Merekam Kali Pepe : Sowan Sesepuh Kandang Doro

Bagian Kali Pepe dimulai Jembatan Pose In atau tepatnya dari kampung Srambatan RT 01/RW 01 sampai dengan kampung Gumunggung Gilingan, mudah dijelaskan bahwa pada musim kemarau memperjelas keadaan Kali Pepe yang sesungguhnya. Apalagi saat ini bendung karet Tirtonadi ditutup sehingga Kali menjadi kering, hanya ada beberapa genangan yang berasal dari air limbah rumah tangga. Pada waktu dipenghujung tahun 2015, kondisi fisik Kali Pepe lebarnya berukuran 7 meter dan dengan tinggi genangan air 15-30 cm. Kondisi air Kali warnanya tidak lagi jernih, saat ini warnanya coklat kehitam-hitaman atau bahkan berwarna hitam pekat. Di siang hari sesekali air Kali mengeluarkan bau yang tidak sedap dan dimulai dari sore hari sampai malam hari disekitar kali pepe banyak bermunculan nyamuk. Untuk kondisi talud, talut memiliki tinggi 1-2 meter yang terbuat dari semen dan batu. Sepanjang kali pepe yang kita telusuri Kali di kelilingi pagar, dengan bentuk pagar yang bermacam-macam bentuk dan ukurannya. Untuk di kampung Srambatan ini dapat ditemui pagar besi setinggi 1 meter, namun pagar ini tidak sepenuhnya berdiri di sepanjang pinggir kali. Disini terdapat bagian bagian selebar 2-4 meter yang tidak ada pagar besinya. Pinggir kali yang tidak ada pagar besinya dapat dilihat disisi kiri Kali Pepe tepatnya di depan rumah-rumah yang atap teras rumahnya menjorok ke bagian kali. 
 
#Sowan Sesepuh Kandang Doro 
Dikampung Srambatan tepatnya disisi kanan Kali selain ada pagar besi di sepanjang pinggir Kali, juga terdapat sepadan atau lahan di dalam pagar besi selebar 60 cm. Jadi sepadan ini tepat di pinggir atas talud Kali Pepe dengan pembatasanya selebar 15 cm dan tingginya 80 cm yang terbuat dari semen. Area sepadan di manfaatkan untuk menanami tanaman buah buahan seperti mangga, kelapa, mengkudu, belimbing, delima dan pepaya serta juga terdapat tanaman seperti bunga melati dan beringin. Jarak antara tamanan yang satu dengan yang lainnya sekitar 1 meter. Berbe-beda di bagian sisi kiri Kali Pepe, di sisi kiri ini pagar besi sangat jarang sekali dan lahan untuk tamanan pun tidak banyak dan tidak tertata dengan baik. Jadi disisi kiri ini juga terdapat tamanan seperti mangga, kelapa, mengkudu namun tumbuhan ini tumbuh sembarangan di pinggir kali dan tumbuh di pinggir jalan di depan rumah warga dan tanaman yang terbanyak tumbug adalah pohon pisang. Tumbuhan di sisi kiri ini banyak tumbuh menjorok ke arah kali dan ranting ranting pohon pun banyak yang hampir mengenai air di Kali. Dimusim kemarau banyak terlihat sedimentasi di Kali Pepe, sedimentasi ini terjadi di beberapa titik sehingga akan menjadi penghalang untuk air mengalir. Ukuran sedimentasi di bermacam-macam ada yang terbilang kecil ada juga yang besar. Sedimentasi yang telah kita temui ukuran lebarnya 1-6 meter dan ukuran panjangnya 2-8 meter. Sedimentasi ini banyak ditumbuhi tanaman-tanaman liar seperti rumput dan eceng gondok. Untuk di sekitar sedimentasi juga terdapat tumbuhan seperti bayam, kangkung, pepaya dan pisang. Sepanjang kali yang kita telusuri terdapat satu sedimentasi dengan endapann tanah yang padat, memiliki lebar sekitar 1 meter dengan panjang 3 meter dan digunakan sebagai tempat pembakaran sampah, terlihat dari sisa-sisa abu bekas pembakaran. Sedimentasi ini ditemui di kampung Srambatan sisi kiri Kali Pepe.
 
