Kampung Gremet, Manahan

Kelurahan Manahan terdiri kampung Gondang, Depok, Purworejo, Joho dan Gremet. Di Kelurahan ini terletak pula Stadion Manahan, sebuah stadion olahraga dengan standar internasional (dibangun di kawasan lapangan Manahan dan GOR Sasana Krida Kusuma). Kawasan lapangan Manahan adalah kawasan sosial bagi warga Kota Surakarta. Pada malam hari, kawasan olah raga tersebut berubah menjadi pusat jajan dan menjadi tempat berkumpul muda-mudi. Mulai dari tempat nongkrong perkumpulan motor sampai para penjual hik. Ketika minggu pagi kawasan sekitar Stadion Manahan menjadi pasar dadakan (sunday market) serta tempat berkumpulnya orang yang melakukan aktivitas olah raga.

Tidak jauh dari Stadion Manahan tersebut, tepatnya didepan stadion, terdapat sebuah kampung yang bernama Gremet. Gremet merupakan kampung yang berada di Kecamatan Manahan, Surakarta. Letak Kampung Gremet sangat strategis yaitu berada di tengah Kota Surakarta, tepatnya berada di sebelah selatan Stadion Manahan Surakarta. Wilayah kampung Gremet sendiri mencakup 3 RW dan 22 RT. Jalan utamanya adalah jalan Gremet, yang membatasi wilayah kampung Gremet. Di sebelah selatan ada jalan Sam Ratu Langi; di sebelah utara adalah jalan Adi Sucipto; dan di sebelah barat dan timur secara berurutan adalah jalan Mohammad Husni Thamrin dan jalan KS Tubun (nama kampung yang cukup unik kedengarannya). Banyak versi yang menceritakan asal-usul nama kampung tersebut. ‘Gremet’ merupakan kata yang digunakan apabila seseorang bergerak sangat lambat. Menurut sejarah, konon asal mula kampung Gremet adalah dari kisah Ki Ageng Pandanaran dan Ki Ageng Pemanahan yang sedang berjalan dari tanah lapang (sekarang Stadion Manahan) menuju ke selatan. Tapi karena kelelahan mereka berjalan dengan pelan-pelan dan melewati suatu permukiman, yang kemudian permukiman tersebut dinamakan Gremet. Namun tidak ada satu warga pun yang tahu sejak kapan nama Gremet itu mulai digunakan untuk menjadi nama kampung. Sebagian besar masyarakat di sini bisa dibilang merupakan mayoritas pendatang baru. Sangat sulit menemukan warga penduduk asli kampung Gremet saat kami sekelompok berkunjung ke sana. Sampai sekarang permukiman tersebut masih berdiri dan merupakan kampung Gremet yang sekarang.

Suasana sangat sepi sekali dari lalu lalang aktivitas penduduk pada pagi hari. Yang ada hanya anak-anak sekolah yang lalu lalang sepulang sekolah. Sedikit warga yang keluar untuk sekedar bercengkrama dengan warga lain. Anak-anak kecil yang asyik bersepeda berkeliling kampung Gremet, tukang siomay, tukang bakso yang berlalu-lalang mencari pelanggan, dan masih ada beberapa anak-anak sekolah dan juga warga yang nongkrong di perempatan jalan dekat rumah tempat kami berkumpul.

“Dulu di jalan Srigunting, jalan di antara pabrik tekstil dan Manahan Parkview sering digunakan anak muda untuk nongkrong, berjudi, mabuk. Namun seiring berkembangnya zaman, berkembangnya sistem keamanan kampung, dan keaktifan warga dalam memerangi itu semua, hal itu semua dapat hilang. Namun sekarang jalan itu jadi terlihat sepi, gersang, terkesan tidak terawat dan minim penerangan jika malam hari tiba.” Itulah sedikit hal yang diungkapkan oleh Ibu Hj. Koesmanto istri dari mantan ketua RT 01 tentang keadaan dahulu dari kampung Gremet.

Dulu kampung Gremet berupa permukiman yang rumah-rumahnya masih jarang dan memiliki bentuk rumah tradisional. Jarak antar rumah masih berjauhan dan masih belum banyak rumah-rumah modern seperti sekarang ini. Kampung Gremet yang sekarang menjadi ramai dikunjungi para pendatang baru karena sudah banyak fasilitas umum yang dibangun di sekitar kampung, antara lain SMAN 4 Surakarta, SMK, serta direnovasinya Stadion Manahan yang kemudian sekarang menjadi pusat olahraga, pusat nongkrong anak muda di Surakarta, serta juga jadi pusat ekonomi bagi penjaja makanan dan minuman. Walaupun dalam penataan rumah antarwarga kampung rapi tetapi lingkungan kampung terkesan kumuh atau tidak terawat. Pohon-pohon serta tanaman-tanaman di pinggiran kampung terlihat gersang. Di dekat rumah Maida yang terletak di perempatan jalan, terdapat warung makan sejenis angkringan atau warteg yang cukup ramai dikunjungi atau ditongkrongi warga kampung Gremet dan pelajar-pelajar SMA dari sekitar kampung Gremet. Warung itu biasanya dibuka pada siang hari sampai menjelang Maghrib tiba. Entah hal apa yang membuat warung itu ramai untuk ditongkrongi, tidak ada yang istimewa dari warung itu, hanya sekedar warung biasa yang menjual makanan dan minuman seperti di angkringan. Mungkin karena faktor dekatnya warung dengan sekolah di sekitarnya. Hal ini menyebabkan banyak pendatang baru berdatangan yang kebanyakan penduduk kelas menengah ke atas yang tergiur dengan kedekatan dan kelengkapan fasilitas publik tadi.

