Pembekuan Kampung Arab Surabaya sebagai Heritage

Pembacaan terhadap kota tua hari ini sangat dikaitkan dengan sarat dan kayanya potensi sejarah terutama dengan meningkatnya minat pemerintah beserta warganya akan tema heritage sebagai tujuan wisata berbalut eksotisme. Bagaimana sebenarnya kawasan-kawasan ini bertahan dalam tantangan zaman dengan tetap berusaha menjadi semodern mungkin, baik wilayah ataupun masyarakat di dalamnya? Lalu saya melihat rumah saya sendiri, Kampung Arab Surabaya. Kawasan ini sejak lama telah dilihat sebagai contoh destinasi wisata kota tua yang sempurna: diorama raksasa lengkap dengan masyarakat asli dan kebudayaan pekat yang tak lekang oleh waktu. Seingat saya, ketika masih berada di bangku Sekolah Menengah Pertama, kawasan ini dicanangkan sebagai destinasi religi akibat dari adanya Masjid Sunan Ampel beserta segala aksesoris pendukungnya berkumpul di sana.
 
Dewasa ini kondisinya berubah menjadi tujuan wisata bagi konsumen yang kian beragam, baik turis tingkat lokal hingga internasional atau bahkan mereka yang memiliki dana terbatas, seakan tak berhenti menggali kekaguman dan mencicip budaya yang selama ini hanya bisa mereka nikmati dalam cerita dimedia. Namun yang paling sering kita lewatkan adalah kampung Arab Surabaya juga berubah mengikuti zaman. Hal ini bisa dilihat munculnya sektor ekonomi dan sosial yang sangat terasa kebaruannya. Sebut saja beberapa cafe modern yang memunculkan kebiasaan baru dikalangan masyarakat, terutama anak-anak mudanya dalam berkumpul. Termasuk mulai terlihatnya penghancuran dan pembangunan kembali rumah-rumah dalam bentuk dan rasa yang lebih modern. Masyarakat juga mulai memiliki ketertarikan, baik sebagai hobi atau profesi terhadap beberapa sektor baru seperti fotografi, wedding organizer, dan beberapa lainnya. Maka dirasa diperlukan pembacaan kembali atas tantangan yang dihadapi kampung Arab Surabaya hari ini dan bagaimana menerjemahkan keinginan masyarakat dalam dan luar terhadap kawasan ini, tidak hanya ketertarikan atas eksotisme masjid kuno atau nikmatnya kopi rempah di kala sore.

Terlahir Tua
Bayangkan, seorang kakek berusia jelang 100 tahun yang sebelumnya tinggal sendirian dalam rumah sempitnya dan berkutat dengan benda-benda yang sudah dimilikinya entah mulai kapan, melakukan hal-hal yang telah dipelajarinya sejak kelahirannya, tiba-tiba saja suatu hari dihadapkan pada kenyataan bahwa di luar rumahnya, dunia berkembang dengan pesat. Teman-teman lamanya telah digantikan anak-anak muda yang haus akan kebaruan dan modernitas. Tak cukup sampai disana, sang anak-anak modern ini tumbuh menguat dan kini kian acap mengetuk pintu rumah sang kakek, mengintip dari balik jendela atau bahkan mencari cara untuk masuk ke rumahnya. Mereka merayu sang kakek dengan benda-benda berkilau yang belum pernah dilihatnya, mencicip buah yang belum pernah dikecapnya. Sang kakek sangat suka dengan semuanya hingga lupa bahwa perlu juga menjadi toleran namun teredukasi untuk menerima hal-hal baru dari luar. Sang kakek yang awalnya digambarkan sebagai sosok seram dan tidak bersahabat akhirnya melunak. Kini sang kakek dan anak-anak zaman itu hidup bersama dalam rumah sempitnya dan lambat laun terbiasa dengan pola hidup anak-anak muda tadi tanpa sadar bahwa kebijaksanaan yang selama ini dimilikinya bergeser perlahan.

Sekarang bayangkan ini: sang kakek adalah kampung Arab Surabaya, dan anak-anak modern itu adalah kota Surabaya dengan segala perkembangan dan kemajuannya yang kian pesat. Kampung Arab Surabaya bisa dikatakan lahir dari rahim Masjid Ampel bentukan Raden Rachmad atau Sunan Ampel, salah satu dari sembilan tokoh utama penyebar Islam di pulau Jawa. Sunan Ampel mendirikan Masjid Ampel sekitar abad 15 di tanah pemberian Majapahit kala itu setelah Raden Rachmad menikahi putrinya. Masjid Ampel pada perkembangannya menjadi pusat pendidikan agama dengan para santrinya berasal dari beragam asal dan latar belakang, utusan kerajaan hingga rakyat jelata. Guna menunjang kehidupan, mereka mendirikan pemukiman di sekitar Masjid dan juga termasuk jaringan sosial dan ekonomi yang akhirnya membentuk pasar tradisional Ampel Suci sebagai salah satu pasar rakyat tertua di Jawa Timur dengan komoditas perdagangan yang tentu saja tidak lepas dari kaitannya dengan Masjid Ampel sebagai simbol religi. Meski pedagang Arab dari Hadhramaut (Yaman Selatan) telah diketahui berada dan menetap di Nusantara sebelum abad ke-10, namun baru abad ke 15 penyebaran mereka juga membawa misi keagamaan hingga ke pulau Jawa sebagai pulau terakhir yang terjamah.
 
Abad ke-16, para pendatang Arab dengan misi ekonomi dan penyebaran agama mulai masuk ke wilayah Jawa Timur melalui jalur darat dari Jawa Barat. Kala itu kondisi di Batavia tengah kacau akibat pertikaian ekonomi sehingga para pedagang ini banyak yang menyelamatkan bisnisnya dengan berpindah tempat. Sebagian berpindah menuju Singapura yang kala itu dilihat sebagai daratan baru, sedang sisanya bergerak ke Surabaya dan Gresik. Sudah menjadi kebiasaan bagi pendatang Arab untuk membangun atau menemukan masjid ketika memasuki suatu wilayah baru. Bagi mereka, masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat peribadatan namun lebih jauh berfungsi pula sebagai pusat sosial dan ekonomi karena disana masyarakat berkumpul dan berinteraksi. Maka begitu pula yang terjadi ketika mereka memasuki Surabaya untuk pertamakali, koloni ini memilih kawasan Ampel sebagai tempat menyambung kehidupan. Ditambah nama Masjid Ampel yang sudah tersohor dan ekosistem perdagangan sudah terbentuk oleh para santri Ampel.
 
Seabad berikutnya kolonial Belanda mulai masuk ke wilayah ini dan menetapkan aturan, termasuk juga aturan mengenai wilayah (wijkenstelsel) yang dibagi berdasarkan golongan ras: Golongan Eropa, golongan Asia Jauh (Arab, Cina, India), dan Bumiputera (pribumi). Peraturan tersebut mempersulit gerak para pedagang Arab ini untuk berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas di luar kawasan Ampel. Bisa dipastikan yang berikutnya terjadi adalah mereka mulai membentuk kota satelit, sebuah konsep kota mandiri yang menunjang fasilitas kehidupan masyarakat di dalamnnya, mulai perdagangan, kesehatan, hingga pendidikan. Faktor tersebut secara kuat mengakibatkan melemahnya hubungan kawasan ini dengan wilayah di luarnya, sebuah penyebab besar atas terbentuknya “teori pembekuan” yang akan dibahas pada uraian berikutnya.

