Komunitas Rumah Bintang : Praktik Sosio-Spatial Kampung Kota dan Politik Pendidikan Alternatif

Kemampuan mengakses sesuatu menjadi penting dalam narasi sosial-spatial dalam sebuah relasi masyarakat. Namun siapakah yang bisa melakukannya dan apa saja yang bisa diaksesnya? Berawal dari analisis tentang ruang dengan merujuk kepada tatanan sinkronis yang secara tipikal berada dalam formasi ruang sosial, seperti ditemukan dalam teks terkait territoriality dan ekologi sosial, untuk kemudian dimeriahkan dengan penambahan cara pemahaman terkait ruang geografis, lanskap, dan properti bersifat budaya karena memiliki sejarah perubahan. Hal ini menjadi penting karena dianggap memiliki kausalitas hubungan lintas teritori serta memberikan pengalaman dan pemahaman kehidupan keseharian akar rumput  tentang ruang geografis dan sosial secara fundamental. Kemeriahan ruang ini dapat ditemukan dalam praktik keseharian (kampung) kota.

Perubahan spasial dalam studi kebijakan pendidikan, memberikan narasi yang lain terkait produksi ruang tertentu di perkotaan maupun perdesaan, yang sangat membedakan ruang baik secara material maupun simbolis. Terdapat beragam upaya untuk menggali gagasan sebagai ruang yang pada hakekatnya tidak sesuai atau tidak adil dalam peruntukannya di beragam sektor kehidupan. Konstruksi romantis spatial yang merupakan warisan simbolis aktif dalam budaya kontemporer dapat membuat kehadiran sesuatu di ruang tertentu, seperti kota, menjadi wajar atau tidak wajar, hingga memiliki konfigurasi tertentu, khususnya dalam formasi pendidikan bagi warga.
 
Kota merupakan sentralitas sosial dan perubahan ruang yang cepat  dimana banyak elemen dan aspek kapitalisme berpotongan secara spatial, yang jarang diliput dan seringkali hanya menjadi bagian dari tempat tertentu dalam waktu singkat, seperti halnya barang atau orang yang transit. Kenyataan ini menghinggapi, nyata dalam praktik pendidikan dan keseharian warga. Di dunia global saat ini, ada perdebatan terkait  apa yang menjadi perhatian utama dalam pendidikan? Sukses kuantitatif atau standar kualitatif? Kita mengatakan itu tergantung pada kinerja pendidikan dalam ruang warga dengan variasi yang beragam, yang multi-terbagi dan kadang diskriminatif. Pendidikan bertopeng proliferasi disiplin dan penggabungan strategis pengetahuan dan kekuasaan sebagai rezim politik, menyamarkan mereka dalam pakaian pedagogis dalam skala, atomisasi, dan privatisasi.
  
Space is not a scientific object removed from ideology or politics. It has always been political and strategic. 
There is an ideology of space. Because space, which seems homogeneous, which appears as a whole in its objectivity, 
in its pure form, such as we determine it, is a social product.
Lefebvre) 
 
Terdapat diskriminasi akut antara kota dan desa terkait pendidikan, siswa kaya dan miskin, sekolah mahal dan murahan, hingga posisi warga marjinal yang benar-benar kekurangan akses pendidikan berkualitas, karena kebijakan diskriminatif itu sendiri. Tidak ada keraguan bahwa hanya pendidikan berkualitas yang bisa menjadikan manusia sebagai modal, tapi memastikan kualitas pendidikan bukanlah tugas yang mudah. Ada banyak faktor yang dapat menghambat kualitas pendidikan. Pendidikan yang berkualitas tergantung pada lingkungan sosio-politik, geo-spatial, geo-ekonomi, pedagogi, dan kemajuan teknologi. Di sini, kita bisa melihat secara nyata hubungan antara pendidikan dan politik. Alih-alih memahami pendidikan hanya sebagai objek pengambilan keputusan politik, atau sebagai persiapan untuk politik, tapi pendidikan juga terlibat dalam konflik sosial dan dalam proses politik yang menghasilkan dan mengubah struktur sosial.
 
Pendidikan sebagai praktik yang mengonfigurasi ulang hubungan antara subjektivitas dan politik. Koleksinya berfokus pada beberapa kasus kritis dan perdebatan teoritis dimana hubungan antara pendidikan dan politik menuntut artikulasi baru dalam medan sosial dan spatial tertentu. Pengejaran keadilan sosial mengandaikan solidaritas sosial dan kemauan untuk keinginan, kebutuhan dan keinginan yang menjadi penyebab perjuangan yang lebih umum untuk, katakanlah, ketidaksetaraan sosial atau keadilan lingkungan. Titik awalnya adalah bagaimana bisa menjelaskan ketahanan dan daya tahan warga (kampung-kota) terhadap gempuran praktik neo-liberal kontemporer dalam pendidikan walau pendidikan telah dikatakan sebagai bantuan dasar dari perkembangan masyarakat dengan bahasa lainnya, sebagai sarana komunikasi. Melalui pendidikan dan komunikasi menjadi penting untuk integrasi masyarakat serta sosialisasi melalui interaksi yang benar dalam berbagai bidang usaha manusia. Kendati demikian, pendidikan jika dimanfaatkan dengan benar akan memacu perubahan sosio-ekonomi dan politik, yang terlihat dalam taraf hidup warga negara, diiringi dengan desakan kembalinya politik yang menuntut pengakuan akan heterogenitas dan konflik sebagai ciri-ciri masyarakat yang tidak dapat dipisahkan. Maka, isi pendidikan di masyarakat manapun akan dipengaruhi secara politis. Pengaruh politik ini beroperasi dalam posisi pendidikannnya sendiri sebagai hal sebuah komoditi yang berkaitan dengan pasar dan masyarakat, tapi juga berkaitan dengan gejala geo-spatial dimana pendididikan ini bekerja.

