Musik, Humor, dan Dokumentasi Kota

Peluncuran album kedua band The Mudub, Kicau Kacau Kota, Sabtu 13 Mei 2017 malam lalu di Pendapa PN Lokananta Solo, adalah pencapaian gemilang dari kolaborasi erat antara musik, humor, dan dokumentasi kota. Proses kreatif penciptaan enam lagu dalam album kedua The Mudub ini melalui proses “dialog” dengan kehidupan di Kota Solo yang bisa jadi selama ini tak jadi pembicaraan banyak orang tapi dirasakan banyak orang.

Kicau Kacau Kota berisi enam lagu, yaitu Emosi di Jalan, Andai Aku Jadi Tarzan, Menuntut Ilmu, Sego Kucing [ejaan baku bahasa Jawa seharusnya “Sega”], Bakso Bakar Bang Brewok, dan Utamakan Karya. Peluncuran album ini pada Sabtu malam itu adalah pencapaian dari proses kreatif bertahun-tahun kuintet Arum Setiadi (vokal), Catur Ayudiono (gitar), Achmad Jeky Priliana (drum), dan Fauzan Abusallam alias Jampes (gitar bas).

Sebelum peluncuran album di Pendapa PN Lokananta tersebut, band yang lebih dikenal sebagai band humor ini, walau mereka berempat selalu bersikeras mengatakan musik mereka adalah musik serius, telah melalui proses panjang sejak 2014 bersama beberapa komunitas, salah satu yang utama adalah komunitas Kampungnesia. Mereka juga didukung Rumah Bloger Indonesia (RBI) Solo. Bersama komunitas ini The Mudub menggelar tur ke kampung-kampung di Kota Solo. Mereka konser di balai pertemuan RW, di depan pusat kesehatan masyarakat, di tepi jalan, atau dekat perempatan jalan kampung. Dalam tur kampung ke kampung itu penonton mencakup kalangan anak-anak, remaja, dewasa, perempuan, dan laki-laki.

Kampungnesia adalah komunitas yang diinisiasi mahasiswa pengikut kuliah studi perkotaan atau sosiologi perkotaan di Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret, dosen pengampunya adalah Akhmad Ramdhon.

Tujuh lagu dalam album Kicau Kacau Kota, menurut Arum Setiadi, dalam sesi dialog saat peluncuran album tersebut di Pendapa PN Lokananta, memang menggambarkan perkembangan kawasan urban, terutama di Kota Solo. Syair lagu-lagu itu terinspirasi kehidupan kawasan urban. Lagu Andai Aku Jadi Tarzan diciptakan untuk anak-anak kawasan urban guna menggugah kesadaran mereka ihwal pentingnya pelestarian alam, walau pada akhirnya fakta menunjukkan laju kerusakan alam begitu cepat.

Lagu Menuntut Ilmu adalah potret kehidupan remaja perkotaan. Lagu ini berisi satire atas laku menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal sekaligus ”lucu-lucuan” memaknai lembaga pendidikan sejak TK hingga perguruan tinggi. Masa SMA yang konon jadi masa-masa paling indah bagi remaja dalam pemaknaan The Mudub potensial menjadi bencana kala remaja terperosok dalam pergaulan bebas. SMA bisa menjelma menjadi ”saat menimang anak”.

Lagu Bakso Bakar Bang Brewok menggambarkan merebaknya bakso bakar di mana-mana. Lagu Sego Kucing menggambarkan warung hik yang jadi simpul kehidupan sosial di Kota Solo. Dua lagu ini juga mengisahkan kehidupan mahasiswa yang acap kali kehabisan uang saku. Sarapan telat dan makan murah jadi pilihan paling logis. “Lagu Emosi di Jalan itu terinspirasi ketika saya terjebak keramaian lalu lintas di kawasan dekat Terminal Tirtonadi. Saat lampu merah pengatur lalu lintas menyala bukan ketertiban yang terlihat, tapi ketergesa-gesaan, emosional, terburu-buru,” kata Arum.

