Kali Code : Dinamika Kampung Kota #2

Relasi sosial dan event merupakan dua hal yang saling berkesinambungan. Dalam proses pergerakannya, masyarakat yang tergabung dalam komunitas mengadakan berbagai acara atau event sebagai media eksistensi dan juga untuk membentuk identitas. Eksistensi dan identitas tersebut digunakan baik untuk komunitas itu sendiri maupun untuk kampung tempat komunitas tersebut terbentuk. Berbagai acara digelar dalam lingkup internal yang berarti hanya melibatkan masyarakat kampungnya dan juga lingkup eksternal yang berarti melibatkakan orang-orang ataupun kelompok lain yang berasal dari luar kampung. Hal ini juga bertujuan untuk membuka jaringan guna menambah kekuatan untuk mendapatkan target apa yang hendak dituju secara lebih cepat, dimana event tersebut dirancang dan dilaksanakan di kampung Jetisharjo dan kampung Jogoyudan.  Relasi sosial  menjadi faktor pendorong yang dibutuhkan agar event dapat terselenggara. Dan juga menjadi manfaat yang didapat ketika sekelompok komunitas atau kampung dengan pergerakannya mempunyai eksistensi sehingga banyak pihak diluar yang mengetahui. Relasi sosial bagi masyarakat yang berbasis komunitas juga merupakan kekuatan tambahan untuk membantu mewujudkan target yang hendak dituju.

Gerakan untuk membangun relasi sosial dalam masyarakat berbasis komunitas mulai muncul akibat dari kebutuhan dari masyarakat itu sendiri.  Salah satunya adalah dengan mengadakan suatu event baik secara kolaborasi ataupun menyelenggarakan event dengan cara independen.  Jika dilihat dari sifat pergerakannya, kampung Jetisharjo lebih sering mengadakan event dalam lingkup eksternal daripada lingkup internal. Hal ini terbukti dengan banyaknya dokumentasi yang ditemukan yakni berupa foto-foto dan juga persepsi masyarakat yang terbuka terhadap orang baru. Pemerti Code sebagai komunitas yang tumbuh di dalam kampung tersebut telah bertemu dengan relasi-relasi baik dari Pemerintah, akademisi, pemerhati sungai baik domestik ataupun mancanegara, dan juga dari berbagai kelompok dalam proses pergerakannya. Hal ini berdampak tumbuhnya kolaborasi dengan relasi sosial dalam bentuk event yang diselenggarakan dengan satu tujuan namun berbeda kepentingan. 
 
Situasi yang hampir sama, dimana bentuk event yang diadakan di Jetisharjo adalah event yang bertujuan untuk mengenalkan kampung Jetisharjo kepada masyarakat umum. Relasi sosial Pakubangsa terbentuk dikarenakan kesamaan nasib yaitu terancamnya pemukiman disebabkan penggusuran karena status hak milik tanah yang ditempati adalah Sultan Ground. Sebab secara kronologis wacana mengenai penggusuran pemukiman ini telah merebak dari tahun 1980. Namun karena ada perjanjian antara pihak Keraton dan juga masyarakat setempat maka terdapat perpanjangan tempo sampai sekarang. Oleh sebab itu, relasi sosial yang terbentuk mayoritas adalah daerah dan komunitas yang mempunyai kesamaan nasib dan tujuan yang hendak dicapai. Berrelasi dengan komunitas Kulon Progo, dimana masyarakatnya sedang berjuang untuk menolak adanya pembangunan Bandara Adi Sucipto. Selain di Kulon Progo, relasi juga terbentuk di daerah Gunung Kendeng yaitu Sedulur Sikep yang sama-sama mempunyai tujuan untuk mempertahankan tanah pertanian yang akan dibangun Pabrik Semen, Daerah-daerah lain yang menjadi relasi Pakubangsa semakin bertambah. Seperti masyarakat sekitar Pantai Watu Kodok dan masyarakat Rembang. Namun tidak lalu hanya rekan senasib saja yang menjadi relasi sosial dari Pakubangsa. Seiring berjalannya waktu dari berbagai sektorpun terdapat relasi dari Pakubangsa di Jogoyudan. 
 
Event yang dilakukan di daerah Jogoyudan mayoritas bersifat internal, hal ini dikarenakan krisis kepercayaan masyarakat kepada Pemerintah setempat. Jika ditarik benang merah ini disebabkan saat erupsi 2010, masyarakat merasa Pemerintah tidak memberikan perhatian yang lebih. Dalam artian adanya bantuan dari Pemerintah hanya bersifat kontemporer. Dalm proses pembangunan rumah dan ruang pascaerupsi 2010, masyarakat Jogoyudan tidak mengandalkan bantuan dari pihak eksternal, melainkan dengan bantuan warga yang rumahnya tidak terkena dampak dari erupsi tersebut. Atau kepada relasi sosial yang berempati terhadap keadaan Jogoyudan saat itu sehingga untuk menutupi biaya pembangunan pascaerupsi masyarakat Jogoyudan mengandalkan swadaya masyarakat dan membuat berbagai event sebagai bagian untuk menguatkan komunitas.
 
