Merekam Kali Pepe : Bersua Stasiun Balapan

Berikutnya, selepas menyusuri Kali Pepe di mulai daerah belakang Terminal Tirtonadi yang merupakan hulu Kali Pepe sampai dengan daerah Stasiun Balapan tepatnya sampai jembatan depan Pose In Hotel. Sedangkan perjalanan berikutnya dari jembatan kedua setelah Rumah Sakit Brayat Minulya dan berakhir di jembatan sebelum rel kerta api Stasiun Balapan. Kali Pepe bagian ini sendiri terletak diantara Kelurahan  Gilingan dan Mangkubumen. Sebelah kiri Kali masuk kampung Gumunggung Gilingan dan sebelah kanannya masuk kampung Sambeng, Mangkubumen. Berjalan kaki dari jembatan kedua setelah RS Brayat Minulya, untuk memulai dari titik awal untuk melihat keadaan dan kondisi Kali. Dari titik pertama berjalan terlihat air yang menggenang atau tidak mengalir, kalau mengalirpun dengan debit air yang sangat kecil sampai-sampai hanya terlihat menggenang. Namun di beberapa titik setelahnya masih ada air yang mengalir pelan. Air ini berasal dari limbah cair warga pinggir Kali yang dibuang secara langsung sehingga air yang mengalir di Kali pada musim kemarau, terlihat hitam seperti saptitank. Di sepanjang Kali dengan sangat mudah ditemui sampah yang menumpuk dan mengambang. Mulai dari sampah dedaunan sampai sampah rumah tangga menghiasi Kali. Terdapat banyak titik sedimentasi, bahkan hampir di sepanjang Kali terdapat sedimentasi yang bervariasi lebar dan bentuknya, menurut warga sedimentasi ini terjadi justru setelah program pengerukan Kali. Dan warga merespon dengan  memanfaatkan sedimentasi Kali  menjadi kebun yang ditanami sayur-sayuran berupa sawi, tomat, cabai, dan singkong. Selain itu sedimentasi juga dimanfaatkan anak-anak untuk bermain. Seperti sedimentasi yang terdapat di wilayah Sambeng yang airnya hanya seperempat dari luas Kali Pepe dan sisanya merupakan sedimentasi yang digunakan untuk tempat bermain anak-anak. Terlihat ada anak-anak yang sedang naik-turun ke berlari-lari di sedimentasi Kali, dan ada juga yang memancing ikan. Hal itu berarti  masih kurang tersedianya ruang publik terutama untuk arena bermain anak. Sepadan Kali yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk tempat bermain anak-anak, banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar utnuk memarkirkan mobil pribadinya, karena luas rumah mereka yang terbatas.  
 
Kemudian selanjutnya mulai mengukur area Kali Pepe. Pengukuran pertama juga dimulai dari jembatan kedua setelah Rumah Sakit Brayat Minulya. Di sini tercatat lebar Kali 8,5 m, lebar air 4,73 m, lebar sedimentasi 2,6 m, dengan lebar dasar 7,33 m dan tinggi talud 1,16 m. Lima puluh meter pertama terhitung sampai dekat toilet umum sebelah pohon beringin.  Di area 50 meter pertama terdapat vegetasi  tanaman yang ada di dalam Kali yaitu eceng gondok, bayam, krokot, kangkung, pace, talok, dan rerumputan. Terdapat juga hewan yang hidup di dalam maupun sekitar  seperti cetol, jentik-jentik nyamuk, cacing, dan yang tak kalah banyaknya adalah sampah. Terdapat banyak sekali sampah dedauan dan juga botol-botol plastik, kantong plastik, serta sampah rumah tangga berupa bungkus sabun dan pembalut. Juga terlihat ada bekas batu-batu reruntuhan bangunan. Selain itu terlihat juga gorong-gorong yang digunakan sebagai sanitasi atau saluran air warga. Ada 11 saluran air di sepanjang 50 meter pertama ini. Namun hanya 5 saluran air yang terlihat masih aktif yang ditandai dengan masih adanya aliran air dari saluran tersebut. Sesudahnya dimulai dari pohon beringin sampai dengan belokan Kali yang di dekatnya terdapat Balai Pertemuan. Di batas dekat pohon beringin ini terhitung lebar 8 m, lebar sedimentasi 2,9 m, lebar air 4,2 m, lebar dasar 7,1 m, dan talud setinggi 1,35 m, serta kedalaman air 18 cm. Di area ini tumbuh tanaman-tanaman yang hampir sama dengan area pertama seperti eceng godok, bayam, kangkung, talok, rerumputan. Hewan yang hidup juga masih sama yaitu jentik, cetol, dan kecebong. Sampah yang ada pun juga masih banyak dan lebih bermacam-macam lagi, mulai dari sampah dedaunan kering, botol plastik, popok, pembalut, batu bata, reruntuhan bekas bangunan. Saluran air tidak sebanyak di wilayah sebelumnya. Hanya ada 4 saluran air, sedangkan yang aktif hanya satu.
 