Lagu ini tak mengandung unsur humor sama sekali. Menurut Catur Ayudiono, gitaris, ini memang lagu serius. Keseriusan itu tampak dari distorsi gitar yang dimainkan Catur dalam komposisi musik pengiring syair-syair Emosi di Jalan yang dilantunkan Arum. “Kala kali pertama lagu ini kami tampilkan banyak penonton yang heran. Kok tidak lucu sama sekali. Kata mereka ini bukan gaya The Mudub. Ya, ini memang salah satu sisi idealisme kami dalam bermusik,” kata Arum.

Ihwal kiblat bermusik, mereka berempat punya selera masing-masing. Di The Mudub mereka melebur dan menghasilkan karya musik dan lirik yang khas: berbasis realitas kehidupan kawasan urban, berbumbu humor yang orisinal, dan dikerangkai keterampilan bermusik kelas tinggi. Album Kicau Kacau Kota direkam di studio yang terkenal di kalangan musikus di Soloraya, yaitu Studio RDT. Ini menggambarkan keseriusan mereka bermusik. Band The Mudub yang lebih dikenal dengan predikat band humor ini berdiri pada 2008 dan sering tampil di panggung-panggung seni. Dari sinilah mereka dikenal sebagai pengusung musik humor.

Mereka terkenal di komunitas seni di Fakultas Seni Rupa dan Desain [dulu Fakultas Sastra dan Seni Rupa] Universitas Sebelas Maret dan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Baru kira-kira tiga tahun belakangan The Mudub melebarkan spektrum musik mereka. Belakangan mereka sering tampil di acara pekan seni (pensi) sekolahan-sekolahan dan kampus-kampus. “Ini bagian dari ikhtiar mengatasi urusan finansial,” kata Achmad Jeky Priliana, drummer The Mudub, yang disambut tawa keras ratusan orang yang memadati Pendapa Lokananta, Sabtu malam itu.

Genre musik mereka tergambar dari penamaan yang mereka ciptakan sendiri. Sejak 2014 mereka mengaku mengusung musik dramatic pop. Catur Ayudiono, gitaris The Mudub, mendefinisikannya sebagai perpaduan antara musik pop dan musik-musik genre lainnya sehingga memunculkan ”drama”, drama di panggung saat mereka konser maupun drama kehidupan yang dikisahkan dalam lagu-lagu mereka.

Sebelum itu mereka pernah mengusung genre—yang mereka namakan sendiri—melodic punk. Konser peluncuran album Kicau Kacau Kota Sabtu malam lalu itu didominasi humor. Tawa penonton nyaris tak putus sejak lagu pertama Emosi di Jalan yang dilanjutkan dialog sejam lebih dan kemudian konser dengan menyajikan lagu lainnya dari album Kicau Kacau Kota dan beberapa lagu yang tak masuk dalam album itu. Arum mendominasi humor-humor spontan dan berinteraksi dengan para penonton. Kala The Mudub menampilkan Lagu Kematian yang tak ada dalam album Kicau Kacau Kota, suasana sedih dalam lagu itu justru memunculkan tawa ”ngakak” para penonton. Syair lagu ini menggambarkan budaya bertakziah mengenakan pakaian hitam atau serbagelap.

Di tengah menyanyi lagu tentang kesedihan ditinggal sahabat dan para pelayat yang berpakaian hitam-hitam itu Arum bertanya,”Pakai hitam, siapa takut?” Pertanyaan yang dikenal sebagai kalimat dalam iklan sampo itu, dan menjadi bagian lirik lagi tersebut, memancing tawa panjang ratusan penonton. Kiprah The Mudub sejak berdiri hingga kini memang tak lepas dari komunitas. Komunitas itulah yang menginspirasi mereka berkarya, termasuk menghasilkan karya-karya absurd yang menghibur. Sehari-hari empat personel The Mudub bergelut di komunitas komik, desain grafis, desain komunikasi visual, seni mural, dan ilustrasi.