Seiring berjalannya waktu, banyaknya event yang dibuat di Jogoyudan mempunyai dampak dimana lambat laun masyarakat mulai terbuka dengan pihak eksternal, salah satunya adalah dengan para akademisi. Banyak akademisi dari dalam ataupun luar negeri yang datang untuk melakukan riset dan juga pemberdayaan masyarakat. Pakubangsa sebagai komunitas yang tumbuh di daerah Jogoyudan mengakomodir dan menjadi media untuk mengkolaborasikan para akademisi tersebut dengan masyarakat setempat. Sehingga sekarang selalu ada program KKN setiap tahunnya dari berbagai universitas yang bekerja sama dengan masyarakat. 

Dinamika Kesadaran Komunitas 
Dinamika yang timbul sebab erupsi 2010 di kampung Jetisharjo dan Jogoyudan berdampak pada timbulnya suatu nilai dalam lingkup besar pada masyarakat. Dalam proses keberjalanannya kemunculan kesadaran merupakan hasil dari getok tular oleh bagian lain dari masyarakat kedua kampung yang tergabung menjadi komunitas. Ini membangun persepsi di dalam masyarakat bahwa terdapat aktor dalam segala macam pergerakan yang dilakukan. Aktor ini selain menjadi eksekutor, juga menjadi motor penggerak perubahan dan perkembangan masyarakat. Masyarakat Jetisharjo telah mendefinisikan Pemerti Code sebagai aktor yang bergerak dalam segala proses gerakan yang ada di kampung Jetisharjo. Begitu pula dengan masyarakat Jogoyudan yang mendefinisikan Pakubangsa sebagai aktor yang bergerak dan menjadi panutan dalam kampung Jogoyudan. Ini dikarenakan dengan berbagai proses yang ada telah menjadikan Pemerti Code dan Pakubangsa ke dalam bagian yang dominan. Bukti nyata bahwa Pemerti Code dan Pakubangsa dianggap sebagai aktor dalam kampung masing- masing adalah ketika terdapat individu atau kelompok yang masuk ke dalam kampung dan ingin membicarakan perihal sungai, maka warga mengarahkan pada kedua komunitas tersebut.

Komunitas Pemerti Code. Kronologi terbentuknya Pemerti Code telah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya. Masyarakat kampung Jetisharjo telah memberi ruang akan tumbuh kembangnya komunitas yang telah lama hadir dalam tatanan sosial mereka. Faktor mengapa Pemerti Code dimaknai sebagai aktor dalam kampung Jetisharjo dibandingkan dengan beberapa kelompok yang berdiri di kampung Jetisharjo selain karena alasan pada penjelasan di atas juga dikarenakan Pemerti Code merupakan komunitas dengan lingkup yang lebih luas. Jika dibandingkan dengan Peta Bejo yang fokus pergerakannnya lebih mengarah kepada kebencanaan dan sosial masyarakat, Pemerti Code memiliki lingkup gerakan yang lebih luas dan fleksibel dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Selain itu, sifat Pemerti Code yang lebih progresif jika dibandingkan dengan komunitas lain yang tumbuh, menjadikan Pemerti Code dimaknai sebagai aktor yang dapat menginterpretasikan kampung Jetisharjo.
 
Pemerti Code telah melakukan banyak aktivitas, dimana pergerakan yang dilakukan kian beragam guna lebih mengena sasaran dan menarik di mata masyarakat luas. Salah satu gerakan yang juga menjadi tujuan dari adanya komunitas Pemerti Code adalah dengan membentuk komunitas-komunitas baru yang juga mengangkat isu sungai. Komunitas baru yang muncul ini bersifat lebih muda, dimaksudkan agar menarik perhatian kaum muda untuk turut memelihara sungai. Salah satu komunitas yang muncul adalah Komunitas Code Boyong Muda. Komunitas Code Boyong Muda terbentuk setelah adanya kegiatan Susur Sungai 2016 #1 dengan  tema “MY CODE MY ADVENTURE” yang dilakukan oleh Pemerti Code pada 2016. Kegiatan Susur Sungai yang dilakukan oleh Pemerti Code ini dipergunakan sebagai media untuk merealisasikan tujuan pembentukan komunitas-komunitas baru. Eksekutor dari kegiatan susur sungai tersebut adalah kolaborasi antara Pemerti Code dan kelompok yang dahulunya tergabung dalam program sekolah sungai yang dilakukan oleh Pemerti Code. Selanjutnya, setelah susur sungai selesai dilaksanakan, diadakan pertemuan rutin setiap bulannya guna mengevaluasi kegiatan dan juga mulai membentuk kepengurusan. 
 
