Sepenggal Sore di Kampung Gremet

Jika dilihat dari keadaan kampung Gremet yang telah banyak terdapat Ruko di sekitar kampung memang sudah bukan tempat yang kondusif lagi untuk dijadikan tempat tinggal. Selain jalan kampung yang menjadi sangat ramai sikap individualitas pada penghuni Ruko pun menjadikan bertetangga tidak lagi nyaman. Bangunan yang terletak di pojok perempatan jalan ini menjadi lokasi yang amat strategis untuk dijadikan tempat usaha. Oleh karena itu tidak sedikit orang yang ingin membeli bangunan ini dengan harga yang tinggi. Di depan bangunan ini juga terdapat sebuah rumah yang dijadikan salon oleh pemiliknya. Namun sepertinya sudah tidak terpakai lagi karena hanya tinggal plang nama salon saja, sudah tidak melanjutkan usaha tersebut.

Di samping-samping bangunan milik keluarga Maida tersebut terdapat 3 Ruko yang kini menjadi kantor Notaries. Dulu ruko-ruko tersebut hanya rumah biasa lalu kemudian dijual dan dibeli oleh seseorang untuk dijadikan ruko. Seperti halnya Ruko di tempat lain pemilik atau yang menempati Ruko tersebut tidak jelas siapa karena kurang ada interaksi dengan tetangga sebelah. Hanya, biasanya ada beberapa karyawan yang terlihat  bekerja di ruko tersebut. Bukan tidak mungkin bangunan milik orang tua Maida yang sekarang dijadikan tempat usaha akan dibeli juga dan dijadikan seperti ruko-ruko yang ada di sebelahnya. Bangunan ini memang agak jauh dari lingkungan kampung karena letaknya yang dipojokan.

Keadaan jalan di depan bangunan ini selalu ramai terlebih ketika jam-jam pulang sekolah ataupun pulang kerja, malahan bila pada malam minggu tempat inilah yang menjadi paling ramai karena berada di perempatan yang lokasinya dapat terjangkau dari mana-mana. Tempat yang biasanya dijadikan tempat tongkrongan oleh anak-anak muda di daerah ini biasanya adalah warung makan yang ada di seberang jalan. Di situ biasa anak remaja di daerah ini berkumpul. Gambar tersebut adalah gambar warung yang ada di seberang bangunan milik keluarga Maida. Warung tersebut tidak pernah sepi jika siang hari. Banyak anak sekolah yang nongkrong di warung itu mereka biasanya akan mulai ramai berkumpul sepulang dari sekolah dan akan mulai berkurang jumlahnya ketika hari mulai sore.

Di daerah ini pun banyak terdapat kos-kosan, baik itu kosan putra maupun putri. Biasanya yang ngekos di daerah ini pun merupakan anak sekolahan. Para warga yang menyewakan kamar pada umumnya dulu kamar tersebut merupakan kamar anak-anak mereka namun seiring berjalannya waktu dan anak mereka sudah tidak tinggal lagi di dalam satu rumah maka kamar tersebut pun disewakan.

“Dulu kamar yang atas itu ya ditempatin anak-anak sendiri. Tapi setelah mereka berumah tangga dan tinggal di luar sana ya jadi saya jadikan kos-kosan aja. Buat nemenin juga. Kalau dulu kan ngurusin anak sendiri sekarang gantian ngurusin anak orang,” kata Bu Sugiyo, sesepuh kampung.

Rumah Bu Sugiyo yang terletak tak jauh dari warung itu juga dijadikan kos-kosan. Ada sekitar 5 kamar yang disewakan Bu Sugiyo. Kosan miliknya ini adalah kosan untuk putra. Karena tinggal hanya berdua dengan sang suami, Bu Sugiyo merasa rumahnya ramai jika ada anak-anak kosnya.       

Sore Hari : Pada sore hari di perempatan ini mulai ramai dengan warga sekitar yang biasanya duduk di bangku semen yang terletak di pinggir-pinggir jalan. Para ibu mengawasi anaknya yang biasa bersepeda di daerah itu atau hanya sekedar duduk santai menikmati sore di depan rumah. Biasanya para warga mulai keluar dari rumah menjelang sore, hanya sekedar duduk atau ngobrol dengan para tetangga. Sore hari pun biasa dijadikan sebagai waktu bertemu para warga karena acara-acara kampung biasanya diadakan pada sore hari, seperti pengajian ibu-ibu dan arisan PKK. Anak-anak kecil pun bersepeda di sepanjang jalan kampung pada sore hari namun terkadang juga menimbulkan kekhawatiran apabila anak-anak bermain sepeda di jalan yang cukup ramai ini. Terkadang ada anak-anak muda yang dengan sengaja kebut-kebutan di daerah tersebut. Karena kerap terjadi kecelakaan di perempatan ini maka warga berinisiatif menaruh tong bekas minyak di tengah-tengahnya agar para pengendara tetap berhati-hati. Jika sore hari warung tempat makan tersebut mulai ramai dengan karyawan yang baru pulang kantor. Mereka akan istirahat sejenak sekedar wedangan atau jajan gorengan.