Uang, Uang, dan Uang
Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa salah satu tujuan utama atas masuknya pendatang Arab di masa lalu adalah untuk memenuhi kebutuhan akan ekspansi perekonomian yang sebelumnya mereka dapatkan dari ekosistem di pelabuhan-pelabuhan negara asal mereka sebagai jembatan dengan dunia luar, baik sebagai jalur transportasi atau komoditas perdagangan itu sendiri. Kondisi geografis Hadhramaut yang kurang bersahabat ditambah sulit dan lamanya perjalanan ke daratan-daratan baru telah memupuk mental mereka menjadi pekerja keras dan pemikir dengan semangat bertahan hidup ditemani minimnya persediaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa hingga hari inipun, meski mereka bukan lagi pendatang yang hanya bertujuan dagang namun orientasi mereka terhadap perekonomian masih terlihat cukup bergairah dan bahkan menjadi satir di antara obrolan mereka sehari-hari. Jiwa dagang tersebut sayangnya tidak diimbangi dengan referensi secara mapan dalam bidang bisnis yang mereka geluti ini dan relatif tidak mengalami perkembangan secara berarti sehingga ketika jumlah bisnis secara kuantitas berkembang, persaingan terjadi cukup ketat.
 
Dalam sebuah survey yang dibuat pada tahun 2014 mengenai perbandingan usia di kawasan seluas kurang lebih 64 ha itu ditemukan bahwa angka usia tertinggi adalah usia produktif 26-43 tahun yang sebenarnya sangat memungkinkan untuk membuat perkembangan sektor bisnis menjadi cepat karena usia produktif memiliki kecenderungan menemukan kebaruan.  Sayangnya dari angka itu juga ditemukan bahwa rata-rata dari usia produktif tersebut mayoritas hanya menjangkau tingkat pendidikan SLTA/SMA yang berdampak pada minimnya referensi mengenai informasi dan pergaulan luas dan berpengaruh besar dalam kemampuan mengelola informasi dan referensi kebaruan. Masalah lain adalah kian banyaknya penjualan properti pribadi untuk kebutuhan toko, bank, atau hotel yang dikelola pihak luar sehingga mengikis lahan bagi warga lokal untuk mengelola kepentingan ekonomi mereka terkait bisnis yang sudah umum atau sudah ada sebelumnya. Mulai hilangnya kenyamanan sebagai daerah tempat tinggal hingga tingginya penawaran pembelian menjadi alasan-alasan dibalik penjualan tersebut dan membuat kawasan kampung Arab Surabaya perlahan menjadi distrik ekonomi, menggeser fungsi lainnya sebagai wilayah bersosialisasi.

Menemukan Lintas Kehilangan: Sebuah Krisis Identitas
Dapat dipahami bahwa masyarakat Arab adalah salah satu masyarakat pemegang konsep ius soli, dimana tanah kelahirannya adalah tanah air, tanah perjuangannya. Hal ini muncul dari tradisi pendatang Arab yang ketika meninggalkan tanah air aslinya, mereka meninggalkan istri dan wanita sehingga ketika tiba di tanah baru cenderung melakukan pernikahan dengan wanita pribumi dan kemudian menghasilkan generasi peranakan sebagai pengemban tugas besar dalam perjalanan pencarian dan memetakan kembali identitas mereka: Apakah Arab ataukah Indonesia? Ataukah keduanya? Generasi peranakan atau dikenal sebagai muwallad ini berada dalam himpitan dilema teramat besar, baik dari generasi sebelumnya yang lebih menekankan pada orientasi tanah nenek moyang mereka sedang di sisi lain juga tidak secara mudah diterima oleh penduduk asli yang tetap mencurigai mereka sebagai orang luar dengan misi terselubung.
 
Puncak dari polemik ini adalah dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda Keturunan Arab di Semarang pada tahun 1934 hasil inisiasi tokoh-tokoh peranakan Arab asal Surabaya yang merasa pemikirannya tidak diterima di kota asalnya. Tentu fenomena ini menjadi  menggemparkan karena Sumpah Pemuda Keturunan Arab tidak hanya dibaca sebagai pernyataan atas dukungan mereka terhadap terbentuknya negara Indonesia berdaulat tapi juga penemuan atas identitas blasteran mereka. Aksi lebih jauh mereka lakukan dengan membentuk Partai Arab Indonesia (PAI) sebagai badan resmi yang turut menggerakkan roda perpolitikan Nusantara. Jika Sarekat Dagang Islam (SDI) adalah perjuangan para pendatang Arab lewat ekonomi maka PAI adalah tonggak sejarah pergerakan oleh golongan peranakan Arab melalui jalur politik. Ketika Indonesia akhirnya mencapai kemerdekan di tahun 1945, PAI membubarkan diri dan membaur dengan partai-partai Nasional sebagai pernyataan bahwa misi mereka telah selesai dengan tercapainya Indonesia sebagai negara merdeka.
 
Pembauran tersebut akhirnya menuntut peranan peranakan Arab ini tidak lagi dipandang sebagai pergerakan berdasar golongan ras, namun telah secara resmi menjadi bagian dari perjuangan nasional yang sayangnya tidak banyak tercatat dalam sejarah nasional. Perlu diketahui bahwa masyarakat Arab lebih familiar dalam menerapkan Islam melalui manifestasi keaksian, bukan simbolik. Salah satunya adalah mereka sangat menghindari sikap riya’ (memamerkan kebaikan) sehingga sikap nasionalisme semacam itu dianggap sebagai kewajiban dan bukan sesuatu yang perlu dipamerkan atau diceritakan. Sebuah “amalan” yang akhirnya malah membuat pencatatan terhadap perjuangan mereka di masa lampau mengalami kesulitan. Masyarakat Arab juga dikenal sebagai penyampai pesan secara oral, dibanding masyarakat Tionghoa yang memiliki tradisi pencatatan. Informasi yang diwariskan secara turun temurun juga mengalami perubahan tergantung pada siapa yang berbicara.
 
Hasilnya adalah kesadaran nasionalisme kelompok keturunan Arab di Indonesia bisa dikatakan kurang sehingga melemahkan kesadaran beridentitas mereka. Dan lagi, hal ini lebih jauh menyebabkan kepekaan mereka atas kontribusi kenegaraan dan keterbukaan atau toleransi masih dianggap kurang penting dibandingkan pemenuhan sektor ekonomi. Lalu apa kaitan antara identitas nasionalisme dan isu perubahan wajah kampung Arab Surabaya hari ini? Dianggap tidak ada pengaruh secara langsung, tingkat pemahaman mengenai identitas tentu menjadi tolok ukur atas konsep sense of belonging dan penghargaan terhadap lingkungan lokal sebagai tempat berkembang dan beraktifitas yang juga mempengaruhi image terhadap kelompok di luar kelompoknya, berdasarkan kesamaan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang sama.