Kepengurusan awal dan juga anggota awal merupakan peserta susur sungai yang masih aktif mengikuti pertemuan yang notabennya mempunyai sisi ketertarikan terhadap isu sungai. Anggota tersebut rata-rata adalah mahasiswa, pengurus karang taruna di berbagai wilayah di Yogyakarta, dan juga beberapa telah bekerja. Pada tanggal 15 Maret 2016 Komunitas Boyong Muda resmi  berdiri, jika dilihat berdasarkan lingkup keanggotaan dan juga pergerakannya Code Boyong Muda tidak  hanya di kampung Jetisharjo, melainkan tersebar di beberapa kampung yang ada di Yogyakarta. Selain Code Boyong Muda, sebelumnya telah ada komunitas yang berdiri setelah adanya program dari Pemerti Code. Komunitas tersebut adalah Dek Paijem yang berdiri setelah adanya program kampung wisata yang dilaksanakan oleh Pemerti Code. Dek Paijem merupakan komunitas mural yang terbentuk di kampung Jetisharjo. Selain itu adanya komunitas Peta Bejo sendiri juga dapat disebut sebagai implikasi dari adanya pergerakan yang dilakukan Pemerti Code. Kelahiran beberapa komunitas tersebut merupakan bukti bahwa tujuan Pemerti Code untuk melahirkan komunitas-komunitas baru telah tercapai. 
 
Selain menularkan semangat berbentuk gerakan komunitas kepada masyarakat luas, gerakan lain yang dilakukan oleh Pemerti Code khususnya untuk kampung Jetisharjo adalah kegiatan yang dapat dikatakan sederhana seperti bersih-bersih kali dan beberapa kegiatan yang mendukungnya. Salah satu hasil dari kegiatan yang menjadi simbol bahwa Pemerti Code hidup di dalam kampung Jetisharjo adalah adanya Tirta Kencana. Tirta Kencana merupakan tata cara pengelolaan air bersih untuk kehidupan masyarakat kampung Jetisharjo. Nama dari Tirta Kencana sendiri diambil dari perusahaan yang bekerja sama dengan Pemerti Code.Dulunya, pengelolaan air bersih di Jetisharjo ini terpikirkan pada tahun 2006 yang pada saat itu salah satu tokoh Pemerti Code yakni Pak Totok menjadi ketua RW 07 di kampung Jetisharjo. Inisiasi ini timbul dikarenakan keruhnya air kali. Padahal masyarakat mengandalkan air kali untuk kehidupan sehari-hari maka muncullah gagasan Tirta Kencana. Secara teknis, Tirta Kencana berbentuk lubang-lubang seperti sumur untuk mewadahi air hujan dan juga merupakan penampungan dari sumber mata air yang telah disalurkan oleh alat-alat pompa air. Masyarakat Jetisharjo setiap bulan ditarik biaya Rp. 9.000 rupiah untuk pengelolaan air ini. Tirta Kencana merupakan suatu ide inovasi yang sederhana namun memiliki daya guna yang luar biasa. Dan secara tidak langsung dapat berdampak pada b kampung Jetisharjo yakni menjadi kampung-kota pinggir sungai dengan sistem pengelolaan air dan sanitasi yang rapi, menarik, dan mandiri sehingga  banyak perhatian kampung-kampung pinggiran sungai dari berbagai daerah.  
 
Menilik kembali selama keberjalanan komunitas Pemerti Code yang memang basis pertumbuhan awalnya berada di Jetisharjo tentu sangat penting mengetahui apakah masyarakat merasakan adanya dampak yang ditimbulkan. Perasaan untuk merasakan dampak tersebut merupakan implikasi dari eksistensi Pemerti Code sendiri dalam diri masyarakat Jetisharjo. Kini sebagian masyarakat Jetisharjo mendefinisikan Pemerti Code bukan merupakan suatu komunitas, melainkan ritual. Hal ini tentu saja terkait dengan histori dari gerakan yang dilakukan oleh FMCU sebelum Pemerti Code hadir. Pemaknaan ini masih berlangsung sampai saat ini dimana perihal mengenai pemaknaan ini diperkuat oleh beberapa jawaban informan ketika berdialog tentang Pemerti Code maka yang simbol yang akan ditampakkan adalah kegiatan merawat sungai. Eksistensi dari Pemerti Code kini lebih nampak dalam konteks yang lebih luas dan juga dalam lingkup kota Yogyakarta. Ini dibuktikan dengan berita media mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan sehingga ampung wisata menjadi tagline yang paling sering dijumpai apabila kita mencari kampung Jetisharjo.

