Gebyuran Bustaman : Tradisi, Gengsi, dan Solidaritas

Ada banyak cara untuk membuat masyarakat kembali menjadi solid setelah kohesivitas mereka menurun karena kesibukan dalam mencari nafkah sehari-hari. Jauh hari Durkheim telah meneliti bagaimana masyarakat  bisa padu padahal mereka terdiri dari beragam latar belakang berbeda. Penelitiannya kemudian membagi solidaritas masyarakat menjadi solidaritas mekanis (dalam masyarakat terdahulu) dan solidaritas organis (masyarakat sekarang). Pembagian kerja di masyarakat modern dianggap sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kepaduan tersebut. Sedangkan dalam masyarakat lebih sederhana, keseragaman maupun homogenitas menjadi prasyarat terciptanya kepaduan. Namun bagaimana dengan masyarakat modern yang masih merawat tradisinya? Di Kampung Bustaman, mempunyai kasus yang menarik. Kampung yang terkenal sebagai penjagal kambing dan gulainya yang termahsyur ini mempunyai berbagai irisan yang membuat mereka tetap padu. Selain unsur kekerabatan yang erat melekat, mereka banyak yang terkoneksi satu sama lain karena hubungan kerja. Itu saja tidak cukup untuk merawat cita-cita kolektivitas kampung makanya mereka perlu merawat tradisi demi menjaga nilai-nilai ideal itu tetap hadir.
 
Adalah Victor Turner yang menyatakan salah satu fungsi ritual yakni menghadirkan kembali nilai-nilai yang sering dilupakan karena kesibukan keseharian. Fungsi ritual ini selain menguatkan kembali masyarakat juga sebagai pengingat ada hal-hal lain yang penting ketimbang kesibukan bekerja. Menurut Rudjanysah  ritual adalah indeks bagi sebuah struktur yang terbangun dari kelompok-kelompok itu. Victor bahkan lebih penting dari struktur karena merupakan ekspresi langsung dari struktur pengelompokan itu sendiri (Rudjansyah, 2015).  Lebih jauh menambahkan ritual tak hanya mengekspresikan tetapi juga menguatkan kembali penghormatan yang orang miliki terhadap obyek-obyek nan sakral. Dalam kasus kampung Bustaman, warga mewujudkannya dalam bentuk ritual Gebyuran Bustaman. 
 
Kampung Bustaman terletak di Kelurahan Purwodinatan, secara administratif kampung ini terdiri atas 2 RT, yakni RT 4 dan RT 5 di RW 3 serta dihuni sekitar 330an warga. Posisinya tidak terlalu jauh dari pusat kota lama di era Belanda. Bersama 4 kelurahan lain, yakni Tambakrejo, Kaligawe, Kemijen, Rejomulyo, dan Purwodinatan tahun lalu masuk dalam Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) karena wilayah ini dikenal sebagai kampung padat kumuh miskin. Kampung ini bisa diakses dari jalan MT Haryono dan jalan Petudungan. Bisa pula dari Jalan Pekojan Tengah maupun Bustaman Gedong, namun hanya bisa dilalui melalui jalan kaki jika melewati jalur tersebut. Bustaman juga dikenal sebagai kampungnya leluhur Raden Saleh. Karena dulunya wilayah ini merupakan hadiah yang diberikan oleh Belanda kepada Kyai Kertoboso Bustam (leluhur Raden Saleh) setelah keberhasilannya mendamaikan orang Cina dengan Belanda pasca Geger Pecinan abad 18. Atas jasanya Kyai Bustam kemudian diberi hadiah sebidang tanah yang luas yang pada waktu itu berada di dekat ‘kota’ Semarang, dan kemudian dinamakan kampung Bustaman, hingga masa sekarang  (Baharudin Marasutanfi, Raden Saleh 1807-1880). 
 
Pada perkembangannya kampung Bustaman tidak dihuni oleh keturunan langsung Kyai Bustam. Terakhir Raden Roro Hartati (keturunan ketujuh Kyai Bustam) yang bermukim di Bustaman, itupun sekarang sudah pindah. Praktis saat ini di Kampung Bustaman tak ada satupun keturunan Kyai Bustam yang tinggal di kampung jagal tersebut. Menariknya meskipun tak ada garis keturunan warga sepakat untuk menghidupkan kembali tradisi gebyuran yang konon dilakukan oleh Kyai Bustam. Di Kampug itu juga terdapat sumur yang dipercaya sebagai petilasan Kyai Bustam sehingga koneksi antara situs dan cerita terjalin. Namun kepercayaan bahwa Kyai Bustam memandikan keturunannya di sumur tersebut menjelang Ramadhan hanya dari mulut ke mulut. Sampai akhirnya tahun 2013 kepercayaan itu didaur ulang menjadi kebudayaan yang sama sekali baru. 

Jalannya Gebyuran
Kegiatan Gebyuran diadakan seminggu sebelum puasa dan melibatkan seluruh warga di kampung Bustaman. Tidak seperti kepercayaan yang sebelumnya Kyai Bustam memandikan satu persatu, acara Gebyuran Bustaman ini warga saling lempar air satu sama lain (dari bahasa Jawa Gebyur yang artinya menyiram dengan menggunakan wadah air). Berbagai alat digunakan misalnya ember, gayung, tong, selang air, air yang diikat dalam kantong plastik lalu dilempar digunakan untuk membasahi warga. Berlangsung dari setelah Ashar hingga menjelang Maghrib. Warga jauh hari sudah diberi tahu akan ada ritual ini dan diperingatkan keras untuk tidak membawa alat-alat elektronik sehingga tak rusak kalau kebasahan. Siapapun yang disiram tidak boleh marah dan itu berlaku bagi siapapun yang berada di kampung. 
 