Jejak-Jejak Keselamatan
Irisan besar antara Arab dan Islam telah menempatkan kedua entitas ini begitu lekat hampir di bagian dunia manapun. penyebab paling umum adalah karena tempat lahir dan berkembangnya Islam di daratan Arabia (Arab Saudi, Yaman, dan hingga sebagian Afrika) membawa pengaruh dan perubahan besar bagi tatanan pemikiran masyarakat disana. Pengaruh tersebut tentu saja menjadi salah satu komoditas yang turut dibawa ketika mereka meninggalkan negaranya dan memulai perjalanan yang awalnya hanya bermisi ekonomi hingga akhirnya juga bermisi keagamaan. Semangat Islam yang diambil dari kata salaam (keselamatan) telah memberikan pengaruh besar dalam merubah budaya asli di Indonesia, tentunya dengan pendekatan yang berbeda-beda. Pada masa kesunanan, kebudayaan dan kesenian menjadi senjata utama dalam menyebarkan Islam dengan efisien. Adapula faktor luar yang membuat Islam akhirnya dapat diterima dengan cepat, yakni adanya perpecahan dalam jaringan kerajaan Hindu yang membutuhkan branding dan identitas baru. Atas kemunculannya di saat yang tepat maka Islam dipilih sebagai wajah baru kerajaan-kerajaan ini.
 
Di kampung Arab Surabaya sendiri perkembangan Islam juga mengalami dinamika yang cukup menarik karena strategi pergerakan Islam mengalami perubahan bentuk berdasarkan era. Setelah masa Sunan Ampel dengan pendekatan kebudayaannya, masuknya pedagang Arab menyuntikkan budaya asli dan bawaan mereka ke dalam budaya lokal sehingga menghadirkan akulturasi. Pengaruh pan-Islam di awal abad ke-20 berikutnya menjadi dasar masuknya Islam ke dalam ranah perjuangan dan pergerakan politik Nasional keturunan Arab di seluruh Indonesia. Namun hari ini gagasan perspektif masyarakat keturunan Arab di Indonesia terhadap Islam dapat ditarik ke tahun 1990an, yakni ketika gesekan politik-religi antara Arab Saudi dan Iran mencapai puncaknya. Ada masanya ketika kedua kubu ini menemukan musuh bersama yang mau tidak mau menyatukan keduanya, yakni ketika masa pan-Islam dengan mengusung kampanye perlawanan Islam terhadap penjajahan kolonialisme Barat.
 
Sama seperti dalam sejarah lainnya, ketika misi bersama oleh dua kubu telah tercapai akhirnya malah menjadikan keduanya musuh satu sama lain. Hingga hari ini konflik tersebut masih memakan porsi yang cukup besar dalam obrolan santai hingga ceramah-ceramah keagamaan sehingga menjadi semacam pengalihan isu terhadap persoalan sosial dan pendidikan yang lebih dekat dan mampu diraih. Dengan adanya masjid dan makam Sunan Ampel, sumur, serta pasar religi, maka sekitar awal tahun 2000 Pemerintah Kota Surabaya mencanangkan kampung Arab Surabaya sebagai kawasan wisata religi yang bernilai menjadi salah satu komponen penting dari rangkaian tur Sunan di Pulau Jawa. Tanggungjawab atas citra sebagai Arab dan Muslim taat ini akhirnya menjadi beban moral tersendiri karena tidak diimbangi dengan pemahaman yang baik atas Islam secara duniawi dan kontemporer sehingga memunculkan dualisme dalam sudut pandang masyarakatnya.

Kematian Tetangga Sang Koloni Terakhir
Pasca upaya-upaya penghapusan komunisme di Indonesia, dampaknya bahkan bisa dirasakan terhadap kawasan Pecinan Surabaya di sepanjang jalan Kapasan dan Kembang Jepun yang mulai bergeser fungsinya. Rumah-rumah komunitas Tionghoa mulai ditinggalkan dan berubah menjadi toko, bank, dan bangunan-bangunan ekonomis lainnya. Hari ini dapat ditemui kawasan tersebut telah mati aktifitas di atas jam kantor. Pola yang sama mulai ditemui dan lazim terjadi di Kampung Arab di sepanjang Jalan KH Mas Mansyur. Pembelian rumah-rumah dan aset properti untuk kebutuhan ekonomi saat ini kian diminati, sedang pemukiman penduduk bergeser masuk ke dalam kampung di Ampel dan Kalimas. Pola yang sama akan mengakibatkan kedepannya kampung Arab Surabaya akan mati selayaknya tetangganya  Pecinan di Kembang Jepun dan Kapasan.

Kampung Arab Surabaya sebagai wilayah berdasarkan kelompok keturunan asing, kampung Arab bisa dikatakan sebagai satu-satunya yang masih dihuni oleh penduduk aslinya dan masih pula berkebudayaan dan berperilaku dasar selayaknya ratusan tahun silam dengan sedikit referensi dan informasi mengenai modernitas dan pengembangan sumber daya manusia terbarui. Pola pikir perdagangan sangat kuat menancap hingga masyarakat ini melihat wilayahnya sebagai pasar raksasa, bukan lagi wilayah tempat tinggal dan wadah bersosialisasi. Ekspresi diri mereka adalah menjual, dengan tujuan finansial sebagai jiwanya. Begitu juga dengan perspektif terhadap dunia di luar mereka yang cenderung diabaikan dan tidak terlalu dianggap penting karena dirasa tidak memiliki dampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan mereka. Jika diperhatikan secara wajah wilayahnya, kampung Arab Surabaya tetap  memertahankan rumah-rumah bercorak Eropa, Cina, Melayu, dan bahkan Hindu Jawa seperti yang bisa dilihat pada Masjid Ampel sendiri sebagai salah satu monumen penting yang pertama-tama dibangun di wilayah ini. 
 
Memang para pendatang Arab tidak memberikan kontribusi pengaruh yang besar terhadap arsitektur, namun orang-orang ini memiliki semacam Feng Shui yang diadaptasi dari aturan-aturan dalam al-Qur’an dan al Hadits, memberikan pengaruh besar terhadap tatanan ruang dalam sebuah gedung, seperti pembagian wilayah privasi dan publik, ruang antara pria dan wanita, hingga letak kamar mandi. Belum lagi pembahasan mengenai dunia kuliner yang tidak kalah menariknya sebagai pemancing kedatangan wisatawan. Kesemuanya ini telah membentuk kawasan kampung Arab Surabaya begitu seksi dan eksotisnya sebagai komoditas pariwisata kota yang mampu membuat turis datang berbondong. Di saat kekhawatiran ini mulai terjadi, justru nafas dari kawasan tua ini tetap bertahan dengan “bantuan” dari pihak-pihak ketiga yang sering dikonotasikan negatif. Adanya kesempatan terhadap bisnis pendukung akhirnya melahirkan celah-celah ekonomi yang dikelola oleh pelaku di luar komunitas lokal, membentuk kelompok pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang jalan KH Mas Mansyur. Ironisnya, jika di masa lalu kehadiran PKL ini dikatakan menumpang eksistensi toko-toko yang ada, maka kondisi hari ini menunjukkan justru keberadaan PKL ini menjadi kekuatan utama ekonomi yang menghidupkan suasana di kawasan ini.  Kompleksitas tersebut membuat upaya-upaya pendekatan pemerintah terhadap kawasan ini menjadi agak terhambat dan mengalami dilema dengan hadir dan menguatnya PKL sebagai pihak ketiga dari rencana tersebut.
 