Belum lagi di Kali pepe juga terdapat sampah yang banyak menumpuk di aliran air, sampah-sampah ini adalah hasil dari warga yang kurang memiliki kesadaran mengenai lingkungan bersih. Sampah yang terdapat di Kali Pepe memiliki jenis yang beragam, seperti halnya sampah rumah tangga yang berupaya plastik plastik bekas detergen, sabun, makanan, botol, pempers, stereform, karung dan bahkan kandang burung yang sudah rusak pun juga terlihat di aliran air Kali. Selanjutnya juga terdapat ranting-ranting pohon atau kayu kayu yang sengaja dibuang ke Kali. Sedimentasi dan sampah inilah yang menjadi kendala yang serius mengenai permasalahan Kali saat ini. Kondisi fisik sekitar Kali Pepe, terdapat bantaran kali selebar 5 meter disisi kanan dan ini gunakan warga sebagai jalan, jalan yang terbuat dari aspal. Disisi kanan kali ini perumahannya tidak terlalu kumuh, namun warganya banyak yang menampung barang-barang bekas di pinggir jalan, seperti halnya karung-karung bekas, kardus, sepeda bekas dan juga besi-besi. Bantaran Kali ini digunakan sebagai tempat parkir gerobak-gerobak jualan dan becak, digunakan sebagai tempat menjemur pakaian, digunakan untuk tumpukan kayu-kayu dan bahan bangunan berupa pasir dan batu serta ada juga terdapat tempat-tempat duduk warga. Di sekitar bantaran Kali sisi kanan juga telah disediakan saluran air yang mengalir ke arah kali, tempat-tempat sampah, pot-pot tanamn hias, tiang lampu, papan mading, tiang-tiang bendera, dan juga ada lahan yang lumayan luas serupa dengan lapangan bulutangkis namun lahan ini letaknya di depan rumah warga dan juga dijadikan lalu lalang jalan warga. Keadaan sisi kanan kali tidak berbeda jauh denga sisi kirinya. Disisi kiri perumahannya memang lebih kumuh. Bantaran Kali hanya selebar 1-2 meter, bantaran ini dijadikan jalan oleh warga, jalannya terbuat dari aspal. Pemanfaatan bantaran disisi kiri ini pun juga berbeda dengan disisi kanan. Disisi kiri bantaran kali dijadikan sebagai teras rumah warga dan bahkan untuk ruangan seperti ruang untuk berkumpul, memasak dan mencuci pun dilakukan di jalan (depan rumah).
 
Warga disisi kiri pun juga banyak yang menggunakan jalan sebagai tempat penampungan barang-barang bekas dan juga tempat parkir gerobak. Disisi Kandang Doro kiri terdapat satu WC umum, yaitu tepatnya di dekat jembatan. Di bantaran kali sisi kiri ini juga tersedia tempat-tempat sampah, pot-pot tanaman hias, tiang lampu, papan mading dan juga tempat-tempat duduk warga. Di kampung ini ada suatu keunikan tersendiri yaitu kali di bagian jembatan di ujung kampung terdapat sedimentasi yang sengaja dibuat. Sedimentasi ini dibuat selebar 1 sampai 1.5 meter dengan panjang hampir 6 meter. Di bagian pinggir sedimentasi di tancap-tancap bambu setinggi 30 cm dengan jarak antar bambu sepanjang 1 meter. Tepat dibawah jembatannya terdapat jaring-jaring yang melebar dengan tinggi jaring 30 cm. Sedimentasi dibuat agar aliran airnya mengalir dengan lancar di satu bagian sedangkan jaring-jaring dibuat agar sampah dapat terjaring di satu bagian sehingga air tidak lagi terhampat oleh sampah yang menumpuk. Namun karena air yang mengalir di Kali Pepe ini hanyalah limbah-limbah dari rumah tangga maka mengalirnya air tidak begitu nampak, yang terlihat hanyalah serupa dengan genagan air. Dan karena warga sekitar masih saja membuang sampah ke kali maka jaring-jaring yang dibuat pun di berfungsi sesuai apa yang diinginkan dan akhirmya sampah sampah tidak hanya terdapat disatu bagian namun jadi di dua bagian jaring.
 
Kondisi Kali Pepe di bawah jempatan rel kereta api ini cukup memprihatinkan juga karena aliran airnya tidak lancar yang disebabkan oleh banyaknya tanaman yang tumbuh subur. Tidak ketinggalan sampah-sampah juga terdapat di bawah jembatan ini. Selanjutnya menelusuri Kali Pepe setelah rel kereta api menuju arah mushola pinggir jalan kampung Gumunggung RT 03/03. Keadaan Kali Pepe dibagian kampung ini tidak terlalu berbeda dengan kampung sebelumnya. Namun ada perbedaan yang juga mencolok yaitu kondisi perumahan dan pemanfaatan bantaran Kalinya. Untuk kondisi fisik diwilayah ini lebar dan talut sama seperti kampung sebelumnya yaitu lebar 7 meter dengan talut setinggi 1-2 meter. Yang membedakan adalah di sepanjang pinggir ini tidak pagar besi, namun yang ada hanyalah pagar tembok (bata merah) selebar 25 cm dan tinggi 86 cm. Kondisi sedimentasinya pun tidak sebanyak di kampung sebelumnya. Namun disini pun juga terdapat sampah-sampah dari limbah rumah tangga, seperti halnya plastik plastik bekas detergen, sabun, makanan, botol, pempers, stereform dan juga ranting-ranting pohon. Kondisi  aliran airnya pun tidak tampak mengalir, jadi airnya hanya tergenang saja dan diperparah dengan tumbuh suburnya enceng gondok, kangkung, pepaya, dan tanaman liar. 
 