# Berjumpa Stasiun Balapan 
Selanjutnya dimulai dari kelokan Kali dekat Balai Pertemuan sampai dengan jembatan Mangkubumen. Di  sana terhitung lebar  8,69 m, lebar dasar  8 m, dan kedalaman air 4 cm. Terdapat aliran air di tengah-tengah sedimentasi yaitu dengan lebar air 3,13 m dan lebar sedimentasisebelah kanan 3,15 m dan sebelah kiri  1,72 m. Disini mulai terlihat sedimentasi yang lebih parah dibandingkan dengan lima puluh meter sebelumnya. Sedimentasi ini, ketika musim kemarau tiba dimanfaatkan warga menjadi kebun dengan ditanami sawi, tomat, cabai, dan singkong. Terkadang setiap sore juga dimaanfaatkan anak-anak untuk bermain. hanya terdapat dua saluran air, yang satu sudah tidak aktif atau tidak digunakan. Di sisi kanan Kali Pepe terdapat Tempat Pembuangan Sampah. Namun TPS ini kurang mendapat perhatian, karena sampah-sampah justru ada yang meluap hingga masuk ke aliran Kali. Selain itu aroma menyengat dari TPS ini sangat menganggu warga sekitar. Seperti bantaran Kali sebelumnya banyak sampah yang menumpuk seperti dedaunan kering, botol plastik, styrofoam, dan sampah rumah tangga lainnya. 
Kemudian titik berikutnya dimulai dari jembatan Mangkubumen sampai dengan tiang lampu pertama yang berada di sebelah kiri Kali. Dari bawah jembatan tercatat lebar 7,22 m, lebar air 3,74 m, lebar sedimentasi 3 m, dengan lebar dasar  6,74 m dan tinggi talud 1,25 m. Terdapat vegetasi yang tumbuh di area ini seperti bayam, talok, kangkung, hingga tapak doro. Hewan-hewan yang hidup berupa cetol, ikan sapu-sapu, cacing, dan kadal. Terdapat 17 saluran air dan saluran pembuangan dari warga di sepanjang kanan kiri Kali. Hampir semua saluran air masih aktif, hanya terdapat 2 saluran air yang kering, kemungkinan sudah tidak digunakan lagi. Dijembatan Mangkubumen ini biasanya warga sekitar melihat, banyak pengendara sepeda motor yang bukan warga sekitar kampung Sambeng dan kampung Gumunggung yang membuang sampah, berupa sampah yang sudah dibungkus denngan plastik kresek. Jika warga sekitar ada yang melihat pengendara sepda motor yang membuang, maka mereka akan segera menegur. Namun, kebanyakan dari pengendara yang membuang sampah pada malam hari, sehingga warga sekitar sepadan merasa kecolongan.
 