Sore hari sebagian bapak-bapak berolahraga. Olah raga yang biasa dilakukan adalah ping pong. Terdapat satu set meja ping pong di dalam ruang serbaguna yang biasa dijadikan tempat latihan. Ruangan yang tidak terlalu besar ini merupakan bekas sekolahan dan sekarang dijadikan tempat serbaguna oleh warga. Biasanya bapak-bapak akan mulai bermain ping pong setelah shalat Ashar sekitar pukul 16.00 WIB. Tempat ini pun menjadi tempat warga untuk saling berinteraksi mengenal satu sama lain dan menghabiskan sore bersama. Pak Broto yang menjadi ketua RW di kampung Gremet menjadi pemain pingpong yang sangat rajin. Karena selalu datang beliau mengaku bermain ping pong menjadi hiburannya tersendiri.

Ruangan bekas sekolah ini merupakan satu-satu nya tempat yang bisa dijadikan ruang publik oleh warga kampung karena memang sudah tidak terpakai lagi. Di dalam ruangan ini juga menjadi tempat latihan bagi para pemain keroncong di kampung ini. Di sini terdapat grup keroncong yang dinamakan Gema Tirta Nada. Grup keroncong yang terbentuk pada tahun 1995 ini sebagian besar pemainnya adalah orang tua. Salah satu kesenian yang masih tetap terjaga yaitu keroncong ini. Grup ini kerap mengisi acara di berbagai tempat. Yang terakhir mereka mengisi acara di depan eks-Walikota Surakarta Pak Jokowi. Para pemain musik keroncong mengeluhkan tidak adanya anak muda yang ikut bergabung di dalam grup ini. Mereka mengkhawatirkan akan keberadaan grup Gema Tirta Nada bahwa tidak ada yang akan meneruskan.

Harapan : Kampung Gremet merupakan salah satu kampung kota yang memiliki keunikan tersendiri. Sebagian besar masyarakatnya masih menjaga tradisi. Hal itu perlu dilestarikan apalagi dengan banyaknya pendatang yang mulai mendiami wilayah Gremet. Untung saja penduduk setempat seperti ketua RW mengharuskan warganya untuk tetap melestarikan adat ketika diselenggarakan pernikahan yaitu memasang janur kuning yang melengkung, meskipun ada beberapa penduduk yang sempat menolak untuk melakukannya.

Sebuah kampung biasanya dikenal dengan sifat penduduknya yang ramah tamah, saling menolong, dan menjaga kerukunan antar tetangga. Hal itulah yang diharapkan tetap hidup di kampung Gremet ini karena beberapa waktu ini sempat terdengar bahwa ada beberapa warga kampung yang terpengaruh oleh pendatang dan malah mengabaikan penduduk setempat. Kedekatan antartetangga juga mulai berkurang. Beberapa penyebabnya antara lain: pagar rumah sebagian penduduk mulai mengalami perubahan, mulai meninggi dan terlihat seakan mengisolasi diri dari kehidupan luar rumah. Bermacam pekerjaan yang dimiliki juga mempengaruhi interaksi penduduknya. Sebagai contoh, orang yang memiliki pekerjaan yang mapan cenderung lebih dihormati daripada yang biasa-biasa saja. Bahkan ada beberapa penduduk yang terkesan diabaikan dari pergaulan masyarakat karena memiliki keadaan ekonomi yang lemah.

Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa sebuah kampung haruslah terjaga keramah-tamahannya dan terpelihara kerukunannya di tengah degradasi moral yang tengah melanda kota saat ini. Dengan begitu, kampung akan memiliki ciri khas dan identitas sehingga nyaman dan selalu dirindukan oleh masyarakatnya.

 

Bagian III:
Yurdhi Mahalani F., Larasati, Ibnu Ahmad, Maida Shinta, Yuni Wulan Ndari,
Hanifah Kristiyanti
, Fikri Hadi Pratama, Nur Ibrahim Tikko

 

Berita Terkait