Komunitas Pakubangsa. Dinamika dan  pergerakan yang terjadi di kampung Jogoyudan dimotori oleh Pakubangsa. Hal ini menjadikan masyarakat bergantung dan memaknai Pakubangsa sebagai aktor pergerakan dan juga media untuk berkeluh kesah mengenai kesulitan yang bersifat umum seperti masalah pemukiman, ekologi, pendidikan, ataupun masalah ekonomi. Pakubangsa menjadi komunitas tunggal yang tumbuh dan berkembang di kampung Jogoyudan. Sesuai gagasan awal pembentukkan, Pakubangsa telah melakukan berbagai kegiatan yang juga merupakan pergerakan dari komunitas tersebut. Mayoritas dari pergerakan tersebut memang untuk pertahanan pemukiman yang selama ini telah ditinggali. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan kelegalan atas tanah tersebut. Diantaranya adalah dengan memproses berbagai sertifikasi rumah untuk mendapat pengakuan secara  hukum legal dan  berkoordinasi dengan kelompok dan komunitas lain yang mempunyai nasib yang serupa.  Berbagai upaya yang dilakukan Pakubangsa tentunya memantik pengetahuan dan pemaknaan masyarakat Jogoyudan mengenai identitas komunitas Pakubangsa dalam kehidupan mereka sehari-hari.  Pakubangsa dimaknai sebagai komunitas yang membantu mereka dalam kehidupan dan berangkat dari keluhan-keluhan warga dikampung-kota seperti Jogoyudan sehingga Pakubangsa banyak berkembang di RT 32/RW 07 Jogoyudan. Sementara segala upaya yang dilakukan secara tidak langsung harusnya mendongkrak eksistensi kampung didalam sektor pemerintahan terkecil yaitu komunitas di level Rukun Warga. Maka sama seperti pembahasan sebelumnya, menarik melihat sudut pandang mengenai kampung Jogoyudan melalui paradigma Kelurahan setempat. 
 
Faktor pendorong keberjalanan pergerakan dari Pakubangsa dan juga Pemerti Code  dilandasi oleh keyakinan dari keyakinan bahwa Pemerintah tidak bisa menyelesaikan persoalan sungai dan pemukiman sendiri. Ini dibuktikan dengan data KLH 2014 dimana 73% sungai di Indonesia masuk kategori tercemar berat. Selain itu para penggerak yang tergabung dalam komunitas mayoritas adalah sebagai pihak yang paling tahu kondisi sungai setempat (Kali Code). Kemudian relasi sosial yang mulai terbangun. Masing-masing komunitas harus berkontribusi untuk mencapai sasaran tertentu. Dimana akan terjadi simbiosis mutualisme antarkomunitas yang telah terjalin secara kontinyu. Selain itu, adanya hukum yang memayungi gerakan masyarakat ataupun gerakan komunitas dalam regulasi sungai yang tercatat di PP No 38 tahun 2011 dalam ringkasan BAB III tentang Pengelolaan Sungai Pasal 18 dan 19).

Dampak dari Gerakan Komunitas Code : Perbaikan Ekologi Sungai
Terjaganya ekologi sungai merupakan  implikasi dari adanya perubahan pola pikir masyarakat di kampung Jetisharjo dan Jogoyudan serta keberadaan komunitas. Masyarakat yang pada awalnya hidup dalam peradaban air dimana sungai menjadi sumber kehidupan berubah seiring berjalannya peradaban ekonomi yang menyita perhatian masyarakat urban. Namun pascaerupsi 2010 maka pemaknaan terhadap sungai berubah oleh adanya ancaman bagi masyarakat. Walaupun tidak seluruh masyarakat kampung Jetisharjo dan Jogoyudan memaknai hal yang sama. Kemudian dengan kemunculan komunitas dan segala gerakan yang dilakukan telah merekontruksi pemaknaan terhadap sungai. Perubahan pola pikir masyarakat ini dibuktikan dengan perubahan tatanan fisik pemukiman masyarakat yang dahulunya membelakangi sungai menjadi berhadapan dengan sungai. Terlepas apakah ada campur tangan dari Pemerintah Kota namun perubahan fisik ini terlihat di hampir semua kampung-kota yang ada dipinggiran Code termasuk kampung Jetisharjo dan Jogoyudan. Selain ditunjukkan oleh tatanan fisik, perubahan pola perilaku ini juga terwujud dengan perilaku masyarakat dalam berinteraksi terhadap sungai. Sungai kini menjadi media yang dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan suatu gerakan komunitas yang tumbuh di dalamnya. 
 