Selanjutnya, dimulai dari tiang lampu pertama sampai dengan pohon nangka beberapa meter setelah tiang lampu kedua. Dari batas tiang lampu pertama tercatat lebar 10,68 m, lebar air 3,23 m, lebar sedimentasi 5,81 m dengan tinggi talut 1,32 m dan lebar dasar 9,04 m.  Mulai dari titik ini, Kali terlihat semakin lebar dan vegetasi yang hidup berupa eceng gondok, kangkung, bayam, dan rerumputan. Hewan yang terdapat di area ini adalah cacing dan cetol. Sampah juga menumpuk dan berserakan, kebanyakan sampah dedaunan, sampah bekas, botol-botol plastik, ban bekas, dan sampah rumah tangga. Terdapat 13 saluran air di area 50 meter kelima ini yang 6 diantaranya sudah tidak aktif atau tidak digunakan lagi karena terlihat kering dan lubangnya hampir tertutup tanah. Sedimen cukup lebar ditumbuhi rerumputan. Mulai dari sini, sedimentasi Kali sudah mulai mengkhawatirkan. Separuh dari lebar sungai pada titik ini terjadi proses sedimentasi.
Lalu penanda berikutnya dimulai dari pohon nangka setelah tiang lampu kedua sampai dengan bengunan yang menjorok ke Kali.  Tercatat lebar 8,1 m, lebar air 2,74 m, lebar sedimentasi 4,16 m, dan lebar dasar 6,9 m. Di area ini juga terdapat tanaman enceng gondok yang cukup banyak dan rerumputan diseluruh sedimentasi. Hewan-hewan yang hidup berupa ikan-ikan kecil atau cetol. Sampah juga tak ketingggalan menghiasai area Kali. Terdapat banyak sampah rumah tangga, botol-botol plastik memenuhi titik Kali Pepe. Di bagian kiri sungai terdapat pemandangan yang cukup langka berupa bangunan yang menjorok ke Kali Pepe yang merupakan balai kampung Gumunggung. Pada bagian ini  sedimentasi yang ada mirip dengan lapangan, sehingga dimanfaatkan oleh anak-anak sekitar kampung utnuk bermain bola atau sekedar menggelar tikar utnuk berbincang-bincang oleh anak-anak perempuan. Pemandangan ini sungguh sangat miris. Melihat anak-anak di luar sana memiliki akses ruang bermain lebih luas, namun disini anak-anak hanya bisa memanfaatkan sedimentasi sebagai area bermain mereka. 

Lima puluh meter ketujuh dimulai dari bangunan pertama yang menjorok ke Kali sampai dengan pohon mangga sebelah Balai RT. Tercatat lebar  7,45 m, lebar air 2,46 m, lebar sedimentasi 4,24 m, lebar dasar 6,66 m, dengan tinggi talut 0,78 m. Airnya keruh berwarna hitam, karena saluran air dan pembuangan dari warga langsung dialirkan ke Kali. Jenis tanaman yang hidup adalah kangkung, bayam, pace, mengkudu, hingga papaya, dan di dalam air terdapat banyak sekali ikan-ikan kecil atau cetol. Sedimentasi yang cukup luas penuh ditumbuhi remputan yang ditengah-tengahnya terdapat pohon pepaya setinggi ±1,5 m. Aliran air Kali hampir mirip selokan karena lebar airnya yang sangat sempit dibandingkan sedimentasinya. Di area ini kembali terdapat pemandangan bangungan yang menjorok ke Kali yang dibangun warga sebagai Balai RT di kampung Gumunggung. Sedangkan di sisi kanannya terdapat pagar tembok yang hancur saat proses pengerukan. Pada proses pengerukan sebelumnya tembok Kali ini rusak karena untuk menurunkan dan menaikkan alat berat untuk proses pengerukan dan tanah yang dihasilkan dari proses pengerukan.
 