 
Kinerja akademis berada di lingkungan belajar sekolah dalam formasi sistem pendidikan formal yang ideal dengan berbagai macam pranata formalistik dan kesempatan untuk mengaksesnya, termasuk melakukan intervensi perkembangan yang lebih kontemporer seiring laju jaman. Pengenaan rasionalitas ekonomi terhadap pendidikan, sejajar dengan pengurangan politik untuk peran melayani rasionalitas yang sama. Celakanya, aktivitas seperti ini hanya bisa direngkuh oleh keberadaan institusi formal dan warga yang berada dalam taraf ekonomi dan pengetahuan yang cukup bahkan berlebih, namun semua itu tidak dapat diandalkan atau kompeten untuk melatih anak dalam beragam macam formasi lainnya, sehingga diperlukan skema dan skenario untuk memberikan pendidikan alternatif dan ruang alternatif dalam arena tertentu di masyarakat.
 
Model realitas yang ditentukan oleh ekonomi tidak bisa bergerak menuju pemahaman lebih kompleks tentang adegan pendidikan dan politik. Pencarian skema yang menawarkan gambar lebih berlipat banyak tersandung, seolah-olah slogan Thatcherist “tidak ada alternatif” benar-benar diinternalisasi dan membuat kita melupakan kemampuan berpikir dalam hal kemungkinan. Dalam konteks ini, keberadaan pendidikan (alternatif) dan aktivasi spatial sangat penting guna mengeksplorasi berbagai peluang dan tantangan di lingkungan perkotaan yang mampu atau membatasi permainan bebas dan manipulatif dalam sektor pendidikan. Pendidikan (alternatif) juga secara kritis merefleksikan ruang bermain yang dirancang termasuk petualangan, serta  pendidikan yang longgar untuk menjadi arena bermain bagi anak yang secara historis memainkan peran sentral dalam pembentukan ruang masyarakat yang dimanfaatkan anak-anak untuk belajar informal di luar pendidikan formal yang diterimanya.
 
Rumah Bintang mencoba menempelkan (ke)budaya(an) melalui seni pendidikan menggunakan ruang publik, seni membaca, seni berbagi ruang dan waktu serta pengetahuan melalui komoditi pendidikan alternatif  yang didistribusikan dan dipraktikan secara terencana dan bersama secara otonom.  Mengaktivasi kampung kota dan melakukan aktivitas pendidikan dan sebagai ruang bermain dan belajar, Rumah Bintang  memberikan label penting dalam gerakan sipil perkotaan, walaupun label ini tidak penting, tapi setidaknya menjadi identitas bersama atas sesuatu hal yang konsisten dilakukan sejak 2004  melalui upaya pertukaran pengetahuan bahkan cenderung oposisi dari arus dominan yang ada dan perbedaan akses dan spatialisasinya.
 
The whole educational and professional training system is a very elaborate filter,
which just weeds out people who are too independent, and who think for themselves,
and who don’t know how to be submissive, and so on because they’re dysfunctional to the institutions.
(Noam Chomsky)
 
Komoditisasi (dan) Pendidikan
Pendidikan menjadi arena lain dimana hegemoni modal mencirikan ketidakteraturan warga, terutama terkait dengan kemampuan distribusi dan kemampuan warga mengaksesnya. Ketika berbicara tentang komodisasi pendidikan, hal ini, dengan produksi  pendidikan sebagai komoditas otentik, dimana mereka yang menerima masukan ini memandangnya bukan sebagai sumber kesenangan atau pembelajaran atau pengembangan pikiran, namun secara eksklusif untuk mendapatkan akumulasi kapital yang mampu memimpin di pasar pendidikan. Nyatanya, pendidikan sebagai alat pengantar keagungan gagasan digantikan sebagai alat pembuatan uang yang dalam obsesi ini, yang menjadi penerima pendidikan dipaksakan untuk diinternalisasikan terhadap logika imanen dari produksi komoditas.
 
