Sangkrah, Kampung (Sebelah) Sungai

Kampung Sangkrah, yang merupakan kampung strategis di mana letak kampung tersebut dikelilingi oleh 4 sungai besar di Surakarta, selain itu dekat dengan pusat perekonomian (Pasar Klewer dan Pusat Grosir Surakarta/PGS), Keraton, dan stasiun kota. Kekhasan kampung itu muncul juga dipengaruhi oleh letak geografis kampung tersebut. Kampung Sangkrah terletak di kelurahan Sangkrah, Surakarta. Gambar di atas merupakan gerbang atau gapura kampung Sangkrah sebelah timur. Secara geografis Sangkrah terletak di antar 4 sungai besar di Surakarta, yaitu Sungai Jenes, Sungai Pepe, Sungai Tegal Konas, dan Sungai Bengawan Surakarta. Selain di kelilingi 4 sungai tersebut Sangkrah juga berbatasan dengan kampung Semanggi, kampung Kedunglumbu, dan kampung Gandekan.

Sangkrah terdiri 13 RW (Rukun Warga) dan 58 RT (Rukun Tetangga). Kampung Sangkrah tersebut terdiri dari 3691 KK (Kepala Keluarga). Dan setiap RT rata-rata terdiri 60 KK dan merupakan perkampungan padat penduduk dengan jumlah KK yang banyak namun lahan yang tersedia sangat sempit. Lahan yang kurang tersebut dengan jumlah KK yang banyak maka Kampung Sangkrah merupakan perkampungan padat penduduk.

Kata Sangkrah menurut beberapa narasumber yang kami temui memiliki arti khusus. Sangkrah merupakan sebutan lain dari angkrah-angkrah (sampah), sampah pating bekakrah (sampah berserakan), sampah ting slengkrah (sampah berserakan). Munculnya istilah-istilah tersebut disebabkan karena letak Sangkrah yang dilintasi empat sungai, yaitu Sungai Jenes, Singai Pepe, Sungai Tegal Konas, dan Sungai Bengawan Surakarta. Dengan dilintasinya empat sungai tersebut sehingga setiap musim penghujan tiba Sangkrah rawan terkena banjir dan banyak sampah yang tersangkut di daerah Sangkrah.

Untuk menggali tentang sejarah Kampung Sangkrah kami mewawancarai beberapa warga dan sesepuh kampung. Menurut cerita dari Bapak Mahendra W., yang merupakan mantan lurah Sangkrah, Sangkrah berasal dari kata angkrah-angkrah (sampah yang hanyut di sungai) atau bekakrah (berserakan). Sangkrah merupakan tempat berhentinya sampah-sampah yang hanyut dari keempat sungai yang mengelilingi Sangkrah yaitu Sungai Jenes, Sungai Pepe, Sungai Tegal Kenes, dan Sungai Bengawan Surakarta saat musim penghujan.

Mitos lain tentang sejarah Sangkrah adalah kisah Raden Pabelan dari Kerajaan Pajang yang menyukai putri Raja Pajang, namun tidak direstui oleh Raja Pajang. Karena saking susah dihentikannya upaya yang dilakukan Raden Pabelan, akhirnya Raden Pabelan tersebut dibunuh oleh Raja Pajang dan mayatnya dibuang di Sungai Bengawan Surakarta. Mayat Raden Pabelan tersebut akhirnya tersangkut di Sangkrah. Mayat itu pun ditemukan oleh warga dan mau dibuang kembali ke sungai namun saat dibuang mayat itu kembali ke Sangkrah lagi. Dengan kejadian itu sesepuh warga yang bermimpi agar mayat tersebut dikuburkan dan dipelihara dengan baik. Mayat tersebut pun dikuburkan di daerah alun-alun Keraton yang sekarang ini berada di belakang PGS.

Dari cerita warga yang kami dengar ada beberapa versi tentang sejarah kampung Sangkrah. Lha yang pertama itu tentang mitos mayat Raden Pabelan yang tersangkut dan tidak mau dibuang sehingga dinamakan Sangkrah. Lha versi yang kedua itu karena setiap musim penghujan banyak sampah yamg tersangkut di pinggiran sungai maka tempat tersebut dinamakan Sangkrah,” ungkap Bapak Mahendra.