Pada sisa panjang Kali, mengukur sebanyak dua bagian, yaitu diurutan  pohon mangga dan kemudian di belakang mushola. Di titik pohon mangga tercatat lebar 7,2 m, lebar air 1,46 m, lebar sedimentasi 5,36 m, dan lebar dasar 6,82 m dengan talut 0,74 m. Kemudian di wilayah belakang mushola tercatat lebar Kali 1068 m, lebar air 3,23 m, lebar sedimentasi 5,81 m dengan tinggi talut 0, 58 m dan lebar dasar 9 m. Terdapat banyak sekali eceng gondok dan kangkung. Memang tanaman eceng gondok dan kangkung mendominasi jenis vegetasi yang hidup di sepanjang Kali Pepe. Selain itu juga terdapat ikan-ikan kecil yang hidup di air serta ikan sapu-sapu dan lele yang sering dipancing oleh anak-anak kampung Gumunggung maupun Sambeng. Sampah yang banyak juga masih terlihat dan semakin bertambah macamnya, mulai dari botol plastik, gedebok pisang, dedaunan kering, baju bekas, bantal bekas, dan berbagai macam sampah rumah tangga lainnya.
 
Perubahan keadaan Kali Pepe ini sangat dirasakan oleh warga sekitar bantaran. Menurut mereka 30 tahun yang lalu air Kali Pepe masih sangat jernih dan masih bisa dimanfaatkan utnuk anak-anak bermain. Ikan-ikan yang terdapat di Kali juga beraneka macam. Mereka sering memancing di Kali Pepe namun sekitar tahun 1999 Kali sudah mulai tercemar oleh limbah industri dan limbah dari arah Terminal. Hingga pada tahun 2000-an keadaan Kali  menjadi sangat parah, air Kali berubah menjadi hitam dan banyak sampah. Pada musim kemarau, aliran air di Kali ini hanya menggenang namun pada musim penghujan aliran Kali lancar, airnya bersih dan sampah-sampah sudah tidak ada karena terbawa oleh aliran Kali Pepe. Di sepanjang Kali mulai dari titik awal sampai titik akhir segmen kami terlihat sepadan sudah dibangun pagar tembok. Di sebelah kiri tepatnya yang berada di wilayah kampung Gumunggung dibangun pagar tembok setinggi ± 0,5 m yang merupakan salah satu program dari Pemkot.  Menelusuri sepadan sepanjang Kali di sebelah kiri maupun kanan. Dari titik awal pengamatan di sebelah kanan, terlihat ada gundukan tanah dan batu bata yang ditata namun sedikit berserakan yang ditanami beberapa pohon.  Pagar tembok di sebelah kanan tidak serapi dan sebagus pagar di sebelah kiri. Berdasarkan informasi dari warga yang tinggal di situ  pagar dibangun dari swadaya masyarakat sendiri dan bukan atas program pemerintah seperti di wilayah kampung Gumunggung. Sepadan oleh warga banyak dimanfaatkan untuk menanam pohon. Sebagian ditanam sendiri berdasarkan inisiatif sendiri dan sebagian ada yang bibitnya berasal dari Pemkot yang diprogramkan untuk ditanam di sepenjang bantaran Kali Pepe. Terlihat berbagai macam pohon tumbuh di senjang sepanjang sepadan seperti pohon mangga, belimbing, pohon nangka, pohon pisang, pohon melinjo, pohon jeruk, pohon sukun, pohon pepaya, pohon jambu,dan masih banyak lagi. Banyak dijumpai pohon-pohon tersebut dijadikan tempat jemuran dengan memasang galah diantara dua atau tiga pohon. Disepanjang area dikampung Sambeng ini hanya terdapat satu toilet umum, yaitu di area jembatan Mangkubumen, namun keadaan toilet ini sangat kurang terawat dan beraroma sangat tidak sedap. Toitel ini kebanyakan hanya digunakan oleh para tukang becak yang juga mengambil sampah di TPS yang juga bersebelahan dengan toilet umum tersebut.
 