Seperti halnya di wilayah manapun, kemunculan PKL selalu dibaca sebagai kesempatan dalam memanfaatkan ruang kosong, dimana hal ini selalu berusaha dihapuskan dengan diciptakannya sentra yang dikhususkan bagi para pedagang ini. Dan seperti halnya di wilayah-wilayah itu, upaya ini tidak membuahkan hasil yang memuaskan karena kurangnya sosialisasi atau pendekatan yang mumpuni secara waktu dan publikasi. Alhasil solusi itu malah menambah masalah lainnya, yakni munculnya bangunan kosong karena diacuhkan perdagangan yang berusaha disentralkan itu, dimana mereka kembali menempati ruang-ruang kosong “kesempatan” mereka sebelumnya.

Dilema Taman Safari
Tahun 2016 Surabaya dinobatkan sebagai sustainable city, kota layak huni yang dipilih oleh PBB dengan program tahunannya UN Habitat yang diikuti sekitar 5000 peserta dari sekitar 50 negara. UN Habitat menawarkan program-program terkait urbanisme termasuk pengenalan dan tur dalam kampung-kampung yang digelar selama sekitar satu minggu di beberapa kampung terpilih dan ditata sedemikian rupa hingga siap menerima tamu-tamu tersebut. Penganugerahan ini dipandang sebagai kemenangan besar atas jerih upaya pembangunan kota Surabaya, terutama walikotanya, Risma Triharini yang sejak awal memiliki misi besar dalam menggalakkan Surabaya sebagai kota pariwisata. Melihat potensi dan sejarah Surabaya yang memang dimaksudkan sebagai kota perdagangan dan sedikitnya memiliki potensi alam maka jawaban dari keinginan tersebut adalah mengangkat kearifan masyarakat dan segala aspeknya, termasuk wilayah dan wajahnya, atau singkatnya kehidupan urban Surabaya.
 
Kampung-kampung di Surabaya yang jumlahnya ratusan dengan karakter masing-masing telah menawarkan potensi wisata teramat besar dan menarik sebagai alternatif yang juga bersifat edukatif. Dengan durasi program kerja yang tidak terlalu lama ketika eksperimen wisata terhadap kampung ini mulai dijalankan, muncul satu pertanyaan besar mengingat peraturan hukum oleh pemerintah yang mengaitkan isu heritage dengan segala sesuatu yang bersifat terlihat (tangible). Dimana agenda mendiskusikan kembali sumber daya manusia di kampung-kampung dalam tataran pemikiran dan edukasi tersebut sudah cukup mapan dan bijaksana dalam mengelola perubahan yang datangnya sedemikian cepat dan bahkan tak jarang mengusik kebiasaan yang telah berjalan ratusan tahun, terasa penting.
 
Pertanyaan yang sama juga muncul dalam kaitannya dengan upaya menjadikan kawasan Kampung Arab Surabaya sebagai kawasan wisata heritage, melihat kawasan ini sebelumnya terkesan eksklusif dan lugas dengan segala atribut budaya dan kebiasaan mereka lalu tiba-tiba saja muncul gejala-gejala kebaruan di tiap sudut toko dan ruang tamu rumah mereka. Tentunya pemikiran ini sifatnya masih berupa teori atau ramalan mengingat belum adanya perubahan signifikan yang terjadi hari ini. Namun kita bisa belajar dari dampak di beberapa kota lainnya yang sebelumnya telah lebih dulu menyerap kebaruan-kebaruan tanpa mengetahui dan mampu mengelola hal tersebut dengan bijak. Eksploitasi besar-besaran, baik oleh pihak luar dan terlebih oleh pihak dari dalam, harga komoditas perdagangan menjadi tidak lazim dan terjadi persaingan bisnis yang kurang sehat. Hingga tergesernya budaya asli oleh kebiasan-kebiasaan baru yang belum tentu cocok dan dibutuhkan wilayah maupun masyarakat tersebut. Di sisi lain banyak pihak yang mengharapkan kawasan ini tetap “terbekukan” dengan segala keindahan dan kecantikan visualnya khas romantisme masa silam. Kurangnya kesadaran-jika tidak bisa disebut sebagai ketidakpeduliaan-atas dampak jangka panjang dari pola pikir dan pemikiran semacam ini akan merubah kawasan tersebut menjadi Taman Safari. Sebuah diorama raksasa bagi wisata budaya dengan pemandangan aslinya, baik dari segi bangunan hingga aktifitas penduduknya tanpa diimbangi penyerapan informasi dan pengelolaan pengetahuan bagi warganya.
 
Maka persoalan mengenai sumber daya manusia cukup memiliki urgensi dilihat dari dampaknya terhadap arah perkembangan kawasan kampung Arab Surabaya hari ini dan kedepannya. Jika pola yang terjadi saat ini tidak mampu dirubah maka dapat dibayangkan bahwa di masa depan kawasan ini akan dimiliki dan dikelola oleh pihak luar yang tidak segan untuk merubah aset-aset yang ada sesuai dengan keinginan mereka. Lalu bagaimana dengan masyarakatnya? Entah mereka akan tergeser posisinya atau bahkan terusir dari rumahnya sendiri, dan yang lebih buruk adalah mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika hari itu datang. Hari berubahnya wajah dan nilai dari kampung Arab Surabaya. Kawasan kampung Arab Surabaya dengan segala latar belakang sejarah dan budayanya telah menawarkan alternatif baru bagi gairah pariwisata dan aspek-aspek kebaruan dalam masyarakatnya yang masih dianggap belum bijak mengelola informasi dan modernitas yang kini kian cepat bergerak di sekitar mereka. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor, yang pertama yakni dampak sejarah sebagai kawasan lokalisasi bentukan pemerintahan kolonial yang menghasilkan tatanan wilayah kota satelit nan mandiri sehingga memampetkan komunikasi dengan dunia luar. Faktor kedua yakni pertanyaan mengenai identitas Arab hari ini yang semakin ditantang oleh zaman, dimana di masa lalu cukup pekat menjadi perdebatan dan membawa dilema terhadap sudut pandang mengenai pentingnya identitas dalam skala pribadi, wilayah lokal, hingga pemikiran perihal dunia luas dan dinamikanya.
 
Faktor lainnya yang juga penting terkait dengan pemaknaan, pemahaman, dan penerapan Islam sebagai identitas yang memberikan pengaruh kuat dalam pembentukan budaya di kawasan kampung Arab Surabaya, yang di satu sisi diamini sebagai pemersatu perbedaan namun di sisi lain dinilai sebagai pembatasan terhadap nilai-nilai baru, sehingga terjadi dualisme bersikap masyarakatnya dalam menentukan nilai berdasarkan aturan agama dengan keinginan akan modernitas itu sendiri. Semua faktor di atas dalam perjalanannya dikhawatirkan menjadi isu sosial yang saat ini masih belum dirasakan terjadi secara intens, namun terasa semakin kuat dengan adanya keinginan-keinginan yang saling beradu antara kelompok pembaharu dengan kebutuhan akan perubahan dan kebaruan, berbenturan dengan  kelompok yang melihat kawasan ini sebagai kawasan heritage yang seharusnya dipertahankan seperti demikian adanya. Dari kesemuanya, yang paling penting adalah tingkat pengetahuan manusianya dalam menemukan kesadaran dan kebijakan mengolah kebaruan sehingga di masa depan mampu beradaptasi dengan tantangan yang ditawarkan zaman. 
 