Komodisasi Pendidikan dalam jangka pendek menghancurkan kreativitas dan orisinalitas, karena menurut sifatnya menjadi barang jadi, dan dikemas untuk diserahkan kepada pasar. Misalnya pasar tenaga kerja, dengan tidak ada pilihan alternatif, seolah semua diseragamkan. Implikasi lain dari komoditisasi pendidikan adalah membuat produknya, yang “terdidik”, menjadi entitas yang tidak sensitif secara sosial dan benar-benar terserap, tidak mampu bersimpati terhadap massa yang bekerja keras. Karakteristik ini sebenarnya sangat mudah ditemukan pada yang “terdidik” dalam masyarakat seperti di negara ini, di kota ini, yang telah ditandai oleh penindasan sosial dan ketidaksetaraan yang dilembagakan, serta melihat massa pekerja keras sebagai “inferior” hampir merupakan kebiasaan yang didapat sejak lahir. Semua karakteristik komoditisasi pendidikan ini melayani kapitalisme korporat kontemporer dengan baik.
 
Salah satu ciri skenario kota besar termasuk Bandung  yang paling mencolok, adalah komoditisasi pendidikan. Sistem pendidikan menjadi kata lain proses produksi komoditas (tenaga kerja dari mereka yang menerima pendidikan) melalui komoditas (pendidikan yang mereka terima). Lantas, pendidikan macam apa yang ditawarkan atmosfer kota untuk warganya? Rumah Bintang, fokus pada margin perkotaan yang secara fisik menempel pada budaya pendidikan anak, jauh dari lanskap simbolis dominan dan bergengsi dari narasi gemerlapnya komoditisasi pendidikan yang lazim dan banyak muncul di kota-kota besar. Rumah Bintang merupakan gerakan de-identifikasi, menantang hegemoni neoliberal, dan upaya reklamasi dari relasi politik dan pendidikan dengan melakukan penetrasi ke titik yang paling sederhana dalam lingkungan masyarakat rentan (perkotaan). Melakukan aktivasi ruang dengan pendidikan alternatif bagi warga yang minim memiliki akses kemeriahan sarana, perangkat dan pendidik yang memiliki sense sosial, sense edukatif dan sensebermain, karena seyogyanya pendidikan itu haruslah menyenangkan; bukan membebani secara psikologis maupun ekonomi. Upaya membuat pendidikan (anak) menjadi arena bermain yang sensitif secara sosial dan mampu memberikan simpati-empati terhadap lingkungan spatia-sosial, tanpa membedakan kelas sosial dan marjin geografis secara informal.
 
Di sisi lain, pendidikan formal melalui struktur formalisasi yang diusung oleh negara menjadi aras wajib diterima oleh warga negara Indonesia melalui skenario pendidikan dasar 9 tahun sebagai tanggung jawab negara atas pendidikan warganya. Namun, ternyata tidak semua warga negara mampu mengakses skenario tersebut, walaupun mampu, tapi daya juang, daya tahan dan daya pikir siswanya tidak bisa disamaratakan. Komoditisasi ini tersedia untuk level sosial tertentu dan mengecualikan sebagian besar orang dari akses terhadapnya, karenanya merongrong sesuatu hal yang paling substantif dengan hanya formalitas dan jauh dari persamaan kesempatan secara substansial untuk menjadi representasi berbagai kelompok sosial dalam rangkaian pendidikan yang didapatkannya. Bisa dibayangkan, mendapatkan pendidikan formal yang seharusnya disediakan oleh pemerintah saja, sebagian warganya tidak mampu; apalagi mendapatkan kemeriahan dalam skenario pendidikan lain. Celakanya, skenario pendidikan alternatif pun kemudian mengalami komoditisasi untuk warga kelas tertentu. Lalu bagaimana dengan warga rentan/miskin di kota maupun di desa?
 
Memang terdapat warga (anak-anak) yang berafiliasi dengan beragam aktivitas Rumah Bintang yang bersekolah formal tapi apa yang mereka dapatkan hanya formalitas belaka dan nyatanya cukup memberatkan secara ekonomi, yang akhirnya pilihan putus sekolah dan menjadi tenaga kerja informal anak-anak, menjadi hal yang lazim apalagi jika didukung oleh orangtuanya. Anak-anak kampung kota ini tercerabut dari kesempatan mendapatkan pendidikan formal, kalaupun mampu, itu hanya formalitas  untuk menghindari sanksi sosial karena tidak menyekolahkan anak. Tapi di sisi anak juga merasa pendidikan itu tidak penting, karena mereka hanya akan terserap oleh sektor marjin dari informal, selain juga tercerabut dari masa anak-anak dengan tekanan betapa menyenangkannya belajar/ mendapatkan pendidikan.
 