Beberapa tahun lalu mereka konser dan meluncurkan karak berjargon ”Karak Semangat”. Sebelum itu mereka meluncurkan keripik tempe berjargon ”Keripik Tempe Persabahatan”. Jamaknya band kan meluncurkan album dan merchandise sesuai albumnya. Ini malah meluncurkan karak dan tempe. Dalam sebuah konser lagi.

Band ini pernah mengalami pergantian personel, yaitu pemain gitar bas dan drummer, namun itu tak melunturkan semangat kekeluargaan di antara mereka. Jampes dan Jecky adalah generasi kedua bassist dan drummer. “Kami bermain musik, tapi musik bukanlah segalanya, bagi kami persahabatan tetap nomor satu,” ujar Arum. Malam itu eks drummer The Mudub, Tomy, yang kini—menurut penjelasan Arum–jadi juragan tenongan tampil bersama Jampes dan Catur mengiringi Arum menyanyikan lagu lawas The Mudub, Do’iku Kentut.

Ihwal humor yang mendominasi tiap konser The Mudub, Arum menjelaskan itu sebenarnya berawal dari kecelakaan. Kala awal The Mudub konser pernah terjadi Arum tak sanggup mencapai nada tinggi yang harus dia capai. Ia juga pernah luma refrain lagu yang dia nyanyikan. Catur juga pernah lupa urutan kunci gitar yang harus dia mainkan. Kecelakaan itu mereka tutupi dengan kelakar di tengah menyanyikan lagu. Musik tentu saja berhenti. Kelakar antarpersonel The Mudub malah jadi hiburan tersendiri.

”Ya, dari kecelakaan itu kemudian kami bulatkan tekad inilah gaya kami bermain musik di panggung,” ujar Catur. Seorang jurnalis dari Kabupaten Jember, Jawa Timur, Ika Ningtyas Unggraini, kini sedang studi pascasarjana di Universitas Sebelas Maret, yang Sabtu malam itu menonton konser peluncuran album Kicau Kacau Kota mengatakan,”Sangat puas dan sangat terhibur. Saya sampai lapar karena tertawa terus”. Stamina kuintet The Mudub, terutama Arum yang spartan melontarkan aneka kelakar dan humor di sela-sela menyanyi, adalah keunggulan band ini. Dalam setiap konser yang mereka gelar pasti selalu molor dari waktu yang dijadwalkan karena bumbu humor yang tiada henti.

Lagu Lovely Loundry yang bisa mereka selesaikan dalam waktu kurang dari tiga menit ternyata dalam konser bisa molor menjadi 20 menit karena bumbu humor dan kelakar di panggung serta interaksi “ger-geran” dengan penonton. Inilah keunggulan The Mudub yang harus dikelola menjadi ciri khas dan kekuatan mereka sekaligus menciptakan pasar, pasar penggemar mereka. Gaya humor orisinal yang mereka tampilkan harus selalu dimutakhirkan agar penggemar mereka di depan panggung tak ramai berteriak,”Lawas kuwi….!”, atau berteriak,”Wis tauuuuu…..!”

Absurditas mereka adalah sumber inspirasi yang tak akan habis. Nama band ini, The Mudub, singkatan dari Muka Dubur, adalah absurditas sekaligus orisinalitas. Muka Dubur sejatinya filosofis. Muka adalah awal. Dubur adalah akhir. Segala yang bermula akan berakhir.
 
Oleh Ichwan Prasetyo (Jurnalis)
Versi singkat naskah ini dimuat Harian Solopos edisi 17 dan 18 Mei 2017 
Sumber : https://anantasena.wordpress.com/2017/05/18/musik-humor-dan-dokumentasi-kota/
Foto : LPM VISI FISIP UNS 
 

Berita Terkait