Pembacaan terhadap kota tua hari ini sangat dikaitkan dengan sarat dan kayanya potensi sejarah terutama dengan meningkatnya minat pemerintah beserta warganya akan tema heritage sebagai tujuan wisata berbalut eksotisme. Bagaimana sebenarnya kawasan-kawasan ini bertahan dalam tantangan zaman dengan tetap berusaha menjadi semodern mungkin, baik wilayah ataupun masyarakat di dalamnya? Lalu saya melihat rumah saya sendiri, Kampung Arab Surabaya. Kawasan ini sejak lama telah dilihat sebagai contoh destinasi wisata kota tua yang sempurna: diorama raksasa lengkap dengan masyarakat asli dan kebudayaan pekat yang tak lekang oleh waktu. Seingat saya, ketika masih berada di bangku Sekolah Menengah Pertama, kawasan ini dicanangkan sebagai destinasi religi akibat dari adanya Masjid Sunan Ampel beserta segala aksesoris pendukungnya berkumpul di sana.
 
Dewasa ini kondisinya berubah menjadi tujuan wisata bagi konsumen yang kian beragam, baik turis tingkat lokal hingga internasional atau bahkan mereka yang memiliki dana terbatas, seakan tak berhenti menggali kekaguman dan mencicip budaya yang selama ini hanya bisa mereka nikmati dalam cerita dimedia. Namun yang paling sering kita lewatkan adalah kampung Arab Surabaya juga berubah mengikuti zaman. Hal ini bisa dilihat munculnya sektor ekonomi dan sosial yang sangat terasa kebaruannya. Sebut saja beberapa cafe modern yang memunculkan kebiasaan baru dikalangan masyarakat, terutama anak-anak mudanya dalam berkumpul. Termasuk mulai terlihatnya penghancuran dan pembangunan kembali rumah-rumah dalam bentuk dan rasa yang lebih modern. Masyarakat juga mulai memiliki ketertarikan, baik sebagai hobi atau profesi terhadap beberapa sektor baru seperti fotografi, wedding organizer, dan beberapa lainnya. Maka dirasa diperlukan pembacaan kembali atas tantangan yang dihadapi kampung Arab Surabaya hari ini dan bagaimana menerjemahkan keinginan masyarakat dalam dan luar terhadap kawasan ini, tidak hanya ketertarikan atas eksotisme masjid kuno atau nikmatnya kopi rempah di kala sore.
 
Terlahir Tua
Bayangkan, seorang kakek berusia jelang 100 tahun yang sebelumnya tinggal sendirian dalam rumah sempitnya dan berkutat dengan benda-benda yang sudah dimilikinya entah mulai kapan, melakukan hal-hal yang telah dipelajarinya sejak kelahirannya, tiba-tiba saja suatu hari dihadapkan pada kenyataan bahwa di luar rumahnya, dunia berkembang dengan pesat. Teman-teman lamanya telah digantikan anak-anak muda yang haus akan kebaruan dan modernitas. Tak cukup sampai disana, sang anak-anak modern ini tumbuh menguat dan kini kian acap mengetuk pintu rumah sang kakek, mengintip dari balik jendela atau bahkan mencari cara untuk masuk ke rumahnya. Mereka merayu sang kakek dengan benda-benda berkilau yang belum pernah dilihatnya, mencicip buah yang belum pernah dikecapnya. Sang kakek sangat suka dengan semuanya hingga lupa bahwa perlu juga menjadi toleran namun teredukasi untuk menerima hal-hal baru dari luar. Sang kakek yang awalnya digambarkan sebagai sosok seram dan tidak bersahabat akhirnya melunak. Kini sang kakek dan anak-anak zaman itu hidup bersama dalam rumah sempitnya dan lambat laun terbiasa dengan pola hidup anak-anak muda tadi tanpa sadar bahwa kebijaksanaan yang selama ini dimilikinya bergeser perlahan.

Sekarang bayangkan ini: sang kakek adalah kampung Arab Surabaya, dan anak-anak modern itu adalah kota Surabaya dengan segala perkembangan dan kemajuannya yang kian pesat. Kampung Arab Surabaya bisa dikatakan lahir dari rahim Masjid Ampel bentukan Raden Rachmad atau Sunan Ampel, salah satu dari sembilan tokoh utama penyebar Islam di pulau Jawa. Sunan Ampel mendirikan Masjid Ampel sekitar abad 15 di tanah pemberian Majapahit kala itu setelah Raden Rachmad menikahi putrinya. Masjid Ampel pada perkembangannya menjadi pusat pendidikan agama dengan para santrinya berasal dari beragam asal dan latar belakang, utusan kerajaan hingga rakyat jelata. Guna menunjang kehidupan, mereka mendirikan pemukiman di sekitar Masjid dan juga termasuk jaringan sosial dan ekonomi yang akhirnya membentuk pasar tradisional Ampel Suci sebagai salah satu pasar rakyat tertua di Jawa Timur dengan komoditas perdagangan yang tentu saja tidak lepas dari kaitannya dengan Masjid Ampel sebagai simbol religi. Meski pedagang Arab dari Hadhramaut (Yaman Selatan) telah diketahui berada dan menetap di Nusantara sebelum abad ke-10, namun baru abad ke 15 penyebaran mereka juga membawa misi keagamaan hingga ke pulau Jawa sebagai pulau terakhir yang terjamah.
 
Abad ke-16, para pendatang Arab dengan misi ekonomi dan penyebaran agama mulai masuk ke wilayah Jawa Timur melalui jalur darat dari Jawa Barat. Kala itu kondisi di Batavia tengah kacau akibat pertikaian ekonomi sehingga para pedagang ini banyak yang menyelamatkan bisnisnya dengan berpindah tempat. Sebagian berpindah menuju Singapura yang kala itu dilihat sebagai daratan baru, sedang sisanya bergerak ke Surabaya dan Gresik. Sudah menjadi kebiasaan bagi pendatang Arab untuk membangun atau menemukan masjid ketika memasuki suatu wilayah baru. Bagi mereka, masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat peribadatan namun lebih jauh berfungsi pula sebagai pusat sosial dan ekonomi karena disana masyarakat berkumpul dan berinteraksi. Maka begitu pula yang terjadi ketika mereka memasuki Surabaya untuk pertamakali, koloni ini memilih kawasan Ampel sebagai tempat menyambung kehidupan. Ditambah nama Masjid Ampel yang sudah tersohor dan ekosistem perdagangan sudah terbentuk oleh para santri Ampel.
 
Seabad berikutnya kolonial Belanda mulai masuk ke wilayah ini dan menetapkan aturan, termasuk juga aturan mengenai wilayah (wijkenstelsel) yang dibagi berdasarkan golongan ras: Golongan Eropa, golongan Asia Jauh (Arab, Cina, India), dan Bumiputera (pribumi). Peraturan tersebut mempersulit gerak para pedagang Arab ini untuk berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas di luar kawasan Ampel. Bisa dipastikan yang berikutnya terjadi adalah mereka mulai membentuk kota satelit, sebuah konsep kota mandiri yang menunjang fasilitas kehidupan masyarakat di dalamnnya, mulai perdagangan, kesehatan, hingga pendidikan. Faktor tersebut secara kuat mengakibatkan melemahnya hubungan kawasan ini dengan wilayah di luarnya, sebuah penyebab besar atas terbentuknya “teori pembekuan” yang akan dibahas pada uraian berikutnya.