Dalam konteks di atas, wajar jika proses dan praktik pendidikan sama politisnya dengan konten. Siapa pengantar/pengajarnya? Siapa saja yang dimasukkan dalam dunia pendidikan? Jika menginginkan pendidikan yang setara secara universal, bagaimana mewujudkannya? Apakah menurut kami “prestasi” lebih diutamakan daripada tindakan afirmatif? Apakah pendekatan pedagogis cukup memperhitungkan keragaman di kelas? Setiap pertanyaan ini, dan masih banyak lagi yang menentukan pendidikan yang bersifat politis. Celakanya, proses politis tadi diafirmasi dalam skenario yang memberikan platform pendidikan dalam ranah yang tidak seharusnya. Akhirnya, konsekuensi yang terjadi begitu mengerikan yang melibatkan pengajar untuk menjejalkan jumlah maksimum “pendidikan” ke anak-anak dengan konsep pendidikan yang dimiliki, untuk mendapatkan sebuah paket tertentu dan mengantarkannya semaksimal mungkin di ruang ujian. Apakah ini pendidikan yang seharusnya menyenangkan bagi anak-anak? Melakukan penjejalan pengetahuan yang kelewat batas dengan dinding-dinding pembatasan norma, etika, serta batasan kemampuan tertentu yang seyogyanya dilanggengkan oleh kekuasaan dan intervensi pasar.
Pandangan ini mencerminkan pemahaman pendidikan yang sangat naif atau pilihan politis (bahkan tidak disadari), agar pendidikan bertujuan untuk mengembangkan orang-orang yang tidak terlibat dengan isu-isu terpenting di sekitar mereka, tidak mempertanyakan dan berpikir untuk diri mereka sendiri. Bukankah ini kemunduran bagi pendidikan, kemunduran bagi pengetahuan bersama dalam sebuah masyarakat? Kita membutuhkan pendidikan yang memberi energi pada demokrasi dan membangun warga dimanapun yang diimpikan dalam konstitusi dengan mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir dan berkontribusi sebagai individu otonom.
 
Pendidikan tentunya bersifat politis, salah satu cara atau yang lain karena semua pendidikan bersifat politis. Maka, munculah beragam skenario pendidikan alternatif yang politis secara ruang dan praktik pembelajaran dan transformasi pendidikan yang diberikan kepada (anak-anak) warga secara langsung maupun tidak langsung, terutama bagi warga rentan perkotaan yang banyak berdomisili di kampung-kampung kota. Skenario ini menjadi tanda untuk menunjukan aktivasi ruang dan aktivasi pendidikan yang kongkrit dalam memberikan pembelajaran intelektual untuk kemajuan masyarakat dan kebebasan, dari manusia yang membentuknya sebagai manifestasi intelektual organik rakyat yang otonom, guna memberikan energi berbagi peran dalam distribusi pengetahuan melalui kerja pendidikan kepada warga, khususnya anak-anak. Rumah Bintang mencoba mengambil peran-peran di atas dan mempraktikannya dalam ruang-waktu kampung marjinal perkotaan dan pedesaan, dengan metode volunterisme, otonom tanpa hierarki dan konsensus bersama dalam memberikan kurikulum pendidikan tersebut.
 
Rumah Bintang sebagai upaya berjenis tindakan politis terhadap kota, menjadi secuil oposisi yang berserak dalam pusaran politik pendidikan perkotaan dan narasi kecil spatial warga kampung kota yang otonom. Sebagai kelompok otonom dengan wacana radikal yang menyasar bentuk-bentuk demokrasi partisipatoris yang lebih berorientasi kepada kemasyarakatan/publik (Uhlin 1997). Rumah Bintang melakukan pilihan untuk melakukan praktik melihat, mengaktivasi struktur ruang dan publik perkotaan di skala mikro, seperti di kampung-kamoung kota dengan fokus isu kepada pendidikan anak. Kesatuan ruang-waktu-aktor, bekerja sebagai landmark dari produksi-konsumsi yang dimaknai sebagai ruang publik dan berkembang menjadi ruang heterotopia yang muncul sebagai spatial activation.
 
Ruang yang diproduksi oleh Rumah Bintang tidak bisa lagi dipandang secara telanjang hanya sebagai ruang dengan fungsi fisikal-material warga kampung kota. Lebih dari itu, ruang tersebut menyediakan kemungkinan-kemungkinan partisipasi politik-kultural bagi warganya, tidak hanya menjadi objek melainkan memimpin peran dalam pengaturan interaksi sosial, dan reflektif aktif dalam proses sosial terutama dalam sektor pendidikan anak dan aktivitas youth culture. Ruang kerja yang dimaksud sebagai ruang subversi yang diproduksi di kampung  perkotaan, untuk kemudian diapropriasi oleh Rumah Bintang untuk berposisi dengan menjadi bagian dari politik (pendidikan) mikro kota dalam melakukan peran sosial-politiknya di ruang publik (politis) bagi pendidikan anak.

