Robohnya Kampung Kita

Aris Setiawan

 

Pagar kini menghiasi rumah-rumah di kampung. Pagar tak semata menjadi pembatas antara pemilik rumah dengan orang lain. Namun, pagar telah menarasikan simbol kekayaan, kepemilikian, keangkuhan, kesendirian dan keamanan. Kampung beranjak menyulap dirinya menjadi lebih eksklusif. Mengakomodasi budaya kota yang konon disangka lebih maju dan modern. Pagar itu kemudian meniadakan komunikasi, tegur sapa, silaturahmi atau sekedar bincang-bincang gosip dengan tetangga sebelah rumah.

 

Buku berjudul Kampung (Kota) Kita  yang disunting oleh Akhmad Ramdhon seolah menjadi satir bagi kehidupan manusia Indonesia di abad ini, terutama bagi mereka yang menyebut dirinya tinggal di kampung. Ruang-ruang sebagai medan interaksi yang luas itu kini semakin sepi karena anak-anak telah larut dalam impian yang muluk terhadap budaya kota. Kampung menjadi sunyi dari deru nyanyian anak-anak yang bermain di malam hari. Tak ada lagi tembang-tembang malam pengantar tidur dengan senandung Macapat, Sinom, ataupun Dandanggula. Masyarakat kampung menjadi penggemar setia teknologi, memelototi televisi, bersorak ria dengan playstation, bediam sendiri di kamar dengan blackberry. Mereka menemukan ruang ekstase dengan hanya duduk berjam-jam di hadapan alat canggih itu.

 

Waktu kemudian menjadi semakin sempit. Masyarakat kampung memulai hidupnya dengan jadwal yang ketat. Skala waktu menjadi daya ukur untuk melakoni hidup sehingga semua terasa terburu-buru. Mendesak untuk segera melakukan apa yang harus dilakukan. Walaupun mungkin hanya sekedar up date status facebook dan twitter, nonton sinetron, gosip atau acara musik semata (hal. 7). Pagar pembatas rumah dan aktivitas yang terhimpit waktu itu seolah menghadirkan diri sebagai sebuah pribadi yang tunggal, tidak lagi jamak. Hal itu membentuk masyarakat kampung menjadi individualis, tak ada lagi momen kebersamaan. Akibatnya, konflik yang bertebaran tak bisa diselesaikan dengan musyawarah atau dialog mufakat karena tak lagi saling mengenal satu dengan yang lain. Kekerasan menjadi solusi yang paling ideal. Masyarakat senantiasa terancam kehidupannya. Pagar-pagar rumah semakin dipertebal dan ditinggikan, cctv dipasang disegala sudut, menyisakan ruang konflik yang penuh dengan semangat duel dan tak memberi kesempatan orang lain untuk menengahi.

 

Buku yang diabadikan dari hasil kuliah kerja lapangan mahasiswa Sosiologi Perkotaan Universitas Sebelas Maret ini memberikan semangat baru bagi kaum muda masa kini. Lewat kata pengantar, disebutkan bahwa agenda menulis dan mendokumentasikan kampung oleh anak-anak muda menjadi penting guna meraba-raba kembali identitas mereka secara mental, psikis maupun ruang (hal.iv). Harapannya bisa mengobati amnesia dan keterasingan anak-anak muda masa kini dari asal-usulnya (kampung). Hal itu menjadi penting untuk membawa kembali memori dan imajinasi mereka akan kehidupan yang berbasis kampung yang sesungguhnya.

 

Buku ini terdiri dari delapan bab. Hampir ke semua bab memetakan dengan detail kampung-kampung yang ada di Surakarta, di antaranya Jetis, Gremet, Jogopanjaran, Kratonan, Nayu Jenglik, Sangkrah dan Suromulyo. Setiap unsur kampung mencoba didokumentasikan. Mulai dari asal-usul nama, arsitektur, karangtaruna, ritus, yayasan, kegiatan warga hingga pelbagai mitos yang menyelimuti. Dokumentasi itu dilakukan sebagai bagian dari upaya menyelamatkan sejarah kampung. Tak dipungkiri memang, saat ini tak banyak yang bisa kita lakukan untuk menelisik terbentuknya sebuah kampung. Serbuan budaya populer merubah wajah kampung masa kini untuk menuruti impian akan imajinasi budaya kota.