Tentu saja perubahan ekologi sungai ini mengalami dinamika pasang surut. Dimana kejadian atas dinamika tersebut berawal ketika kota Yogyakarta terbentuk pada saat itu keadaan ekologi Kali Code masih dalam keadaan yang sangat alami. Pohon bambu yang menjadi ciri bahwa kali itu hidup dan terawat masih banyak dijumpai. Keadaan air masih sangat jernih dan masih terdapat ruang lapang kecil di tengah sungai atau masyarakat biasa menyebutnya dengan mbelik. Selain itu jarak antara kali dan pemukiman masih sangat jauh tanpa ada talut yang menjadi pembatas interaksi masyarakat dengan sungai. Masyarakat urban datang dengan orientasi ekonomi yang kemudian memberikan dampak rusaknya ekologi sungai. Adanya erupsi merapi yang menyebabkan lahar dingin menghancukan sebagian kampung dan juga membanjiri pemukiman yang dilewatinya semakin merusak ekologi sungai. Hal ini memberi pelajaran kepada masyarakat bahwa menjaga kebersihan sungai menjadi pengetahuan baru yang telah menimbulkan aksi kesadaran untuk menjaga ekologi sungai. Aksi ini dilakukan masyarakat secara terus menerus dan adanya komunitas telah berperan sebagai penggerak awal gerakan kepedulian terhadap sungai dan ekologinya. 
 
Namun tidak serta merta semua keadaan baik, memang saat kita mendiskusikan mengenai ekologi sungai akan timbul  paradigma yang berlawanan arah seperti sebuah mata pisau. Keadaan ekologi sungai saat ini dapat dimaknai dengan lebih baik ataupun lebih buruk. Keadaan seperti ini terjadi baik di kampung Jetisharjo dan Jogoyudan. Dinamika mengenai keadaan ekologi Code di Jetisharjo ditandani dengan prosesi Merti Code dan juga pembuatan Tirta Kencana. Dimana Merti Code menjadi ritual yang sekaligus menjadi saksi awal kesadaran masyarakat Jetisharjo terhadap kebersihan sungai. Dan Tirta Kencana menjadi bukti bahwa air yang terkandung dalam  Code mangandung unsur kimia dan sudah hilang sifat asli air sungai Code yang berlimpah ruah dan bersih.  Kampung Jogoyudan pertanda adanya perubahan ekologi sungai adalah ditinggikannya talut sepanjang kampung yang tentu saja juga melewati kampung Jogoyudan. Talud ini menjadi saksi bahwa awal mula masyarakat menganggap bahwa ekologi sungai bukan lagi kawan melainkan ancaman bagi masyarakat. Talut juga menjadi pembatas aktivitas masyarakat terhadap sungai. Namun di sisi lain, talut juga menjadi solusi untuk mengingatkan masyarakat tentang betapa pentingnya menjaga ekologi sungai. Selain talud yang menjadi saksi adanya perubahan ekologi sungai adalah sumur timba yang berada di pinggir  Code. Sumur timba ini sebagai penanda  bahwa masyarakat telah menganggap air Code tidak berlimpah ruah dan juga tidak bersih. Pohon-pohon bambu penanda kealamian sungai sempat mati dan tidak ada tanaman yang menghiasi pinggir kali namun sekarang dapat dijumpai berbagai tanaman dalam trashbag yang diletakkan di seluruh talud kali. 

Wisata Kampung-Kota
Saat ini Yogyakarta selain berpredikat sebagai Kota Pelajar juga sedang menggali wisata yang ada didalamnya guna lebih memperkaya tagline Jogja Istimewa. Gagasan Code saat ini juga menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Yogyakarta, dikarenakan letak Code yang membelah di tengah kota, dan juga  mempunyai nilai budaya serta histori yang menarik untuk dijadikan konten tersendiri dengan isu wisata kampung-kota. Hal ini terbukti dengan keseriusan Pemerintah Yogyakarta dalam menggarap kampung wisata di sepanjang  Code. Berdasakan pada PP No 38 Tahun 2011 tentang sungai yang terfokus yang mengatur tentang Ruang Sungai dan BAB III yang mengatur tentang Tata Kelola Sungai. Dan juga berdasar pada Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Yogyakarta dimana di dalamnya memuat rencana yang akan dilakukan Pemerintah di tahun 2010-2029, Pemerintah Yogyakarta telah merencanakan wisata air yang berada di kawasan pinggir  sepanjang Code  (hukum.jogjakarta.go.id).
 