Sedangkan menurut cerita dari Bapak Rustamal yang merupakan warga asli Sangkrah, sejarah dari nama Sangkrah adalah banyaknya sampah yang berserakan di pinggiran sungai yang melintasi Sangkrah. Menurut penuturan beliau kampung Sangkrah awal tahun 1960an merupakan suatu kampung yang sepi dan masih banyak wilayah rawa, bahkan pada tahun tersebut Sangkrah belum ada listrik dalam skala besar, namun hanya sebatas sepanjang jalan utama saja. Baru sekitar tahun 1972 listrik masuk ke rumah-rumah warga. Menrurt penuturan beliau Sangkrah mulai padat penduduk sekitar tahun 1976-an karena pada saat itu berhubungan dengan pembangunan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri pada tahun 1976. Dengan adanya pembangunan waduk tersebut banyak warga wilayah sekitar pembangunan Waduk Gajah Mungkur direlokasi ke daerah lain. Sehingga banyak warga dari wilyah pembangunan tersebut yang pindah ke Surakarta dan kebanyakan tinggal di kampung-kampung pinggiran Surakarta. Dan salah satunya adalah Sangkrah. Sekarang ini Sangkrah sebagian besar warganya merupakan wara pendatang dari luar Sangkrah.

“Saya ini di sini sejak lahir, dari cerita orang tua saya di sini itu dinamakan Sangkrah karena setiap datang musim penghujan dipinggiran sungai itu banyak sampah yang berserakan. Sampahnya itu tidak hanya sampah-sampah plastik mbak tapi terkadang itu ada mayat yang hanyut. Dulu di sini itu merupakan perkampungan yang sepi namun karena adanya pembangunan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri tahun 1976. Dan mulai saat itu banyak warga pendatang yang datang dari Wonogiri. Padahal sebelum tahun 1976 itu Sangkrah itu masih sepi, Mbak,” ungkap Bapak Rustamal.

Bisa dibenarkan bahwa nama Sangkrah berasal dari sampah-sampah yang selalu berserakan di keempat sungai di wilayah Sangkrah, karena bukan hanya pada jaman dulu sampah-sampah itu berserakan namun sampai sekarang pun sampah-sampah itu masih saja berserakan. Dan sampah itulah yang merupakan salah satu ciri khas dari Sangkrah. Sampah di sana tidak hanya merupakan suatu masalah tetapi juga bisa menjadi sumber nafkah penghidupan warga Sangkrah. Selain itu salah satu bukti bahwa perkembangan penduduk di Sangkrah berkaitan dengan pembangunan Waduk Gajah Mungkur adalah perpindahan Bapak Narno yang menjabat Rukun Warga di RW 1. Bapak Narno tinggal di Sangkrah mulai tahun 1976. Beliau pindah dari Wonogiri karena adanya pembangungan Waduk Gajah Mungkur dan beliau direlokasi ke Surakarta.

“Saya itu dulu mulai tinggal di sini itu tahun 1976. Itu masalanya kan ada pembangunan waduk dan rumah saya itu digusur. Tapi saya memilih pindah ke Surakarta karena juga pengin ngrubah nasib, mbak. Dulu itu pertama kali saya pindah di sini. Sini itu masih sepi penduduknya itu belum sepadat ini bahkan dulu itu di sini masih banyak tanah yang kosong,” ujar Pak Narno.

Penduduk Sangkrah tergolong penduduk yang heterogen, karena di kampung ini cenderung banyak pendatang, maka asal-usul masyarakat, agama, dan etnisnya berbeda-beda. Bahkan saat ini pun di Sangkrah lebih disominasi warga pendatang karena warga asli Sangkrah pun kebanyaan merantau keluar kota. Sekarang ini penduduk asli pun hanya 30% sedangkan yang 70% adalah warga pendatang. Selain bisa dilihat dari segi agama, dan etnis keberagaman warga Sangkrah juga bisa dilihat dari jenis pekerjaan yang dimiliki warganya. 50% bekerja sebagai karyawan dan sisanya sebagai buruh, ibu rumah tangga, wiraswasta, PNS, pelajar dan warga yang belum bekerja. 