Selain itu sepadan juga dimaanfaatkan warga untuk menjadi taman kecil pribadi di depan rumah. Warga berinisiatif sendiri menjadikan sepadan di masing-masing depan rumahnya untuk dibangun pagar dan dijadikan taman kecil yang diletakkan beberapa pot bunga yang ditata sedemikian rupa. Di sebelah kiri juga hampir sama. Pagar tembok sudah bagus dan rapi. Sepadan banyak dimanfaatkan untuk ditanami pohon dan dan dibuat taman kecil untuk meletakkan pot-pot bunga. Saat pengamatan terdapat pemandangan yang cukup tidak biasa, yaitu adanya dapur di sepadan sebelah kanan tepatnya di RT 02 kampung Sambeng. Sehingga, di situ terlihat ada seorang ibu-ibu sedang menggoreng tempe di depan tungku sederhananya. Selain itu terdapat pemandangan yang tak kalah menariknya di sisi kiri yaitu dua bangunan yang menjorok ke Kali di wilayah RT 02 dan RT 03/RW 03 kampung Gumunggung. Bangunan tersebut merupakan Balai RT dan Balai RW kampung Gumunggung. Menurut cerita warga, balai RT dan balai RW tersebut dibangun sendiri oleh masyarakat melalui dana swadaya dari masyarakat sendiri. Menurut warga sekiat juga, untuk ijin bangunan yang digunakan untuk kepentingan umum, seperti balai pertemuan ini, perangkat desa memberikan ijin untuk dibangun dibibir Kali bahkan dua bangunan di kampung Gumunggung ini sampai menjorok ke Kali. Sepanjang penelusuran di Kali Pepe ada berbagai fasilitas seperti tempat sampah, kursi, tempat duduk permanen, lampu-lampu jalan, toilet umum, balai pertemuan, Balai RT, Balai RW, dan Mushola. Ada banyak sekali tempat-tempat duduk baik permanen atau nonpermanen yang ada di sepanjang bantaran Kali yang digunakan warga untuk mengobrol dan bercengkrama dengan keluarga maupun tetangga sekitar. Tempat sampah tampak tersedia di hampir seluruh masing-masing rumah, namun karena kurangnya kesadaran warga tentang membuang sampah, masih saja banyak sampah yang dibuang di Kali padahal sudah tersedia tempat sampah. 
 
Keadaan Kali Pepe sendiri berubah seiring berjalannya waktu. Dampak kerusakan Kali yang terjadi mengakibatkan kondisi kuantitas (debit) air Kali Pepe terjadi kesenjangan antara musim penghujan dan kemarau. Selain itu juga penurunan cadangan air serta tingginya laju sendimentasi. Sehingga terjadinya banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. Apabila kualitas dan kuantitas terganggu dan terjadi penurunan, maka dapat dipastikan akan terjadi pula penurunan kualitas lingkungan yang pada akhirnya mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat sekitar.  Masyarakat bantaran Kali Pepe ini memiliki peranan penting dalam merawat Kali. Mereka menjadi tombak utama dalam menentukan apakah Kali Pepe menjadi Kali yang layak maupun tercemar. Karena itu sangat menarik bila membahas tentang warga sekita Kali Pepe. Warga bantaran pada area ini menempati kampung Gumunggung dan kampung Sambeng. Kampung Sambeng dan Gumunggung merupakan salah satu kampung yang dilewati oleh aliran Kali Pepe yang berada di Banjarsari. Kecamatan Banjarsari ini merupakan kecamatan terbesar dikota Surakarta dan terletak di pusat kota Surakarta. Kampung Gumunggung sendiri berada disebelah utara Kali Pepe pada bagian area terdiri dari RT 01/RW 02, RT 02/RW 02, RT 03/RW 02 dan RT 04/RW 02 kelurahan Gilingan. Sedangkan untuk bagian kampung Sambeng yang berada di Selatan Kali Pepe terdiri dari RT 02/RW 02, RT 03/RW 02, RT 01/RW 03, RT 02/RW 03 dan  RT 03/RW 03 kelurahan Mangkubumen. 
 