Uang, Uang, dan Uang
Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa salah satu tujuan utama atas masuknya pendatang Arab di masa lalu adalah untuk memenuhi kebutuhan akan ekspansi perekonomian yang sebelumnya mereka dapatkan dari ekosistem di pelabuhan-pelabuhan negara asal mereka sebagai jembatan dengan dunia luar, baik sebagai jalur transportasi atau komoditas perdagangan itu sendiri. Kondisi geografis Hadhramaut yang kurang bersahabat ditambah sulit dan lamanya perjalanan ke daratan-daratan baru telah memupuk mental mereka menjadi pekerja keras dan pemikir dengan semangat bertahan hidup ditemani minimnya persediaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa hingga hari inipun, meski mereka bukan lagi pendatang yang hanya bertujuan dagang namun orientasi mereka terhadap perekonomian masih terlihat cukup bergairah dan bahkan menjadi satir di antara obrolan mereka sehari-hari. Jiwa dagang tersebut sayangnya tidak diimbangi dengan referensi secara mapan dalam bidang bisnis yang mereka geluti ini dan relatif tidak mengalami perkembangan secara berarti sehingga ketika jumlah bisnis secara kuantitas berkembang, persaingan terjadi cukup ketat.
 
Dalam sebuah survey yang dibuat pada tahun 2014 mengenai perbandingan usia di kawasan seluas kurang lebih 64 ha itu ditemukan bahwa angka usia tertinggi adalah usia produktif 26-43 tahun yang sebenarnya sangat memungkinkan untuk membuat perkembangan sektor bisnis menjadi cepat karena usia produktif memiliki kecenderungan menemukan kebaruan.  Sayangnya dari angka itu juga ditemukan bahwa rata-rata dari usia produktif tersebut mayoritas hanya menjangkau tingkat pendidikan SLTA/SMA yang berdampak pada minimnya referensi mengenai informasi dan pergaulan luas dan berpengaruh besar dalam kemampuan mengelola informasi dan referensi kebaruan. Masalah lain adalah kian banyaknya penjualan properti pribadi untuk kebutuhan toko, bank, atau hotel yang dikelola pihak luar sehingga mengikis lahan bagi warga lokal untuk mengelola kepentingan ekonomi mereka terkait bisnis yang sudah umum atau sudah ada sebelumnya. Mulai hilangnya kenyamanan sebagai daerah tempat tinggal hingga tingginya penawaran pembelian menjadi alasan-alasan dibalik penjualan tersebut dan membuat kawasan kampung Arab Surabaya perlahan menjadi distrik ekonomi, menggeser fungsi lainnya sebagai wilayah bersosialisasi.

Menemukan Lintas Kehilangan: Sebuah Krisis Identitas
Dapat dipahami bahwa masyarakat Arab adalah salah satu masyarakat pemegang konsep ius soli, dimana tanah kelahirannya adalah tanah air, tanah perjuangannya. Hal ini muncul dari tradisi pendatang Arab yang ketika meninggalkan tanah air aslinya, mereka meninggalkan istri dan wanita sehingga ketika tiba di tanah baru cenderung melakukan pernikahan dengan wanita pribumi dan kemudian menghasilkan generasi peranakan sebagai pengemban tugas besar dalam perjalanan pencarian dan memetakan kembali identitas mereka: Apakah Arab ataukah Indonesia? Ataukah keduanya? Generasi peranakan atau dikenal sebagai muwallad ini berada dalam himpitan dilema teramat besar, baik dari generasi sebelumnya yang lebih menekankan pada orientasi tanah nenek moyang mereka sedang di sisi lain juga tidak secara mudah diterima oleh penduduk asli yang tetap mencurigai mereka sebagai orang luar dengan misi terselubung.
 
Puncak dari polemik ini adalah dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda Keturunan Arab di Semarang pada tahun 1934 hasil inisiasi tokoh-tokoh peranakan Arab asal Surabaya yang merasa pemikirannya tidak diterima di kota asalnya. Tentu fenomena ini menjadi  menggemparkan karena Sumpah Pemuda Keturunan Arab tidak hanya dibaca sebagai pernyataan atas dukungan mereka terhadap terbentuknya negara Indonesia berdaulat tapi juga penemuan atas identitas blasteran mereka. Aksi lebih jauh mereka lakukan dengan membentuk Partai Arab Indonesia (PAI) sebagai badan resmi yang turut menggerakkan roda perpolitikan Nusantara. Jika Sarekat Dagang Islam (SDI) adalah perjuangan para pendatang Arab lewat ekonomi maka PAI adalah tonggak sejarah pergerakan oleh golongan peranakan Arab melalui jalur politik. Ketika Indonesia akhirnya mencapai kemerdekan di tahun 1945, PAI membubarkan diri dan membaur dengan partai-partai Nasional sebagai pernyataan bahwa misi mereka telah selesai dengan tercapainya Indonesia sebagai negara merdeka.
 
Pembauran tersebut akhirnya menuntut peranan peranakan Arab ini tidak lagi dipandang sebagai pergerakan berdasar golongan ras, namun telah secara resmi menjadi bagian dari perjuangan nasional yang sayangnya tidak banyak tercatat dalam sejarah nasional. Perlu diketahui bahwa masyarakat Arab lebih familiar dalam menerapkan Islam melalui manifestasi keaksian, bukan simbolik. Salah satunya adalah mereka sangat menghindari sikap riya’ (memamerkan kebaikan) sehingga sikap nasionalisme semacam itu dianggap sebagai kewajiban dan bukan sesuatu yang perlu dipamerkan atau diceritakan. Sebuah “amalan” yang akhirnya malah membuat pencatatan terhadap perjuangan mereka di masa lampau mengalami kesulitan. Masyarakat Arab juga dikenal sebagai penyampai pesan secara oral, dibanding masyarakat Tionghoa yang memiliki tradisi pencatatan. Informasi yang diwariskan secara turun temurun juga mengalami perubahan tergantung pada siapa yang berbicara.
 
Hasilnya adalah kesadaran nasionalisme kelompok keturunan Arab di Indonesia bisa dikatakan kurang sehingga melemahkan kesadaran beridentitas mereka. Dan lagi, hal ini lebih jauh menyebabkan kepekaan mereka atas kontribusi kenegaraan dan keterbukaan atau toleransi masih dianggap kurang penting dibandingkan pemenuhan sektor ekonomi. Lalu apa kaitan antara identitas nasionalisme dan isu perubahan wajah kampung Arab Surabaya hari ini? Dianggap tidak ada pengaruh secara langsung, tingkat pemahaman mengenai identitas tentu menjadi tolok ukur atas konsep sense of belonging dan penghargaan terhadap lingkungan lokal sebagai tempat berkembang dan beraktifitas yang juga mempengaruhi image terhadap kelompok di luar kelompoknya, berdasarkan kesamaan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang sama.