I think the big mistake in schools is trying to teach children anything,
and by using fear as the basic motivation. Fear of getting failing grades, fear of not staying with your class, etc.
Interest can produce learning on a scale compared to fear as a nuclear explosion to a firecracker.
(Stanley Kubrick)
 
Melalui kerangka literasi sosiokultural, sudut pandang kelas serta formasi spatial dan pengalaman realis, akhirnya membentuk suatu komunitas organik dan otonom sebagai bentuk permainan kritis dalam kerja pendidikan kepada dan untuk publik, menjadi penting. Praktik Rumah Bintang melakukan alternatif kerja untuk menanggulangi dan meminimalisir krisis belajar ini dengan investasi ruang dan intelektual di bidang pendidikan secara otonom melalui jaringan pertemanan yang tersedia secara politis. Namun, yang lebih politis selain isi dan proses pendidikan adalah tujuan pendidikan. Pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan individu berpikir kritis, juga membantu mengembangkan masyarakat yang adil dan demokratis menjadi geliat yang amat tajam. Dan sebagai politik yang tajam, adalah pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan individu yang tidak mempertanyakan namun menyesuaikan diri secara mandiri dengan beberapa tatanan yang ada dan tentu saja berprinsip dengan pikiran kritis.  Padahal, tujuan pendidikan membentuk proses dan isi pendidikan, termasuk secara signifikan menentukan sudut pandang politik mereka dalam keseharian.
 
Rumah Bintang mengarahkan perhatiannya ke lingkungan perkotaan, khususnya di kampung-kampung kota sebagai konteks kehidupan sehari-hari dan ekspresi hubungan sosial produksi. Namun, seiring perjalanan waktu, Rumah Bintang melakukan eskpansi kerja dan produksi ruang aktivitasnya ke wilayah pedesaan. Untuk menjembatani dan menghilangkan kesenjangan geografis dan teritorial, namun tetap dengan arena bermain di sektor pendidikan bagi anak, khususnya yang berada di arena rentan kehidupan secara aset dan akses.
 
Tidak bisa naif dan dihilangkan begitu saja dari sejarah pembentukan dan perkembangan Komunitas Rumah Bintang  hingga sekarang ini. Singkatnya, berawal dari reuni siswa-siswi SMP Negeri 1 Bandung angkatan sekolah tahun 1997 yang berlangsung tahun 2004 lalu, meninggalkan jejak ide untuk melakukan aktivasi warga yang berada di kampung-kampung kota melalui intervensi dengan memberikan ruang dan peluang pendidikan alternatif untuk anak serta ruang komunal yang lebih informal, lebih egaliter dan lebih atraktif dengan kualitas yang baik walaupun ini semua berada dalam konsep yang relatif, tapi setidaknya ada upaya alternatif lain yang hendak ditawarkan. Berawal dari kumpul bersama di sebuah rumah petak salah satu alumni yang berada di sebuah kampung kota bernama Nangkasuni di kota Bandung, yang tidak berada jauh dari pusat kota, di pinggir sungai Cikapundung yang membelah kota Bandung serta berada di pusat  aktivitas ekonomi, politik, bisnis dan pendidikan itu sendiri. Keberadaan arena komersial, kantor pusat pemerintahan kota dan provinsi serta lingkungan pendidikan dari tingkat dasar, menengah hingga universitas, berada dalam area yang mudah dijangkau, menjadikan kampung ini sangat strategis yang, seharusnya, untuk mendapatkan akses dan aset dalam pendididikan.
 
Namun nyatanya, tidak semua ideal dan memiliki perangkat aset dan akses untuk pendidikan, terutama warga kampung kota, yang dialami nyata oleh warga Nangkasuni. Kita bisa lihat berapa banyak warga yang berpendidikan di sana, atau anak-anak yang mendapatkan pendidikan dasar 9 tahun itu. Kalau pun dapat, lagi-lagi hanya formalitas sosial. Seolah anak-anak hanya dipaksa melewati masa anak-anaknya dengan kondisi seadanya, baik secara sosial maupun pendidikan. Kalau mau silakan, kalau tidak juga bukan hal penting untuk dilakukan, karena sebagai mayoritas warga yang rentan mereka akan selalu berada dalam lingkaran setan kemiskinan. Selain itu, mereka  juga rentan terhadap aset dan akses ekonomi serta lahan dan hunian karena banyak berada di arena informal serta berada dalam hunian dengan lahan yang akan selalu mengalami penggusuran. Ide melakukan advokasi pendidikan dengan cara memberikan alternatif pendidikan dan aktivasi dengan menyediakan ruang belajar bersama, menjadi titik awal bagaimana komunitas Rumah Bintang ini terbentuk. Awalnya, memang cukup ramai volunter dari kalangan teman-teman alumni sekolah ini, namun seiring waktu mengalami timbul tenggelam yang menjadi ciri khas perkembangan komunitas. Hanya segelintir orang saja yang intensif merawat, merangkai dan terus membuat Rumah Bintang tetap hidup hingga sekarang ini.
 
Rumah Bintang kemudian bertransformasi cepat sebagai komunitas otonom, lintas tongkrongan dan berjejaring luas dengan gerakan sipil lainnya terutama di perkotaan yang serupa dengan Rumah Bintang, seperti Rumah Lentera (Buah Batu), Ruang Mimpi (Pasir Impun), Rumah Saraswati (Tegalega) dan Lingga Sarakan (Gedebage). Rumah Bintang juga berjejaring kuat dengan jaringan perpustakaan mandiri, record label, penerbit buku, musisi, pengajar, komunitas punk/metal, hingga organisasi/komunitas lain yang fokus kerjanya beririsan dengan isu pendidikan dan anak.
 