Kondisi wilayah yang terbagi oleh Kali Pepe tersebut maka pola pemukiman warga kampung Sambeng dan Gumunggung bersifat linier, berjajar di sepanjang kedua sisi kali, dengan pintu utama menghadap ke Kali. Bentuk rumah di kampung Sambeng maupun Gumunggung adalah rumah permanen. Rumah Permanen adalah seluruh bagian rumah menggunakan bahan permanen yakni dinding terbuat dari batu bata atau batu, atap menggunakan seng atau genteng dan memiliki lantai.  Semua rumah di kampung Gumunggung dan Sambeng ini sudah termasuk dalam kategori rumah permanen, dimana rumah sudah terbuat dari batu-bata dan kebanyakan dari mereka sudah memiliki jaringan listrik dan kamar mandi sendiri. Kondisi rumah disepanjang Kali Pepe di kampung Sambeng dan Gumunggung secara umum kondisi fisik sebagian besar didominasi oleh pemukiman yang lebih teratur dibanding yang lainnya. Namun, dengan kondisi rumah yang padat dan memiliki luas bangunan yang sempit, membuat kondisi rumah di daerah ini terlihat kumuh. Sebagian bangunan bantaran Kali Pepe berdiri diatas bangunan negara, sehingga banyak warga yang khawatir mengenai isu relokasi. Seperti kampung Sambeng RT 02, RT 03, RT 04 dan sebagian kampung Gumunggung RW 03 belum memiliki sertifikat tanah. Mereka menempati tanah milik PT Kereta Api Indonesia dengan sistem sewa.   Banyak dari warga yang merupakan warga pendatang yang sebelumnya belum memiliki  rumah, kemudian menyewa tanah PT Kereta Api Indonesia  dibantaran Kali Pepe untuk membangun rumah. 
 
Banyak dari warga kampung Sambeng dan Gumunggung yang tidak memiliki saptitank sehingga limbah cair mereka langsung dibuang ke Kali. Walaupun ada sebagian warga yang memiliki saptitank sendiri, namun masih didominasi oleh warga yang belum memiliki saptitank. Kebanyakan warga hanya memiliki kamar mandi dan tempat mencuci sendiri, sedangkan untuk WC mereka menggunakan WC umum yang sudah disediakan. Sepanjang area ini terdapat 4 WC umum. Sedangkan air limbah kamar mandi dan cucian akan langsung dibuang ke Kali. Untuk itu Pemkot berencana membuat saptitank komunal utnuk warga di kampung Sambeng dengan anggaran 300 juta rupiah. Diharapkan limbah cair dari warga ini dapat ditampung menjadi satu dan dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas yang dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar. Namun program ini sepertinya masih dalam tahap perencanaan dan sosialisasi. Buktinya masih banyak warga yang belum mengetahui program pembuatan saptitank komunal ini. Sebagai wilayah yang telah terbuka oleh kehadiran pendatang, sarana dan prasarana di kampung belum memadai mulai dari ketersediaan lahan yang masih snagat kurang untuk menampung warga pendatang. Fasilitas publik yang belum memadai, baik fasilitas untuk anak-anak bermain maupun fasilitas publik lainnya. Jika dilihat dari akses menuju kampung Sambeng dan Gumunggung, sangat mudah dicapai baik dengan kendaraan roda dua maupun dengan kendaraan roda empat. Daerah ini termasuk daerah yang strategis. Namun infrastruktur jalan didaerah ini masih jauh dari kata layak. Karena ada bebrapa titik menuju daerah ini mengalamai kerusakana, terlebih jalan di pinggir Kali Pepe ini. Untuk mendapatkan kebutuhan mereka, warga sekitar kampung Sambeng dan Gumunggung memanfaatkan Pasar Nongko yang memiliki jarak sekiatar kurang lebih satu kilometer. Sedangkan untuk mendapatkan akses pendidikan yaitu SD Munggung 2 yang hanya berjarak sekiar 500 meter. Untuk akses kesahatan warga di kampung menggunakan Puskesmas pembantu di daerah belakang Terminal Tirtonadi.
 