Wacana mengenai sungai  Code yang berpotensi sebagai wisata ditangkap oleh masyarakat yang tinggal di kampung-kampung pinggir Code. Begitu juga dengan kampung Jetisharjo dan kampung Jogoyudan. Pembangunan kampung wisata menjadi refleksi dari eksistensi yang sudah didapat saat memperluas relasi sosial. Kampung Jetisharjo dengan Pemerti Code yang menjadi eksekutor memanfaatkan isu tersebut untuk membentuk kampung wisata. Area wisata yang ditawarkan berinduk di kampung Jetisharjo dan kemudian seiring berjalannya waktu membentuk jaringan dengan kampung yang lain agar konten yang ditawarkan semakin banyak. Pembangunan kampung wisata ini juga merupakan dampak dari kegiatan Merti Code yang telah berhasil menarik perhatian masyarakat luas, melebihi target yang diharapkan sehingga menjadi candu tersendiri bagi Pemerti Code untuk mengembangkan potensi yang dimiliki kampung. Pembentukan kampung wisata ini sudah mulai direncanakan ketika masih ada komunitas FMCU. Ini dibuktikan dengan dokumentasi FMCU yang berupa foto-foto yang menampilkan kegiatan sarasehan guna merancang tatanan awal wisata Kali Code. 
 
Dulunya, wisata yang ditawarkan adalah wisata Merti Code kemudian seiring berjalannya  waktu maka terbentuklah keseriusan tentang pembangunan kampung-kota wisata. Ini terbukti dari terbentuknya perkumpulan masyarakat Jetisharjo RW 07 yang memiliki fokus konsentrasi sebagai pengurus kampung wisata Jetisharjo. Keseriusan ini juga terbukti secara simbolik dengan kenampakan kampung Jetisharjo yang dipenuhi dengan mural yang digambar oleh kumpulan anak muda Jetisharjo yang bernama Dek Paijem. Kampung Jetisharjo telah membentuk fisik kampung menyerupai kawasan wisata, hal ini dapat dilihat dari berbagai macam fasilitas kampung yang sedikit demi sedikit manjadi bagian dari wisata kampung. Dimulai dari pintu masuk kawasan kampung Jetisharjo RW 07 telah banyak ornamen mural dan juga patung-patung yang memang sengaja dibuat di tembok agar terkesan artistik. Selain itu, sungai yang menjadi konten utama dari wisata kampung telah diperhatikan kebersihannya serta didukung oleh pembangunan ruang untuk menjamu tamu yang datang plus dengan dilirisnnya  leaflet dari kampung wisata dengan lingkup tidak hanya di kampung Jetisharjo saja.
 
Persepsi tentang kampung wisata ini, menjadi persepsi yang semi kontra di daerah Jogoyudan. Di Jogoyudan, masyarakat yang tergabung oleh Pakubangsa memiliki kekhawatiran bahwa ketika kampung mereka dijadikan sebagai kampung wisata maka akan banyak investor yang membidik dan ingin membeli tanah yang sekarang dijadikan tempat tinggal. Kondisi akan semakin sulit ketika mengingat status hak milik mereka merupakan Hak Guna Bangunan (HGB). Kekhawatiran semakin bertambah dengan habisnya masa tempo tanah atas pemukiman nanti di taun 2019. Jika dihubungkan, terjadi keterkaitan antara Perda Yogyakarta yang habis di tahun 2029 dan karakteristik Pemerintahan pada masa sekarang. Kekhawatiran tersebut ternyata tidak berpengaruh pada rencana Pemerintah kampung Jogoyudan akan dijadikannya wisata. Dikarenakan letak kampung Jogoyudan yang termasuk ke dalam kawasan Code Tengah dan secara geografis berada di depan kampung binaan Romo Mangun yang menjadi konten sejarah dan ikon rumah berwarna-warni yang nantinya akan menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan. Sesuai rencana, wisata air Code nantinya akan menggunakan teknik seperti Gondola. Aplikasi dari konsep Gondola tersebut diwujudkan oleh perahu kayu yang nantinya akan berjalan di atas aliran Code mulai dari Jembatan Gondolayu sampai ke jembatan Kewek. 
 