Seiring perkembangan dan semakin aktifnya Rumah Bintang, maka mereka memutuskan untuk mengontrak rumah sendiri secara otonom agar lebih leluasa dalam beraktivitas, dan tetap berada di kampung Nangkasuni karena publik yang diperuntukannya untuk anak-anak warga kampung tersebut, walau seiring perkembangan juga banyak anak-anak dari kampung kota lainnnya atau dari sekolah alternatif bahkan sekolah formal sekalipun datang berkunjung, berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk dibagi bersama dengan cara dan skema yang lebih informal, interaktif dan menyenangkan.
 
Rumah Bintang pun kerap dijadikan arena praktik untuk mahasiswa pendidikan anak, atau mahasiswa psikologi, untuk melihat bagaimana praktik pendikan alternatif yang diselenggarakannya serta dampaknya bagi anak-anak kampung kota yang notabene marjinal dan rentan terhadap akses perkotaan. Terutama pendidikan formal yang kian komersial, kooptatif, bahkan destruktif terutama bagi anak-anak. Rumah Bintang pula yang menyediakan resourses warga dan ruang kerja bersifat volunteri kepada semua orang yang ingin berkontribusi, sesuai dengan keahliannya untuk ditransformasikan kepada anak-anak yang biasa “nongkrong” di Rumah Bintang selepas sekolah formal selesai atau di kala libur sekolah.
 
Volunter yang muncul, beragam latar belakang dan keahliannya. Yang memang dirasa mampu menumbuhkan daya kreatif, daya juang dan berfikir kritis tentang beragam macam hal dalam skala level anak-anak yang dibawakan dengan cara unik, kreatif, dan menyenangkan layaknya bermain. Mulai dari aktivitas menggambar, bermain musik dengan barang bekas, workshop berbagai macam kerajinan tangan seperti mainan kertas, membuat lilin, menyablon kaos dengan gambar yang digambar sendiri hingga mewarnai baju dengan cara tie dye. Aktivitas pendidikan lainnya juga muncul dengan kedatangan guru bahasa Inggris dari Amerika yang kebetulan tertarik untuk menjadi volunter,  hingga belajar bagaimana menggunakan software untuk merancang sebuah produk. Selain itu, Rumah Bintang juga memberikan akses untuk anak-anak yang dinilai memiliki kemampuan dan keinginan untuk mendalami bidang tertentu, seperti memberikan beasiswa untuk sekolah seni tari dan untuk belajar olahraga panjat dinding.
 
Anak-anak kampung Nangkasuni menjadikan Rumah Bintang sebagai tempat untuk belajar, mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang didapat dari sekolah karena banyak volunter yang bisa ditanya daripada mengandalkan mengerjakannya sendiri, atau bertanya kepada orangtua yang sibuk dengan aktivitas survivalnya. Selain itu, Rumah Bintang pun dapat dijadikan arena bioskop bersama karena adanya akses internet hasil sumbangan dari berbagai kalangan. Keterbatasan untuk melihat film-film anak-anak, pendidikan visual yang lebih komunikatif dan berbagai tayangan yang sifatnya pendidikan anak, dapat terakomodir melalui keberadaan layar bersama dengan fasilitas koneksi nirkabel agar tetap terhubung dengan jaringan perkembangan teknologi dan komunikasi dunia modern dengan perkembangan pesatnya melalui capaian teknologi-informasi.
 
Hal ini tentu saja sangat berharga bagi anak-anak kampung, karena sebagai sesuatu yang sangat jauh dari jangkauan mereka, tapi dekat dalam penglihatan mereka, dan Rumah bintang memberikan koneksi penghubung dari jarak ini untuk lebih diminimalisir. Anak-anak pun belajar kreativitas dalam berbagai macam format, seperti yang bersinggungan dengan seni seperti seni musik dan seni pertunjukan dan secara rutin melakukan latihan bersama. Anak-anak akhirnya mampu dan berani untuk membuat lagu sendiri, mementaskannya di ruang publik bahkan merekamnya dalam bentuk album musik yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki akses tertentu. Dalam segi pertunjukan pun tidak kalah fantastis, mereka membuat cerita drama sendiri, membuat musik pertunjukan sendiri secara maual maupun melalui kerja digital yang tentu saja dibantu oleh para volunter yang tidak kenal lelah untuk berbagi ruang, waktu, dan pengetahuan.
 
Hasilnya, anak-anak kampung ini lebih percaya diri di depan publik luas dan di ruang kelas formal. Dalam 5 tahun terakhir mereka diberi kesempatan untuk menunjukan kepada publik tentang semua pencapaian intelektual, artistik, dan narasi kebersamaan khas kewargaan kampung kota di sebuah ruang pertunjukan publik milik pemerintah negara Perancis, benama IFI (Institut Français d’Indonésie) yang kebetulan berada tidak jauh dari kampung tempat anak-anak ini tinggal. Sebagai catatan, sebelumnya tempat ini sangat berjarak bagi warga kampung karena konotasinya sebagai ruang yang elite. Namun, dengan praktik pendidikan yang dikembangkan oleh Rumah Bintang, batas elitisitas dan batas jarak tadi diruntuhkan oleh nilai kreativitas yang berkembang melalui pendidikan alternatif. Bahkan sekolah formal pun tidak mudah mendapatkan akses ke tempat itu apalagi diberikan kesempatan yang demikian.
 