Kondisi fisik sekitar Kali Pepe, terdapat bantaran Kali selebar 70 cm dengan media tanah yang dijadikan sebagai resapan air dan tanaman dan 4 meter dengan media semen dan paving blok yang dijadikan sebagai jalan. Lahan selebar 70 cm ini banyak di tanami tanaman seperti halnya pisang, kamboja, asem, jambu, kelapa dan belimbing serta mangga, vegetasi mangga yag banyak terdapat di pinggir Kali merupakan sumbangan dari Pemkot. Jarak tanaman antar satu dengan yang lainnya selebar 2-4 meter, diwilayah ini tamanannya tidak sebanyak di kampung sebelumnya. Area di lahan seluas 70 cm bukan hanya ditemukan tanaman-tanaman tetapi juga terdapat sampah-sampah seperti plastik bekas makanan dan minuman dan diperparah dengan banyaknya batu-batuan, pecahan beling dan paku-paku. Wilayah ini sisi kiri dan sisi kanan Kali Pepe kondisinya sangat serupa, dimulai dari bentuk rumah, pemanfataan bantaran dan juga fasilitasnya. Bantaran kali diwilayah ini banyak digunakan sebagai tempat kandang ayam dan kandang burung. Selain itu juga digunakan sebagai tempat jemur pakaian, tempat parkir gerobak, tempat menampung bahan-bahan bangunan seperti pasir, kayu dan bata, tempat jemur kasur dan ada satu warga yang membuat dapur di depan rumah di pinggir jalan dekat kali serta terdapat gazebo sederhana yang digunakan untuk warga duduk-duduk ada juga saluran-saluran air yang mengarah ke aliran kali. Di dekat kali pun juga terdapat tempat-tempat sampah, sapu dan tiang listrik. Yang membedakan adalah tidak tersedianya papan mading dan juga tempat tiang-tiang bendera.
 
Permasalahan banjir dan pembangunan di Kali Pepe ini, menurut pak Sutopo warga Kandang Doro RT 3/RW 6 sekitar 20 tahun yang lalu ia mengatakan bahwa kondisi tanggul Kali Pepe masih berupa batu serta saat itu tidak ada warga yang terjangkit penyakit atas keberadaan kali di depan rumah. Pernah terjadi pengerukan kali yang diadakan, pengerukan sekitar 300 meter dan tanggul naik pun di naikan sekitar 50 cm dari Kali karena banjir, namun pembangunan tanggul ini menyisakan masalah seperti halnya bahan material malah masih menumpuk sekitar pagar. Menurut Tri Wahyu Karang Taruna Kandang Doro pernah diadakan pendalaman Kali yaitu dengan pengerukan tanah, yang lalu membuat taman (pada saat itu taman) atau ruang terbuka di dekat Kali menjadi rusak dan kotor. Pada tahap pengerukan tanah ini menimbulkan ketidaknyaman warga sekitar di Kandang Doro dikarenakan mengganggu aktivitas warga. Kali di sekitar Kandang Doro sudah pernah diadakan pengerukan lumpur pada tahun 2014. Warga disekitar pun sudah mulai terbiasa dengan melakukan hal hal baik untuk menjaga kebersihan Kali Pepe. Bagian lainnya, kurangnya lahan lapang dalam kampung, menyebabkan banyak anak kecil yang bermain disekitar area berbahaya bagi anak anak, seperti rel kereta api, jalan raya besar, anak-anak seperti terisolasi dalam ruang orang dewasa padahal anak-anak  membutuhkan ruang yang nyaman dan aman. 
 