Jejak-Jejak Keselamatan
Irisan besar antara Arab dan Islam telah menempatkan kedua entitas ini begitu lekat hampir di bagian dunia manapun. penyebab paling umum adalah karena tempat lahir dan berkembangnya Islam di daratan Arabia (Arab Saudi, Yaman, dan hingga sebagian Afrika) membawa pengaruh dan perubahan besar bagi tatanan pemikiran masyarakat disana. Pengaruh tersebut tentu saja menjadi salah satu komoditas yang turut dibawa ketika mereka meninggalkan negaranya dan memulai perjalanan yang awalnya hanya bermisi ekonomi hingga akhirnya juga bermisi keagamaan. Semangat Islam yang diambil dari kata salaam (keselamatan) telah memberikan pengaruh besar dalam merubah budaya asli di Indonesia, tentunya dengan pendekatan yang berbeda-beda. Pada masa kesunanan, kebudayaan dan kesenian menjadi senjata utama dalam menyebarkan Islam dengan efisien. Adapula faktor luar yang membuat Islam akhirnya dapat diterima dengan cepat, yakni adanya perpecahan dalam jaringan kerajaan Hindu yang membutuhkan branding dan identitas baru. Atas kemunculannya di saat yang tepat maka Islam dipilih sebagai wajah baru kerajaan-kerajaan ini.
Di kampung Arab Surabaya sendiri perkembangan Islam juga mengalami dinamika yang cukup menarik karena strategi pergerakan Islam mengalami perubahan bentuk berdasarkan era. Setelah masa Sunan Ampel dengan pendekatan kebudayaannya, masuknya pedagang Arab menyuntikkan budaya asli dan bawaan mereka ke dalam budaya lokal sehingga menghadirkan akulturasi. Pengaruh pan-Islam di awal abad ke-20 berikutnya menjadi dasar masuknya Islam ke dalam ranah perjuangan dan pergerakan politik Nasional keturunan Arab di seluruh Indonesia. Namun hari ini gagasan perspektif masyarakat keturunan Arab di Indonesia terhadap Islam dapat ditarik ke tahun 1990an, yakni ketika gesekan politik-religi antara Arab Saudi dan Iran mencapai puncaknya. Ada masanya ketika kedua kubu ini menemukan musuh bersama yang mau tidak mau menyatukan keduanya, yakni ketika masa pan-Islam dengan mengusung kampanye perlawanan Islam terhadap penjajahan kolonialisme Barat.
Sama seperti dalam sejarah lainnya, ketika misi bersama oleh dua kubu telah tercapai akhirnya malah menjadikan keduanya musuh satu sama lain. Hingga hari ini konflik tersebut masih memakan porsi yang cukup besar dalam obrolan santai hingga ceramah-ceramah keagamaan sehingga menjadi semacam pengalihan isu terhadap persoalan sosial dan pendidikan yang lebih dekat dan mampu diraih. Dengan adanya masjid dan makam Sunan Ampel, sumur, serta pasar religi, maka sekitar awal tahun 2000 Pemerintah Kota Surabaya mencanangkan kampung Arab Surabaya sebagai kawasan wisata religi yang bernilai menjadi salah satu komponen penting dari rangkaian tur Sunan di Pulau Jawa. Tanggungjawab atas citra sebagai Arab dan Muslim taat ini akhirnya menjadi beban moral tersendiri karena tidak diimbangi dengan pemahaman yang baik atas Islam secara duniawi dan kontemporer sehingga memunculkan dualisme dalam sudut pandang masyarakatnya.

Kematian Tetangga Sang Koloni Terakhir
Pasca upaya-upaya penghapusan komunisme di Indonesia, dampaknya bahkan bisa dirasakan terhadap kawasan Pecinan Surabaya di sepanjang jalan Kapasan dan Kembang Jepun yang mulai bergeser fungsinya. Rumah-rumah komunitas Tionghoa mulai ditinggalkan dan berubah menjadi toko, bank, dan bangunan-bangunan ekonomis lainnya. Hari ini dapat ditemui kawasan tersebut telah mati aktifitas di atas jam kantor. Pola yang sama mulai ditemui dan lazim terjadi di Kampung Arab di sepanjang Jalan KH Mas Mansyur. Pembelian rumah-rumah dan aset properti untuk kebutuhan ekonomi saat ini kian diminati, sedang pemukiman penduduk bergeser masuk ke dalam kampung di Ampel dan Kalimas. Pola yang sama akan mengakibatkan kedepannya kampung Arab Surabaya akan mati selayaknya tetangganya  Pecinan di Kembang Jepun dan Kapasan.

Kampung Arab Surabaya sebagai wilayah berdasarkan kelompok keturunan asing, kampung Arab bisa dikatakan sebagai satu-satunya yang masih dihuni oleh penduduk aslinya dan masih pula berkebudayaan dan berperilaku dasar selayaknya ratusan tahun silam dengan sedikit referensi dan informasi mengenai modernitas dan pengembangan sumber daya manusia terbarui. Pola pikir perdagangan sangat kuat menancap hingga masyarakat ini melihat wilayahnya sebagai pasar raksasa, bukan lagi wilayah tempat tinggal dan wadah bersosialisasi. Ekspresi diri mereka adalah menjual, dengan tujuan finansial sebagai jiwanya. Begitu juga dengan perspektif terhadap dunia di luar mereka yang cenderung diabaikan dan tidak terlalu dianggap penting karena dirasa tidak memiliki dampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan mereka. Jika diperhatikan secara wajah wilayahnya, kampung Arab Surabaya tetap  memertahankan rumah-rumah bercorak Eropa, Cina, Melayu, dan bahkan Hindu Jawa seperti yang bisa dilihat pada Masjid Ampel sendiri sebagai salah satu monumen penting yang pertama-tama dibangun di wilayah ini. 
 
Memang para pendatang Arab tidak memberikan kontribusi pengaruh yang besar terhadap arsitektur, namun orang-orang ini memiliki semacam Feng Shui yang diadaptasi dari aturan-aturan dalam al-Qur’an dan al Hadits, memberikan pengaruh besar terhadap tatanan ruang dalam sebuah gedung, seperti pembagian wilayah privasi dan publik, ruang antara pria dan wanita, hingga letak kamar mandi. Belum lagi pembahasan mengenai dunia kuliner yang tidak kalah menariknya sebagai pemancing kedatangan wisatawan. Kesemuanya ini telah membentuk kawasan kampung Arab Surabaya begitu seksi dan eksotisnya sebagai komoditas pariwisata kota yang mampu membuat turis datang berbondong. Di saat kekhawatiran ini mulai terjadi, justru nafas dari kawasan tua ini tetap bertahan dengan “bantuan” dari pihak-pihak ketiga yang sering dikonotasikan negatif. Adanya kesempatan terhadap bisnis pendukung akhirnya melahirkan celah-celah ekonomi yang dikelola oleh pelaku di luar komunitas lokal, membentuk kelompok pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang jalan KH Mas Mansyur. Ironisnya, jika di masa lalu kehadiran PKL ini dikatakan menumpang eksistensi toko-toko yang ada, maka kondisi hari ini menunjukkan justru keberadaan PKL ini menjadi kekuatan utama ekonomi yang menghidupkan suasana di kawasan ini.  Kompleksitas tersebut membuat upaya-upaya pendekatan pemerintah terhadap kawasan ini menjadi agak terhambat dan mengalami dilema dengan hadir dan menguatnya PKL sebagai pihak ketiga dari rencana tersebut.
 
