Mendata Cinta dan Luka

Ketika pertama kali membaca draft buku ini, aku belum bisa membayangkan seperti apa Keningar. Tetapi kemudian, untuk keperluan editing kumpulan tulisan ini akhirnya aku berkesempatan mengunjunginya pada akhir Februari 2017. Si Cantik Keningar, begitu akhirnya aku menyebut desa kecil itu. Keindahan dan keanggunan alam yang disanjung oleh para penulis dalam buku ini, sudah aku buktikan. tentang Hutan Pinus, tentang kesuburan, tentang keindahan, semua itu bukan omong kosong. Juga tentang luka derita Keningar yang tiada tara, aku menyaksikannya. Ketika memasuki hutan untuk menuju ke Bukit Jaimin, di kanan kiri jalan setapak itu bekas penambangan mengguratkan betapa tubuh merapi ini pernah mengalami menyiksaan tak terperi. Bukit-bukit bopeng dan batu-batu sisa tambang menggunduk. Merapi dikeruk hingga membentuk seperti gua-gua rapuh.

Beberapi kali aku berpapas dengan pencari kayu, penambang dan peladang. Lalu beberapa tulisan yang ketika itu masih dalam proses editing, berbayang di benakku. Tentang kegersangan, debu beterbangan, debit air berkurang, dan lebih dari itu, tentang konflik sosial yang sangat sulit dihindari. Semua tentang Kenang Keningar. Keningar yang tak mau pergi dari ingatan seperti yang diungkap Naya, Sri Wahyuti, Tity Endang, Dominicus Suseno, Risky Hening, Gulita Noviyani, Ruri. Yang menarik, dalam buku ini terhimpun juga tulisan warga setempat. Buku ini semacam menginventaris luka sambil mengenang betapa Keningar adalah desa yang indah dulunya. Tulisan Sugiyono, Pawit, Sumadi, Entin, menuliskan semacam kengerian bukan yang berlipat yang kesemuanya bermuara pada apa yang akan mereka wariskan pada generasi mendatang bila saat ini masyarakat dan pemerintah tidak bertindak bijaksana. Termasuk terhadap seni dan budaya lokal seperti seni Jathilan dan Cakar Lele.

Keningar juga diamati dengan anggun oleh Arif Rahman. Lebih menitikberatkan pada cara Warga Keningar menolak praktik penambangan dengan memakai jalur seni dan budaya. Lalu kumpulan tulisan ini ditutup dengan dua surat dari dua remaja Keningar: Sundari dan Yulia Noor Aini. Buku ini memang sederhana, tetapi memuat pemikiran dan perhatian yang besar yang didasari oleh rasa cintanya pada alam, lingkungan dan kehidupan. Ketika membacanya, sulit dihindari kalau ingatan kita akan menuju pada Kendeng, Wonogiri, Purwodadi, Tumpang Pitu, Timika dan masih banyak lagi tempat-tempat yang dilukai dan komunitas adatnya hancur oleh kekuasaan dan kekuatan pemodal.

Semoga suara-suara lirih dalam buku ini yang merekam rintihan alam, sanggup menembus tebalnya dinding pemerintah. Tak ada kata terlambat untuk sebuah perwujudan niat baik. Kenang Keningar. Pagimu lugu dalam sejuk embun yang menempel di permukaan daundaun jambu. Di naungan cinta dewi bumi dan tatapan kasih Merapi, tomat dan cabe merayakan hidup. Matahari menyingkap pinuspinus di kedalaman hutan tetapi tak berhenti menggapai-gapai padi di sawah tepi jejalanan kecil berbatu menuju lembaran yang sudah disiapkan masa depan tetap tenang menunggu entah kapan datangnya lahar, sejarah sudah membuktikan. Kenang Keningar dalam lubuk hati yang menggemakan tabuhan gamelan dan rencak lincah kaki penari jathilan. Kenang Keningar tentang itu peralatan berat yang kuharap lekas minggat. Kenang Keningar tentang truk dan palu  dan  penggerus batu.Kenang Keningar akhirnya menjadi getir pasir yang dengan gampang dan sembrono dipindahkan seperti copy-paste dalam tulis elektronik jamuran. Tetapi Kenang Keningar bagiku tetaplah wangi hutan yang abadi dalam ingatan gemericik air kali yang terpatri di hati dan selalu kutunggu teriakan ayam hutan yang akan menyambut kedatanganku, tunggu aku, Keningar.
 
 
Indah Darmastuti
Penulis
 
 
 

Berita Terkait