Suasana Sangkrah setiap hariannya selalu ramai karena sebagian besar ibu-ibu di sana merupakan ibu rumah tangga. Setiap siang maupun sore hari mudah ditemui ibu-ibu yang sedang memasak maupun mengobrol di ruang publik Sangkrah (dekat kamar mandi umum dan di depan rumah). Suasana sore hari Sangkrah semakin ramai dengan aktivitas warga dan anak-anak yang sedang bermain, saling tegur sapa, mengobrol satu sama lain. Hal itulah yang merupakan suatu ciri khas dari suatu kampung pinggiran kota. Ditunjang dengan pola rumah mukim warga yang saling berdempetan yang hanya dibatasi tembok dan di setiap RT nya terdapat kamar mandi komunal sebagai sarana MCK warga sehingga kekhasan kehidupan suatu kampung semakin terlihat. Bahkan ada beberpa warga yang memiliki dapur di luar rumah karena kurangnya lahan sehingga dapur tidak memungkinkan ditempatkan di dalam rumah.

Dapur saya ini saya taruh di luar mas lha ini kan sekalian buat jualan sosis goreng buat anak-anak, tapi ya sebenarnya di dalam itu juga udah ga ada tempat lagi, wong buat tidur wae sempit kok mbak,” kata penjual sosis goreng yang rumahnya dekat kamar mandi umum. “Di depan rumah saya ini contohnya mbak, dapat dilihat contoh kepadatan dan kesempitan rumah-rumah di Sangkrah, sampe-sampe dapur aja ada di luar. La wong gimana lagi wong lahannya aja sempit. Rumahe aja juga sempit jadi ya gini mbak keadaane,” ungkap Bu Sugiarso.

Kamar mandi umum pun juga menjadi salah satu sorotan yang menarik untuk dibahas. Kepadatan suatau kampung perkotaan merupakan suatu ciri khas tersendiri di antara kampung-kampung yang lain. Sehingga kepadatan pekumiman warga di Sangkrah tidak memungkinkan setiap kepala keluarga membangun kamar mandi di dalam rumah. Solusinya adalah dengan cara membangun kamar mandi umum sebagai sarana warga untuk MCK.

“Saya ini kan sebagai pihak berwenang di Sangkrah sebisa mungkin mengusahakan kebersihan, kenyamanan warga Sangkrah dalam hal MCK mbak-mas. Lha, salah satu usaha yang saya upayakan itu ya pembangunan kamar mandi komunal itu,” ungkap Pak Mahendra. “Kalau di RT yang saya kelola ini juga ada kamar mandi umumnya mbak, mengingat di sini kan termasuk RT yang padat penduduknya dulu dari kelurahan mengupayakan kamar mandi umum. Namun kamar mandi ini lebih bermanfaat karena hasil kotoran itu kita olah menjadi biogas. Namun skalanya belum besar yang bisa menggunakan baru dua rumah saja,” ungkap Pak Kamil.

“Setiap sore itu, mbak, di sini itu di kamar mandi umum itu sepi soalnya kan banyak yang belum pulang kerja paling ramai kalau pagi hari, ya sekitar jam 5:30-7:00 Wib. Kalau jam segitu kan waktunnya warga untuk persiapan sekolah sama berangkat kerja, jadi mereka pada ngantre kamar mandi. Di sini itu untung dibangun kamar mandi kalau tidak dibangun ya kasihan warga mbak. La wong mau tidur aja kita itu susah bagaimana mau mikir soal MCK. Bahkan ada beberapa rumah di sini itu yang dapurnya di luar rumah, itu juga karena kurangnya lahan yang dimiliki setiap rumah sehingga dengan terpaksa dapur kita tempatkan di samping rumah,” ungkap salah satu warga Sangkrah.

Dari segi kegiatan warga, Sangkrah merupakan salah satu kampung yang hidup. Setiap warga selalu aktif dalam berpartisipasi dalam kegiatan kampung misalnya, arisan PKK, peringatan ulang tahun kemerdekaan, tirakatan, pengajian keliling, sosialisasi kesehatan, dan lain-lain.

 

Bagian I:
Nur Diana W., Lestari Hiadayati Marfuah, Yohanita Pudyas S.,                            
Arum Sabtorini, Ratna Suci Ariyanti, M. Baharuddin Laffranz,                           
Rahmat Sugiyarto, Belva Hendry Lukmana

Berita Terkait