Sistem mata pencaharian merupakan salah satu yang cukup penting dalam kehidupan manusia, karena dari mata pencaharian yang  dihasilkan, dapat memenuhi kehidupan mereka. Warga kampung memiliki beragam mata pencaharian. Akan tetapi, mata pencaharian yang banyak dilakukan oleh masyarakat kampung adalah pedagang. Baik berdagang dirumah maupun berdagang keliling menggunakan gerobak, mulai dari pedagang sate, warung klontong dan pedagang makanna kecil. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai pegawai, tukang becak dan berbagai macam pekerjaan lainnya. Warga antar kampung Sambeng dan Gemungggung, tidak ada interaksi sehingga cenderung menyalahkan satu sama lain untuk masalah pencemaran Kali. Saat proses wawancara dengan warga, dapat diketahui bahwa warga antar kampung menyalahkan satu sama lain tentang pembuangan sampah rumah tangga. Padahal bila dilihat baik dari warga kampung Sambeng maupun Gumunggung juga sering membuang sampah ke Kali. Menurut warga, keberadaan Kali Pepe sangat penting, mulai dari pernyataan warga yang menyatakan Kali penting untuk pembuangan limbah cair rumah tangga, sampai warga yang menyatakan Kali penting karena Kali Pepe merupakan bagian dari hidup mereka. Selain itu terdapat hal menarik disini yaitu konon adanya mitos tentang harimau putih dan kera putih penunggu jembatan Mangkubumen. Namun itu jaman dahulu, sekarang dengan semakin berkembangnya pola pikir warga masyarakat, mereka sudah tidak percaya lagi akan mitos-mitos tersebut. Bahkan menurut cerita warga ada juga ikan bermuka dua yang dulu pernah ditangkap oleh salah satu warga yang membuat warga tersebut sakit. Warga yang menangkap ikan tersebut mengalami kelumpuhan. Namun, setelah ikan tersebut dikembalikan ke Kali akhirnya warga tersebut bisa berjalan kembali.
 
Sebenarnya sudah banyak kebijakan dan penangan yang dialkukan oleh pemerintah utnuk normalisasi Kali Pepe. Namun, kebijakan yang diambil Pemkot ini seringkali justru memperparah keadaan. Adapun kebijakan Pemkot mengenai pengelolaan Kali Pepe yang pernah diambil selama ini yaitu yang pertama adalah pembuatan talud  pada sekiat tahun 1990-an. Pembuatan talud justru akan merusak ekosistem yang ada, bahkan warga merasa bahwa pembuatan talud ini akan menghilangkan keaslian dari Kali Pepe tersebut. Selanjutnya yaitu normalisasi Kali Pepe dengan cara pengerukan atau penggalian endapan di bawah permukaan air yang dapat dilaksanakan baik dengan tenaga manusia maupun dengan alat berat. Menurut warga sekita setelah proses penggerukan ini justru malah sedimentasi yang ada semakin parah, selain itu untuk menaikkan dan menurunkan alat berat untuk proses penggerukan ini, biasanya dengan cara membongkar tembok Kali dan akibatnya talud Kali menjadi rusak. 
#KotaSolo #KaliPepe #Kampung #KampungKota #Kampungnesia
 
Diambil dari Merekam Kali Pepe
KampungnesiaPress, 2017 

Berita Terkait