Saat ini penataan kampung Jogoyudan sedang berlangsung. Penataan ini dilakukan oleh Pemerintah Yogyakarta dibantu Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mulia Artha Kelurahan Gowongan. Penetaan tersebut berbentuk pelabaran akses jalan yang tadinya hanya selebar 1 meter menjadi 3 meter, pembangunan talud yang awalnya terbuat dari batu-batu yang ditata dan ditali oleh jala menjadi talud dengan nuansa kental Yogyakarta, kemudian penataan pemukiman dengan menghadapkan bangunan yang masih membelakangi sungai menjadi berhadapan dengan sungai. Dengan mengusung konsep Mundur Munggah Madep Kali (M3K). Kawasan Jogoyudan bagian selatan telah tertata dan kemudian akan dilanjutkan ke utara. Kelanjutan ini ditandai dengan  pembukaan kenduri pembangunan tahap III Kampung Wisata Jogoyudan pada 2016. Dimana target dari Pemerintah, pada tahun 2017 Jogoyudan siap untuk menjadi kampung wisata (sumber: www.radarjogja.co.id). Namun keadaan keadaan pembangunan tersebut belum seluruhnya menyentuh kawasan Jogoyudan RW 08. Dibuktikan dengan masih digunakannya talud dan kawasan sempadan untuk keperluan rumah tangga dan banyaknya warga yang cemas serta terfokus kepada perjuangan untuk mengajukan perpanjangan tempo lahan pemukiman. 

Sekolah Komunitas
Kesadaran warga mengenai pentingnya edukasi mulai timbul dan terwujud dalam program atau kegiatan yang dilakukan komunitas yang tumbuh dalam masyarakat tersebut. Hal ini juga terjadi pada masyarakat kampung Jetisharjo dan juga Jogoyudan. Implikasi anggapan tersebut adalah dengan adanya sekolah-sekolah non-formal yang saat ini berdiri. Sekolah tersebut berada pada kampung masing-masing dengan peserta atau murid yang bersekolah disana merupakan anak dari warga yang tinggal di kampung-kota. Kampung Jetisharjo merintis sekolah non-formal yang dibangun lebih menekankan pada lingkungan. Hal ini timbul disebabkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menanamkan pendidikan menganai ekologi sungai ini kepada warga setempat. Maka terbentuklah sekolah yang bernama Sekolah Sungai, dimana pendidikan Sekolah Sungai dilaksanakan di Ruang Terbuka Hijau yang ada di kampung Jetisharjo. Terbentuknya sekolah sungai ini berawal dari program Pemerti Code yang bekerja sama dengan BNPB dengan nama yang sama, yakni Sekolah Sungai. Sekolah sungai pertama kali dibentuk pada tahun 2014 dan sekarang sekolah sungai dilakukan sebagai sarana edukasi masyarakat sekitar Code khususnya di kampung Jetisharjo. Adapun materi yang diajarkan adalah tentang pengelolaan sampah sungai, penghijauan, dan cara merawat lingkungan khususnya aplikasi di sekitar daerah bantaran sungai.
 
Seiring berjalannya waktu, sekolah sungai mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar yang berkunjung ke Jetisharjo untuk ikut menjadi peserta. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka saat ini Sekolah Sungai mengalami perubahan tujuan yakni tidak saja menjadi kebutuhan masyarakat Jetisharjo saja melainkan telah bergeser materinya yang ditawarkan dan dimasukkan ke dalam paket wisata di Jetisharjo. Dimana dalam konten wisata sekolah sungai ini, dibentuk dalam berbagai paket. Antara lain : paket untuk keluarga, rombongan sekolah, komunitas, dan juga paket individu. Teknis pelaksanakan biasanya Pemerti Code melakukan kolaborasi dengan Perguruan Tinggi dan juga dengan komunitas dengan isu terkait untuk menjadi tenaga pengajar. Seperti dengan Universitas Gajah Mada yang mengajar anak-anak dalam sekolah sungai di awal keberdiriaanya dan juga komunitas Jogja Berkebun (Jokbun) yang pada tahun ini mulai bekerja sama dengan Pemerti Code untuk juga membantu program sekolah sungai. 
 
Di kampung Jogoyudan, sekolah komunitas terbentuk sebagai solusi masyarakat dimana rata-rata pendidikan masyarakat Jogoyudan dapat dikatakan masih rendah. Latar belakang warga kampung-kota yang masih kurang memperhatikan masalah pendidikan juga menjadi faktor pendorong timbulnya sekolah. Nama dari sekolah yang dibentuk adalah Sekolah Rakyat, dimana  Sekolah Rakyat berdiri pada tahun 2012 dan dirikan oleh komunitas Pakubangsa dengan basis meningkatkan sumber daya manusia yang terfokus pada anak-anak yang ada di kampung Jogoyudan. Selain itu, Sekolah Rakyat juga bertujuan untuk memberi stimulus kepada masyarakat di kampung Jogoyudan mengenai pentingnya pendidikan. Konten yang ditekankan adalah pelajaran yang ada di sekolah, oleh sebab itu masyarakat Jogoyudan lebih mengenal Sekolah Rakyat dengan sebutan Bimbel. Siswa yang mengikuti kegiatan ini rata-rata mulai dari anak kelas  SD sampai dengan SMP. Pelaksanaan kegiatan Sekolah Rakyat ini berada di halaman Pos Serba Guna yang ada di RT 32 yang juga menjadi ruang publik dari kampung Jogoyudan. Waktu yang digunakan untuk bimbingan belajar yakni hari Senin-Jumat pada pukul 16.00 sampai sebelum magrib. 
 