Seperti halnya di wilayah manapun, kemunculan PKL selalu dibaca sebagai kesempatan dalam memanfaatkan ruang kosong, dimana hal ini selalu berusaha dihapuskan dengan diciptakannya sentra yang dikhususkan bagi para pedagang ini. Dan seperti halnya di wilayah-wilayah itu, upaya ini tidak membuahkan hasil yang memuaskan karena kurangnya sosialisasi atau pendekatan yang mumpuni secara waktu dan publikasi. Alhasil solusi itu malah menambah masalah lainnya, yakni munculnya bangunan kosong karena diacuhkan perdagangan yang berusaha disentralkan itu, dimana mereka kembali menempati ruang-ruang kosong “kesempatan” mereka sebelumnya.

Dilema Taman Safari
Tahun 2016 Surabaya dinobatkan sebagai sustainable city, kota layak huni yang dipilih oleh PBB dengan program tahunannya UN Habitat yang diikuti sekitar 5000 peserta dari sekitar 50 negara. UN Habitat menawarkan program-program terkait urbanisme termasuk pengenalan dan tur dalam kampung-kampung yang digelar selama sekitar satu minggu di beberapa kampung terpilih dan ditata sedemikian rupa hingga siap menerima tamu-tamu tersebut. Penganugerahan ini dipandang sebagai kemenangan besar atas jerih upaya pembangunan kota Surabaya, terutama walikotanya, Risma Triharini yang sejak awal memiliki misi besar dalam menggalakkan Surabaya sebagai kota pariwisata. Melihat potensi dan sejarah Surabaya yang memang dimaksudkan sebagai kota perdagangan dan sedikitnya memiliki potensi alam maka jawaban dari keinginan tersebut adalah mengangkat kearifan masyarakat dan segala aspeknya, termasuk wilayah dan wajahnya, atau singkatnya kehidupan urban Surabaya.
 
Kampung-kampung di Surabaya yang jumlahnya ratusan dengan karakter masing-masing telah menawarkan potensi wisata teramat besar dan menarik sebagai alternatif yang juga bersifat edukatif. Dengan durasi program kerja yang tidak terlalu lama ketika eksperimen wisata terhadap kampung ini mulai dijalankan, muncul satu pertanyaan besar mengingat peraturan hukum oleh pemerintah yang mengaitkan isu heritage dengan segala sesuatu yang bersifat terlihat (tangible). Dimana agenda mendiskusikan kembali sumber daya manusia di kampung-kampung dalam tataran pemikiran dan edukasi tersebut sudah cukup mapan dan bijaksana dalam mengelola perubahan yang datangnya sedemikian cepat dan bahkan tak jarang mengusik kebiasaan yang telah berjalan ratusan tahun, terasa penting.
 
Pertanyaan yang sama juga muncul dalam kaitannya dengan upaya menjadikan kawasan Kampung Arab Surabaya sebagai kawasan wisata heritage, melihat kawasan ini sebelumnya terkesan eksklusif dan lugas dengan segala atribut budaya dan kebiasaan mereka lalu tiba-tiba saja muncul gejala-gejala kebaruan di tiap sudut toko dan ruang tamu rumah mereka. Tentunya pemikiran ini sifatnya masih berupa teori atau ramalan mengingat belum adanya perubahan signifikan yang terjadi hari ini. Namun kita bisa belajar dari dampak di beberapa kota lainnya yang sebelumnya telah lebih dulu menyerap kebaruan-kebaruan tanpa mengetahui dan mampu mengelola hal tersebut dengan bijak. Eksploitasi besar-besaran, baik oleh pihak luar dan terlebih oleh pihak dari dalam, harga komoditas perdagangan menjadi tidak lazim dan terjadi persaingan bisnis yang kurang sehat. Hingga tergesernya budaya asli oleh kebiasan-kebiasaan baru yang belum tentu cocok dan dibutuhkan wilayah maupun masyarakat tersebut. Di sisi lain banyak pihak yang mengharapkan kawasan ini tetap “terbekukan” dengan segala keindahan dan kecantikan visualnya khas romantisme masa silam. Kurangnya kesadaran-jika tidak bisa disebut sebagai ketidakpeduliaan-atas dampak jangka panjang dari pola pikir dan pemikiran semacam ini akan merubah kawasan tersebut menjadi Taman Safari. Sebuah diorama raksasa bagi wisata budaya dengan pemandangan aslinya, baik dari segi bangunan hingga aktifitas penduduknya tanpa diimbangi penyerapan informasi dan pengelolaan pengetahuan bagi warganya.
 
Maka persoalan mengenai sumber daya manusia cukup memiliki urgensi dilihat dari dampaknya terhadap arah perkembangan kawasan kampung Arab Surabaya hari ini dan kedepannya. Jika pola yang terjadi saat ini tidak mampu dirubah maka dapat dibayangkan bahwa di masa depan kawasan ini akan dimiliki dan dikelola oleh pihak luar yang tidak segan untuk merubah aset-aset yang ada sesuai dengan keinginan mereka. Lalu bagaimana dengan masyarakatnya? Entah mereka akan tergeser posisinya atau bahkan terusir dari rumahnya sendiri, dan yang lebih buruk adalah mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika hari itu datang. Hari berubahnya wajah dan nilai dari kampung Arab Surabaya. Kawasan kampung Arab Surabaya dengan segala latar belakang sejarah dan budayanya telah menawarkan alternatif baru bagi gairah pariwisata dan aspek-aspek kebaruan dalam masyarakatnya yang masih dianggap belum bijak mengelola informasi dan modernitas yang kini kian cepat bergerak di sekitar mereka. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor, yang pertama yakni dampak sejarah sebagai kawasan lokalisasi bentukan pemerintahan kolonial yang menghasilkan tatanan wilayah kota satelit nan mandiri sehingga memampetkan komunikasi dengan dunia luar. Faktor kedua yakni pertanyaan mengenai identitas Arab hari ini yang semakin ditantang oleh zaman, dimana di masa lalu cukup pekat menjadi perdebatan dan membawa dilema terhadap sudut pandang mengenai pentingnya identitas dalam skala pribadi, wilayah lokal, hingga pemikiran perihal dunia luas dan dinamikanya.
 
Faktor lainnya yang juga penting terkait dengan pemaknaan, pemahaman, dan penerapan Islam sebagai identitas yang memberikan pengaruh kuat dalam pembentukan budaya di kawasan kampung Arab Surabaya, yang di satu sisi diamini sebagai pemersatu perbedaan namun di sisi lain dinilai sebagai pembatasan terhadap nilai-nilai baru, sehingga terjadi dualisme bersikap masyarakatnya dalam menentukan nilai berdasarkan aturan agama dengan keinginan akan modernitas itu sendiri. Semua faktor di atas dalam perjalanannya dikhawatirkan menjadi isu sosial yang saat ini masih belum dirasakan terjadi secara intens, namun terasa semakin kuat dengan adanya keinginan-keinginan yang saling beradu antara kelompok pembaharu dengan kebutuhan akan perubahan dan kebaruan, berbenturan dengan  kelompok yang melihat kawasan ini sebagai kawasan heritage yang seharusnya dipertahankan seperti demikian adanya. Dari kesemuanya, yang paling penting adalah tingkat pengetahuan manusianya dalam menemukan kesadaran dan kebijakan mengolah kebaruan sehingga di masa depan mampu beradaptasi dengan tantangan yang ditawarkan zaman. 
 
Oleh
Adil Abdullah Albatati 
 
Diambil dari Srawung Kampung-Kota
KampungnesiaPress, 2017   
 

Berita Terkait