Tentu dengan banyak perubahan, harapan masyarakat sekitar Kali Pepe adalah bakal adanya Kali yang bersih, sehat, dan airnya tidak mengandung sampah dan limbah. Masyarakat berharap agar Pemkot bertindak dengan benar dan serius. Misal seperti program pengerukan Kali seharusnya pengerukan tersebut benar-benar dilakukan dengan baik dan benar. Jika Kali sudah selesai dikeruk seharusnya bekas pengerukannya dibuang di tempat pembuangan yang benar. Lalu setiap warga sendiri juga berharap kepada para warga yang lainnya untuk bisa sama-sama saling menjaga kebersihan lingkungannya, misalnya saling mengingatkan agar tidak membuang sampah di Kali. Kemudian untuk orang asing yang mungkin dengan sengaja membuang bekas makanan atau minuman ke Kali agar bisa di tegur dan mungkin bisa juga diberi sanksi. Terkait kebutuhan untuk anak-anak yang suka bermain di pinggiran Kali agar tidak mengotori Kali dengan memotong tanaman-tanaman yang sengaja di tanam di pinggiran Kali untuk keindahan alamnya namun dapat menimbulkan tumpukan sampah. Lalu harapan masyarakat yang sangat besar adalah agar program pemerintah yang katanya Kali pepe akan dijadikan sebagai Sungai Wisata segera dilaksanakan dan tidak hanya sebagai isu belaka. Karena jika Kali Pepe tersebut benar dijadikan sebagai Sungai Wisata maka akan memberikan banyak dampat positif terhadap semua orang terutama masyarakat yang bertempat tinggal di area bantaran Kali, misalnya dengan munculnya Sungai Wisata otomatis membuka lapangan pekerjaan baru untuk warga Surakarta yang statusnya masih sebagai pengangguran atau tidak bekerja, mereka bisa melamar pekerjaan sebagai pegawai atau pemandu wisata di Sungai Wisata tersebut. Mereka juga bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri seperti membuka jasa parkir, penyewaan ban, pelampung, perahu karet, dan sebagainya. Membuka warung makan atau warung kopi sebagai tempat bersantai dan beristirahat para wisatawan sambil menikmati keindahan Kali. Selain itu juga masyarakat berharap agar limbah-limbah dari terminal dan WC umum yang ada di belakang Terminal Tertonadi tidak di buang langsung diKali Pepe, karena dapat merusak kadar air sehingga air tidak dapat dimanfaatkan, dan juga akan menimbulkan berbagai macam penyakit, seperti gatal-gatal, demam berdarah, dan sebagainya.
 
Namun dari berbagai harapan yang diinginkan oleh seluruh masyarakat Surakarta terkebih mereka yang bertempat tinggal di sepanjang bantaran Kali Pepe, fakta yang nampak jelas adalah apa yang mereka lakukan tidaklah sesuai dengan harapan yang mereka inginkan sehingga sampai kapanpun tidak akan memunculkan dan mampu mewujudkan semua harapan-harapan yang selama ini di inginkan oleh mereka. Misalnya mereka masih suka membuang sampah, meskipun selama ini pemerintah sudah berusaha melakukan program pengerukan kali namun jika masyarakatnya tidak membantu dengan tidak membuang sampah di Kali maka hasilnya juga akan nihil. Memang untuk mewujudkan sesuatu yang merupakan harapan bersama juga harus dilakukan dan dikerjakan secara bersama juga agar hasilnya bisa maksimal dan terwujudlah sesuai dengan harapan-harapan yang ada. Jika masyarakat hanya mengandalkan pemerintah tanpa menyadari kesalahannya maka hasilnya akan nihil, sebaliknya jika Pemkot tidak menegaskan peraturan terhadap masyarakat maka hasilnya juga akan nihil, karena semua itu memang butuh proses yang panjang dan kerja sama yang kuat antara pemerintah dengan masyarakat setempat, terutama kesadaran dari diri masing-masing juga sangat penting dan dibutuhkan sekali.
#KotaSolo #KaliPepe #Kampung #KampungKota #Kampungnesia 
 
“Dulu  kanan kiri Kali Pepe masih berupa tegalan,
yang banyak ditumbuhi tanaman pohon Pisang, pohon Mangga,¬† Pohon kelapa, tumbuhan alang‚Äďalang dan lain sebagainya.¬†
Dan tidak hanya itu, dulu dipinggir‚Äďpinggir sungai masih berupa kumpulan tanaman liar.
Kali Pepe ini sudah mengalami beberapa kali perubahan, yaitu dari proyek pembangunan dari pemerintah era tahun 70an.
Waktu itu pinggiran Kali Pepe sudah dipasangi pager, namun  masih terbuat dari gedhek dan belum ada yang dipageri batu. 
Dan pada tahun 90’an Kali Pepe dibenahi lagi, bagian pinggir kali diplengseng pakai batu,
jadi sampai sekarang total  pembenahan Kali Pepe sebanyak 3 Kali.  
Tahun 1993 pembangunan Kali Pepe baru selesai, dan setelah itu dilanjutkan pembangunan troroar
 dengan penanaman pohon disekitar bantaran Kali Pepe.
(Bapak Soewito, Kandang Doro).
 

Diambil dari Merekam Kali Pepe
KampungnesiaPress, 2017 

Berita Terkait