Di kampung Gremet warga aslinya sekarang sudah mulai berkurang, bahkan bisa dihitung dengan jari karena saking sedikitnya warga asli Gremet yang masih tinggal di Gremet. Hal itu dapat terjadi karena selain sebagian warga asli sudah ada yang meninggal dunia dan juga karena alasan tanah. Para warga asli Gremet atau pemilik tanah ditawari oleh penduduk pendatang baru untuk menjual tanahnya. Tanah warga asli Gremet akan dibeli dengan harga tinggi pada waktu itu oleh para pendatang baru. Atas dasar hal itu banyak warga Gremet yang mau menjual tanahnya dan kemudian pindah ke desa lain namun masih satu kelurahan Manahan, misalnya di daerah Parahyangan Sumber. Uang hasil penjualan tanah tadi dibelikan tanah dan rumah yang murah, dan kemudian sisanya digunakan untuk kebutuhan lain. Jadi ada motif ekonomi di balik pindahnya para warga Gremet asli dari Gremet. Pada tahun 2004 harga tanah di Gremet per m3 Rp 800.000. Namun saat ini harga tanah Gremet melonjak menjadi sekitar Rp 2.000.000 per m3-nya. Sungguh hal yang fantastis. Hanya dalam kurun beberapa tahun saja sudah terjadi kenaikan yang begitu signifikan. Pertama kali kami datang ke Gremet ada beberapa di antara rumah warga Gremet yang masih berupa tanah kosong dan belum dibangun apa-apa. Kami heran padahal konon kata orang-orang tanah di daerah Gremet ini sangat diminati tapi kenapa ada beberapa tanah kosong. Ternyata anggapan kami langsung kami cabut setelah kami mendengarkan penjelasan dari Pak Wulung, ketua RT I/RW XI yang baru menjabat RT sekitar 1 tahun. Pak Wulung mengatakan.

Anggepan anda salah mas, tanah di sini benar-benar diminati oleh para pendatang baru. Setiap ada tanah yang kosong pasti dalam beberapa hari langsung akan terjual, karena memang sudah banyak yang mengincar. Di sini memang daerah yang sangat strategis. Sekolah dekat, stasiun dekat, kantor kepolision dekat, terminal dekat, dan berbagai macam prasarana sosial lainnya. Sehingga wajar saja harga tanah di sini memang sangat mahal, dan cepat sekali naik dalam kurun beberapa tahun saja. Tanah yang belum dibangun apa-apa itu sudah dimiliki orang. Namun orang tersebut kebanyakan berasal dari luar kota yang belum berencana atau tanah itu ditinggal oleh pemiliknya.”

Alasan beberapa pendatang baru untuk tinggal di kampung Gremet tidak hanya berdasarkan strategis dan dekatnya prasarana sosial saja. Ada beberapa warga yang mengungkapkan alasan lain kenapa memilih di Gremet. Prioritas utama memang kestrategisan tempat, di sisi lain warga juga menginginkan kondisi kampung di tengah kota atau bisa disebut suatu daerah yang dimana kepribadian kampungnya masih bersifat tradisional (erat dengan kebersamaan, kehangatan komunikasi antarwarga) namun tetap berada di tengah wilayah perkotaan yang strategis. Para pendatang baru menginginkan kehangatan, kesederhanaan, kebersamaan dari esensi jiwa pedesaan yang mampu memberikan rasa nyaman ketika tinggal di Gremet dan juga nyaman dalam bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Ada warga yang bergumam tentang tempat tinggalnya sebelum pindah ke daerah Gremet yang juga tidak begitu jauh dari Gremet, di tempat tinggal sebelumnya Pak Wulung merasakan tidak nyaman dalam bersosialisasi dan hidup di sekitar tetangga-tetangganya yang bisa dibilang gap-nya cukup tinggi. Banyak yang terkesan cuek, sentimen, individualis, kebersamaan warga tidak hangat seperti di pedesaan. Hal itu yang juga menjadi alasan kenapa Pak Wulung pindah ke daerah Gremet untuk melanjutkan hidupnya. Namun tetap saja mayoritas prioritas utama mengapa para pendatang baru pindah ke Gremet adalah karena tempatnya yang strategis. Alasan lain dari pendatang baru yang pindah ke Gremet adalah keamanan-nya yang cukup baik, entah itu karena sistem siskamling kampung nya yang bagus, atau memang sudah dari awalnya Gremet itu aman atau karena dekat dengan kantor polisi yang letaknya di dekat Manahan dan juga letaknya berhadapan dengan Gremet.

