopsi sistem titip. Kita cukup menyediakan tempat dan peralatan. Kunci keberhasilan bisnis ini terletak dari posisi tempat berjualan. Jika strategis artinya tempat ramai orang atau tempat berkumpulnya orang misalnya pasar, perumahan, sekolah, perempatan, dan jumlah pemasok yang mau menitipkan jajanan.
 
Kelebihan bisnis ini adalah tidak memerlukan modal yang besar alias bisnis modal kecil. Peralatannya juga cukup menyediakan meja panjang dan jam operasional cukup singkat yaitu pagi hari antara jam 6 sampai 9 pagi sehingga cocok sekali untuk dijadikan usaha sampingan. Meskipun bisnis jajanan pasar terlihat mudah, namun bukan berarti tanpa tantangan. Mencari lokasi yang ramai pembeli tidaklah mudah. Kita harus bisa meyakinkan pemasok jajanan pasar jika lokasi berjualan cukup potensial sehingga pemasok mau menitipkan jajanan pasar. Ketepatan waktu pemasok mengirimkan jajanan juga menjadi faktor penting. Jika kesiangan tentu menjadi tidak berarti karena waktu jualan hanya sebentar. Selain itu, karena bisnis ini mudah dilakukan oleh siapapun maka setiap pebisnis harus siap menghadapi persaingan.
 
Untuk itu, survei pasar sangat diperlukan karena dengan survei tersebut kita dapat mengetahui jajanan apa yang paling laris dan disukai di pasar. Survei pasar juga dibutuhkan untuk merinci target pasar termasuk mencari dan menemukan supplier jajanan pasar yang mau menjual jajanan pasar. Cara pertama dapat dilakukan, pedagang tenongan membeli makanan-makanan kecil di pasar atau jajanan pasar sesuai modal. Kemudian jajanan pasar yang telah dibeli itu diperjualbelikan kembali untuk memperoleh keuntungan di lingkungan perumahan/perkampungan. Pedagang ini bisa memasarkan dagangan di tempat tertentu dengan sistem sewa, namun ia tetap menunggu dagangan sampai habis.
 
Hanya saja, jika dagangan tidak habis maka jajanan pasar itu menjadi risiko diri sendiri. Dagangan yang masih tersisa itu akan mengurangi keuntungan atau mengurangi modal. Cara kedua, dilakukan tanpa modal dan risiko kecil. Caranya yang bersangkutan cukup mencari lokasi strategis atau yang banyak penduduknya. Ia cukup menggelar meja dan menerima para penjaja makanan yang bersedia menitipkan untuk dijualkan. Jika pembeli atau pelanggan banyak maka sudah dapat dipastikan keuntungan atau rezeki akan mengalir menghampiri si pedagang jajanan pasar ini. Tidak ada resiko, karena dagang seperti ini memang efektif, terutama jika telah memiliki pelanggan tetap dan tentunya didukung oleh rasa yang tidak mengecewakan dan harga yang bersaing dengan penjual lain.
 
Sedangkan cara yang ketiga, adalah cara yang kreatif dan milenial. Si pebisnis cukup menjadi penghubung antara pedagang jajanan pasar dengan para konsumen. Sarana pemasaran dan transaksi cukup melalui viral berakun. Kreativitas diperlukan saat si pebisnis harus mengetahui keinginan konsumen. Harus peka dan mengetahui jajanan pasar yang dipesan adalah dalam rangka ulang tahun, hajatan, maupun kepentingan selamatan lainnya. Bentuk kue-kue jajanan pasar maupun tampilan harus bisa dibedakan seperti halnya kue tart untuk ulang tahun maupun perkawinan. Kepuasan pelanggan adalah yang utama dan harus mendapatkan perhatian khusus. Dengan pedagang jajanan pasar, hubungan kemitraannya harus saling menjaga rasa trust satu sama lain. Dengan terciptanya hubungan dua jalur ini, risiko yang dialami oleh pebisnis jajanan pasar tidak ada sama sekali, dan tanpa modal. Karena pesanan tergantung pada data atau informasi yang dilakukan melalui komputer.
 
Oleh Siti Zunariyah/Sosiologi FISIP UNS
 

Berita Terkait