Anak-anak kampung Nangkasuni yang berada dalam aktivitas Rumah Bintang pun menjadi dikenal publik luas sehingga sering mendapatkan undangan untuk menjadi pembuka sebuah event, menjadi narasumber yang menginspirasi di berbagai tempat. Mulai di kelas sekolah, di universitas, di kampung-kampung kota lainnya bahkan hingga di penjara khusus anak-anak. Mereka tampil, memberikan inspirasi dan pengalaman dari apa yang mereka dapatkan di rumah bintang untuk ditularkan kepada semua orang terutama semua anak-anak yang mengalami posisi sosial seperti mereka. Akibatnya banyak lembaga lain hingga perusahaan yang menaruh simpati dan respek terhadap upaya yang dilakukan oleh Rumah Bintang, sehingga banyak memberikan bantuan donasi dalam bentuk apapun sepanjang tidak melakukan klaim dan kooptasi atas semua kegiatan yang Rumah Bintang lakukan. Misalnya, ada perusahaan percetakan buku skala nasional yang mendonasikan buku-buku anak kepada Rumah Bintang, atau lembaga lain yang berkontribusi terhadap Rumah Bintang yang terkait dan relevan dengan misi dan visi Rumah Bintang tentang pendidikan anak-anak. Buku-buku atau material apa pun yang berlimpah, yang diberikan kepada Rumah Bintang, selalu didistribusukan ke komunitas lainnya yang berjejaraing agar lebih menyebar dan merata.
 
Aktivitas Rumah Bintang tidak hanya sekedar memberikan nafas pendidikan alternatif, tapi juga melakukan aktivitas sosial lainnya. Akibat para volunter Rumah Bintang banyak yang menyukai aktivitas outdor, seperti naik gunung dll., maka dalam jejaring lainnya Rumah Bintang kerap membantu kerja advokasi bencana alam, terutama banjir di Bandung Selatan. Rumah Bintang mengirimkan para relawan dewasanya yang berpengalaman dan menjadikan tempatnya menjadi shelter informasi bencana dan penampungan bantuan korban bencana. Karena teman-teman relawan ini sangat paham kondisi dan medan bencana, jadi sangat paham apa yang harus dikerjakan dan bantuan apa yang diperlukan agar efektif dan efisien, dan tentu saja dengan transparansi publik yang jelas dan bertanggung jawab. Banyak pihak yang mempercayakan bantuannya kepada Rumah Bintang, dan anak-anak selalu dilibatkan dalam praktik ini sebagai pendidikan solidaritas dan sensitivitas sosial. Selain aktivitas di ruang yang disediakan untuk aktivitas harian di Rumah Bintang, anak-anak yang sering berada di sana juga diperkenalkan dengan aktivitas belajar di alam terbuka. Mereka sering mengadakan kemah bersama dan naik ke gunung untuk memberikan sensitivitas lingkungan secara langsung dan mengajarkan bagaimana survive di alam terbuka.
 
Lalu, seiring perkembangan waktu, Rumah Bintang melakukan eskpansi ruang kerjanya ke wilayah perdesaan, seperti di area perkebunan teh/kopi di Gambung, wilayah Bandung Selatan. Dengan membuat Rumah Bintang Chapter Gambung. Selain mengadopsi platform kerja yang sama untuk pendidikan anak-anak, para volunter Rumah Bintang melakukan strategi endogenous development untuk melakukan aktivasi secara ekonomi dan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan warga setempat dengan bahan yang tersedia. Misalnya, mengembangkan strategi bisnis dan kualitas produk kopi yang baik untuk dihubungkan dengan pasar kopi yang baik,, sehingga harga produk kopinya bernilai lebih serta adil untuk petani yang notabene penduduk setempat. Hal yang sama terjadi dengan Rumah Bintang Capter Lembang –Bandung Utara, hingga Rumah Bintang yang berada di Lampung, pulau Sumatra. Jejaring Rumah Bintang juga mencakup Indonesia, karena selain aktivitas Rumah Bintang-nya sendiri, akibat dari jaringan aktivitas para volunteernya yang banyak bekerja di berbagai tempat, ini menjadi modal sosial dan modal geografis yang sangat penting untuk sebuah komunitas agar bisa bertahan.
 