Seiring dengan datangnya pendatang baru tersebut maka terjadi perubahan terhadap kampung Gremet, dimulai dengan adanya pengalihfungsian lahan, penataan tata ruang kampung, perubahan rumah-rumah tradisional yang menjadi bangunan modern (rumah bergaya modern), perubahan pada pola interaksi sosial antarwarga yang dulunya hubungan kekerabatan antarwarganya yang sangat kental sekarang seakan-akan berubah menjadi hubungan fungsional saja, perubahan pola perilaku dan pola pikir masyarakat dalam memandang budaya asli kampung. Pembangunan rumah-rumah elit di kampung Gremet dimulai pada tahun 2005-an. Seiring dengan itu pada sekitar tahun 2010 dibangun juga Manahan Parkview, suatu perumahan tingkat menengah ke atas yang terletak di samping timur pabrik tekstil yang dibatasi oleh dinding yang tinggi. Dinding yang tinggi menunjukkan adanya sikap tertutup pada masyarakat yang tinggal di situ. Hal ini diakui juga oleh ibu Hj. Koesmanto bahwa adanya anggapan atau sentimen dari warga asli Gremet terhadap warga perumahan yang diakui sulit untuk berinteraksi atau diajak untuk turut serta dalam kegiatan kampung. Pendatang baru yang bermodalkan pendidikan yang tinggi pun semakin kritis dan semakin sentimen juga dengan hal-hal tentang RT, RW, kampung, seakan-akan mereka tidak mau tahu tentang itu. Namun untuk kebanyakan interaksi sosial antarwarga asli Gremet masih sangat kental namun tidak seperti dulu.

Seperti kampung pada umumnya, kampung Gremet ini banyak menyimpan kisah para warga. Seperti menjadi saksi atas tumbuhnya kehidupan para warga, kampung menjadi tempat singgah untuk melepas kepenatan dan memulai interaksi bagi masyarakat nya. Jalan, tempat ibadah, serta lahan kosong kemudian menjadi ruang bagi warga untuk berinteraksi. Bukan hanya karena waktu mereka tidak bisa bertemu tapi memang tidak adanya ruang terbuka yang dapat digunakan untuk bersama.

Jalan kampung merupakan akses utama mereka melakukan kegiatan sehari-hari dan menjadi ruang utama bagi warga untuk berinteraksi, jalan menjadi tempat bagi anak-anak untuk bermain karena memang tidak ada lagi lapangan atau sekedar lahan kosong yang dapat digunakan. Anak-anak mengenal tempat bermain itu ya di jalanan bukan lapangan atau taman. Semakin baik kondisi jalan maka akan semakin sering jalan itu dilewati. Jalan kampung yang seharusnya digunakan oleh warga sekitar kampung nyatanya telah menjadi seperti jalanan umum begitu ramai oleh kendaraan bermotor bahkan mobil-mobil pun tak sungkan melewati jalan kampung. Akses jalan di kampung Gremet yang menuju ke jalan utama di Manahan membuat jalanan ini kerap digunakan beberapa siswa yang bersekolah di dekat kampung, Mereka sering melintasi jalan kampung dengan kebut-kebutan bersama teman-temannya. Sekalipun memakai jalanan sesuai fungsinya namun etika berkendara di dalam perkampungan tidak dilakukan. Di daerah tersebut banyak anak kecil yang kerap bermain sepeda ataupun bermain sepak bola di jalan.

Di kampung Gremet juga ada pasar Bangunharjo yang merupakan satu-satunya pasar yang terdapat di situ. Di sore hari pasar itu terlihat tidak begitu ramai. Begitupun juga kata Maida bahwa aktivitas di pasar itu tidak terlalu ramai seperti pasar biasanya. Entah kenapa, mungkin karena kebanyakan masyarakat di sana tidak terlalu bergantung lagi kepada pasar tradisional. Mungkin hanya warga-warga kelas menengah ke bawah yang berkunjung ke pasar Bangunharjo tersebut. Warga sekitar lebih memilih berbelanja ke pasar modern untuk membeli kebutuhan pokok dan lebih senang menanti pedagang sayuran keliling pada pagi hari. Biasanya akan ada pedagang sayur keliling. Mulai pukul 9 pagi atau jam 1 siang, tukang sayur biasanya akan berhenti di tempat-tempat strategis untuk didatangi para ibu-ibu. Dan pada saat berbelanja itulah biasanya para ibu bisa berkumpul dan bercerita. Pasar di sini seperti kehilangan identitasnya karena pasar hanya dijadikan tempat transaksi oleh orang-orang yang akan berjualan lagi (kulakan). Padahal pasar ini cukup dekat dengan permukiman penduduk namun sangat jarang ada warga yang ke pasar hanya untuk membeli sayuran untuk dimasak sehari-hari.

 

Bagian I:
Yurdhi Mahalani F., Larasati, Ibnu Ahmad, Maida Shinta, Yuni Wulan Ndari, Hanifah Kristiyanti,
Fikri Hadi Pratama, Nur Ibrahim Tikko

Berita Terkait