 

Sementara di satu sisi, nama kampung diperjuangkan tiada habis. Pertikaian atas nama kampung banyak digelar. Merasa kampung yang didiaminya lebih baik dan kuat daripada kampung lainnya. Tapi di sisi lain, manusia kampung masa kini tak menyadari bahwa kampung yang dibela dengan bertaruh nyawa itu kini sejatinya tak lagi bisa disebut kampung. Memori kampung hanya terhenti dalam takaran nama. Sementara dalam takaran fisik dan pemaknaannya telah mengalami kebangkrutan. Karenanya, sulit dibedakan dengan jelas, mana yang kampung dan mana yang kota. Semua manjadi samar, karena dibangun dari impian dan imajinasi yang hampir sama.

 

Uniknya, dalam buku setebal 152 halaman ini juga memuat berbagai harapan mahasiswa untuk disematkan pada kampung-kampung yang menjadi sasaran penelitian mereka. Di Kampung Kratonan misalnya, ada kontradiksi yang terjadi. Pada zaman dahulu warganya hidup dengan damai, gotong royong dan kebersamaan menjadi hal yang tak pernah ditinggalkan. Namun untuk saat ini, hal itu sudah jarang sekali dijumpai. Di ending pembahasan, mahasiswa menyelipkan secuil harapan agar masyarakat Kampung Kratonan tetap menjaga sikap kekeluargaan di tengah-tengah perkembangan zaman yang menjadikan manusia lebih individualis (hal. 88). Menghindari konflik internal antar penghuni kampung dengan menumbuhkan sikap saling mengenal dan menghargai.

 

Satu kampung diulas secara mendalam oleh tujuh sampai delapan mahasiswa. Dengan mengetahui harapan-harapan mereka, seolah mengguratkan pesan kepedulian dan kecintaan segelintir generasi muda masa kini terhadap kampung. Hal ini sekaligus mendekonstruksi anggapan bahwa generasi muda kita telah abai pada habitus tradisi dan budaya. Kampung bagaimanapun juga telah mampu mencerminkan siapa kita sejatinya. Dari kampung manusia dibentuk. Kampung adalah jagat kecil yang mampu mempresentasikan jagat besar (makro).

 

Imajinasi tentang kampung tak hanya hidup dalam ruang kebendaannya secara fisik, namun juga pemaknaan. Memaknai kampung tentu tak melulu harus berupa rumah pedesaan yang berjejer rapi, ada gunung nampak dari kejauhan, di sekelilingnya mengalir air sungai yang jernih, ada kerbau di sawah yang sedang digembala oleh seorang anak. Namun, kampung juga menjadi pola pikir. Terkait dengan azas kekeluargaan, kebersamaan, saling menghargai, kerjabakti, tegur sapa, dan gotong royong dalam memecahkan suatu masalah. Sayangnya, kampung sebagai pola pikir semakin tak dapat dijumpai lagi. Akibatnya, kampung hanya menjadi bahan olok-olok, lelucon dan sindiran dengan memelintirnya menjadi “kampungan”, yang menarasikan kekunoan, kolot, katrok dan basi.

 

Buku Kampung (Kota) Kita kemudian menjadi cermin bagi manusia masa kini dalam melihat, mengukur, merawat dan memperlakukan kampung yang dimilikinya. Ke depan, buku ini dapat menjadi pijakan awal dalam menuliskan sejarah dan jejak-jejak kampung lain di Indonesia untuk dapat diceritakan pada anak dan cucu kelak. Dengan demikian, tulislah kampung anda segera, agar tak hilang tertelan waktu!

 

arissetiawan-etnomusikologi.blogspot.com

 

 

Berita Terkait