Komunitas Rumah Bintang bukan tanpa kritik. Komunitas macam ini akan selalu bergantung kepada etos kerja volunter secara personal dan etika pertemanan. Jika ini mengalami penurunan secara kualitas dan kuantitas maka seperti kebanyakan komunitas, akan juga hilang diterkam waktu. Karena Rumah Bintang bergerak dalam praktik pendidikan anak, maka seberapa besar anak-anak ini tetap akan mau berada di sana ketika mereka beranjak dewasa? Mengingat, sekarang saja Rumah Bintang sudah menginjak usia 13 tahun, maka anak-anak yang ketika pertama kali Rumah Bintang berdiri, kondisinya sekarang sudah remaja. Memang, ada yang kemudian bertransformasi menjadi volunter dari dalam untuk anak-anak yang lebih kecil usianya, namun berapa orang yang mau melakukannya? Tetap saja, dapat terjadi penurunan disamping penurunan volunter dari luar. Selain itu keberadaan anak-anak kampung kota yang nyatanya semakin terisolasi dari aktivitas anak-anak, karena perubahan jaman dan teknologi, menjadikan mereka tidak lagi ingin berada di ruang-ruang komunitas semacam Rumah Bintang atau komunitas lainnya. Hal ini ternyata benar terjadi, dimana antusias anak-anak pada beberapa tahun lalu di awal pendirian Rumah Bintang, dengan anak-anak seusianya pada tahun-tahun sekarang ini, mengalami penurunan. Kecuali hanya untuk mendapatkan fasilitas teknologi yang dimiliki Rumah Bintang, misalnya, nonton film melalui jaringan nirkabel dan mendapatkan akses internet, itu saja, selebihnya tidak ingin terlibat jauh dengan aktivitas Rumah Bintang. Ini sulit dihindari karena terkait dengan passion dan ketertarikan anak-anak untuk belajar dan mendapatkan pengalaman lebih.
 
Komunitas akan selalu berbasis teritorial atau ruang, jadi ketika teritorial atau ruang ini hilang maka komunitasnya pun akan terdestruksi secara signifikan. Apalagi dalam konteks ruang parktik yang Rumah Bintang selama ini kerjakan di kampung Nangkasuni memiliki situasi spatial yang ringkih, terkait hunian dan penguasaan lahan karena berada dalam zona-zona kritis dalam pembangunan kota yang agresif. Penggusuran atas nama kumuh, ilegal, dan berada di area sepadan sungan menjadi intaian yang akan terus menghantuinya, sepanjang kepastian tanurial security-nya sebagai warga kampung kota yang rentan terpenuhi oleh negara.
 
Namun, Rumah Bintang sudah mengantisipasi kejadian terkait. Jika menghilangnya ruang, maka Rumah Bintang akan tetap ada dan tersebar di beberapa titik dengan aktivitas serupa. Memang akan dirasa kurang maksimal, tapi toh mau bagaimana lagi, sebab segala hal tetap harus diupayakan agar pola-pola pembelajaran dan komunitas seperti Rumah Bintang tidak pernah benar-bebar hilang, atau bisa saja fisiknya menghilang tapi sifat volunterism dan aktivismenya tetap terjaga. Saya termasuk orang yang beruntung dapat mengikuti dengan rajin perkembangan komunitas Rumah Bintang ini dari tahun 2004 hingga 2017 ini, walau secara kuantitas tidak begitu intensif, tapi minimal jejak rekam mereka terdokumentasikan secara fisik melalui media rekam dan secara memori personal, sebagai bagian dari memori kolektif dari Rumah Bintang itu sendiri.
 
Rumah Bintang memberi ruang kekhususan dalam formasi pendidikan anak sehingga sejarah dan ruang kampung perkotaan diinternalisasi bersama memori kolektifnya melalui wajah ruang yang dibangun, dari konstelasi tertentu berupa hubungan sosial, pertemuan, dan menenun bersama-sama pada lokus tertentu. Penguraian situs heterogen ruang sebagai ruang kontestasi, ditafsirkan dalam bentuk kerja keseharian ruang-waktu, dimana  Jameson (1991) dan Harvey (1990) berpegang pada ruang absolut melalui analisis kelas sebagai pembentuknya; Soja (1989) dan Massey (Massey 1994) berpegang pada ruang relasional dan membuka medan lembaga politik. Rumah Bintang mengidentifikasi retakan atau celah dalam rasionalitas teknokratik pendididan, dengan menawarkan alternatifnya serta melakukan aktivasi ruang progresif yang menyarankan strategi keseharian yang berupaya untuk memberikan oposisi dari dominasi rezim neo-liberal kontemporer, yang menguasai ruang dan pendidikan secara dominan. Untuk menyimpulkannya, akan sangat relevan untuk mengutip Patnaik (2011), yang menyatakan bahwa kita tidak boleh kehilangan pandangan bahwa perjuangan ini dalam dunia pendidikan untuk melawan komoditisasi, pivatisasi, dan lagi-lagi petisi atas ketimpangan sosial, adalah bagian yang lebih luas dari perjuangan melawan integrasi ekonomi ke dalam proses spontan dari globalisasi.

Oleh Frans Ari Prasetyo
Sumber http://metaruang.com/komunitas-rumah-bintang-praktik-sosio-spatial-kampung-kota-dan-politik-pendidikan-altenatif/ 
 
 

Berita Terkait