Sekolah Rakyat mempunyai struktur kepengurusan yang hampir sama dengan sekolah formal pada umumny, yaitu terdapat Kepala Sekolah, Sekretaris, dan juga ada Ketua Komite. Dalam proses belajar mengajar, tenaga pengajar berasal dari mahasiswa yang telah menjalin relasi sebelumnya dengan komunitas Pakubangsa. Skema tersebut hasil dari program Kuliah Keja Nyata dari Universitas  yang selalu dialokasikan di Jogoyudan setiap tahunnya. Selain itu ada juga melalui kegiatan tugas serta ada yang serta merta hanya dengan basis sosial. Dalam proses keberjalannya Sekolah Rakyat mengalami dinamika seiring dengan kegiatan dan berbagai strategi pengurus sekolah dan juga Pakubangsa akhirnya dukungan dari orang tuapun lambat laun kian meningkat dan stabil. 
 
Penguatan Ekonomi Masyarakat 
Penguatan ekonomi warga menjadi gerakan yang juga dilakukan oleh komunitas Pemerti Code dan juga Pakubangsa. Selain bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperkaya pengetahuan masyarakat, hal ini dilakukan agar masyarakat juga merasakan dampak adanya pergerakan yang memudahkan mereka dalam hal kehidupan ekonomi. Selain itu jika ditilik berdasarkan latar belakang lahirnya komunitas, pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu tujuan utama mengapa komunitas tersebut dibangun. Dalam prosesnya, terdapat diferensiasi cara yang digunakan oleh Pemerti Code dan juga Pakubangsa dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Kampung Jetisharjo yang notabenenya sudah mulai terbentuk menjadi kampung wisata, penguatan ekonomi masyarakat dilakukan dengan cara mengedukasi masyarakat untuk melengkapi elemen-elemen yang seharusnya ada dalam suatu tempat wisata. Seperti pengadaan homestay, cafe, jajanan-jajanan untuk menyambut tamu, entertainer yang berwujud peragaan Bergodo Keraton dan berbagai kesenian, sampai membentuk kelompok yang khusus menangani konsumsi untuk wisatawan. Selain itu, terdapat edukasi pembuatan souvenir dari sampah agar mempunyai nilai jual yang lebih. Setiap terdapat kunjungan, maka semua hasil kreativitas yang dibuat masyarakat tersebut akan dipamerkan atau dipergunakan sehingga menambah pemasukan masyarakat. 
 
Pakubangsa menyadari adanya kebutuhan ekonomi pada masyarakat kampung Jogoyudan. Ini dikarenakan memang mayoritas masyarakat berada dalam karakteristik masyarakat rentan secara ekonomi. Oleh sebab itu dalam meningkatkan ekonomi masyarakat, maka dibuatlah pelatihan-pelatihan yang berbasis kreatif dan memanfaatkan barang-barang bekas ataupun barang rumah tangga sebagai bahan baku, yang kemudian dapat mempunyai nilai jual lebih. Pelatihan tersebut biasanya diperuntukan untuk ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di kampung Jogoyudan. Dikarenakan keadaan kampung Jogoyudan yang saat ini belum dipergunakan sebagai kampung wisata, maka untuk memasarkan hasil kreativitasnya pasar yang dituju untuk memasakan produk adalah Pasar Malioboro. Pelatihan ini tidak dilakukan secara reguler dan tempat yang digunakan untuk pelatihan adalah di Pos Serbaguna atau di salah satu rumah warga. Jika diproyeksikan menurut rencana Pemerintah Kota Yogyakarta dimasa depan dimana kampung Jogoyudan menjadi kampung wisata, maka proses pelatihan kreatifitas ini akan dapat menjadi modal pengetahuan bagi masyarakat. Dimana nantinya barang yang akan diproduksi dapat menjadi potensi kampung sehingga tujuan atas diadakannya pelatihan di masa sekarang menjadi alternatif langkah yang paling tepat dilakukan.
 
 
Diambil dari Sungai, Kampung, dan Kota 
KampungnesiaPress, 2017
 
 

Berita Terkait