Pengumuman melalui speaker atau sirine apapun yang bisa menarik perhatian massa karena suaranya yang keras menjadi penanda dimulainya Gebyuran. Selama kurang lebih 2-3 jam warga perang air dari segala penjuru. Area yang digunakan sebagai peperangan air ini meliputi seluruh kampung. Sebagai informasi, Bustaman tidaklah luas amat. Total seluruh wilayah kalau dibikin rata-rata adalah satu hektar saja dengan rumah saling berhimpitan. Lebar jalan 2 meter sampai 3 meter di sisi tertentu. Namun secara umum di jantung kampung luasan jalan rata-rata dua meteran sehingga hanya bisa dilewati sepeda motor, kalau saling bersimpangan biasanya ada yang mengalah terlebih dahulu. Ruang publik adalah jalanan itu sendiri dan disanalah Gebyuran terjadi. Ada yang melempar air dari atap, lantai II, jalanan, pojokan gang dan lain-lain. Tak hanya warga Bustaman yang hadir, orang dari kampung sebelah seperti kampung Bustaman Gedong, Pekojan, dan kampung sekitar kadang datang. Wartawan juga tak pernah luput meliput kegiatan ini. Setelah pertempuran usai dan capek, warga lalu menyediakan bubur untuk dimakan bersama. 
 
Adalah Suhari atau sering dipanggil Hari Bustaman, salah satu penggagas kegiatan ini bersama kesepakatan warga yang lain. Hari Bustaman juga terlibat sebagai donatur yang menyediakan bubur untuk warga dan para tamu yang hadir. Menurutnya ritual ini sebagai wujud untuk menyucikan diri secara simbolis menjelang bulan puasa. “Konon Kyai Bustam memandikan cucunya sebelum puasa sebagai wujud penyucian diri, sekarang dikreasikan ulang menjadi gebyuran,” ujarnya. Menariknya lagi jika biasanya ritual di Jawa dilakukan secara ketat dengan aturan baku dan tata krama yang rigid, di Gebyuran Bustaman ini kesan selintas yang ditangkap penulis tradisi dikreasi lebih cair. Tanpa upacara tetek bengek yang sakral, adiluhung dan penuh petatah-petitih. Unsur kesenangan dan serta merta menjadi daya dorong utama. Pesan-pesan tentang penyucian dan hal-hal ideal lain mengenai kehidupan tidak disampaikan secara vulgar dan kaku. Unsur kebersamaan lebih ditonjolkan dalam event ini. Seperti diakui oleh Ketua RW 3, Wahyuno yang mengatakan “Terpenting warga gembira dan bisa melepaskan diri sesaat dari himpitan hidup, dan juga kebersamaan yang terus kami pelihara,” ujarnya.  

Masa Lalu sebagai Modal Kultural
Sebenarnya agak susah membayangkan apa yang dilakukan dalam Gebyuran Bustaman ini benar-benar sakral karena unsur-unsur sakral seperti dalam ciri-ciri ritual dalam agama tak banyak mendapat tempat. Dalam Gebyuran Bustaman penanda sakral yang biasanya ditandai dengan keheningan berganti dengan hingar bingar warga karena perang air. Memang dipembukaannya ada tradisi memandikan anak kecil terlebih dahulu namun tiap tahun bisa berubah. Dalam hal ini apa yang dilakukan oleh warga lebih dekat dengan konsep invensi tradisi yang dikembangkan oleh Eric Hobsbawm. Invensi tradisi dalam pengertian Hobbawm yakni menggunakan elemen tradisi untuk diaktualisasi, dikontstruksi, dan secara resmi dilembagakan dengan praksis berulang-ulang . Materi masa lalu yakni yang dinisbatkan pada Kyai Kertoboso Bustam saat memandikan cucunya digunakan sebagai bahan mentah untuk dikembangkan dalam era kekinian dengan nilai-nilai yang baru. Fungsi masa lalu sebagai pengikat memori kolektif digunakan dalam konsep peneguhan identitas dan memori kolektif bersama. Dalam wawancara dengan narasumber berbeda, Aris Zarkasyi misalnya menceritakan embrio lain dari Gebyuran Bustaman yakni dari kebiasaan warga di tiap bulan Ramadhan untuk bersih bersih kolah (tempat wudhu) mushola. Menjelang Ramadhan biasanya (alm) H Mahrus mengiming-imingi anak-anak kecil upah untuk membersihkan kolah untuk wudhu di Mushola. Kolah/kolam itu dibersihkan menggunakan kerang. Dulu waktu menguras mengundang keseruan tersendiri karena anak-anak kecil berkumpul, waktu itu sumber air untuk membilas menggunakan sumur engkel. Kolam mempunyai luasan 2 meter x 6 meter untuk wudhu dan setinggi lutut untuk bagian bersih kaki dan setengah dada dewasa untuk wudhu. 
 
Bagi Aris momentum Gebyuran mengingatkankannya pada masa lalu dan membuat warga guyub. Biasanya acara diselenggarakan setelah Ashar hingga menjelang Maghrib lalu ditutup dengan makan bersama bubur sumsum. Bubur sumsum ini konon merupakan kebiasan warga jika mereka usai menghelat hajatan. Bahannya terbuat dari gulo jowo dibuat kinco atau saus, santen, dan tepung beras. Biasanya yang menyediakan ibu Salamah bersifat sukarela, sekaligus sebagai wujud sodaqoh. Tahun pertama didominasi warga kampung Bustaman saja dan pada tahun-tahun berikutnya orang dari luar mulai berdatangan. Pasca Gebyuran warga membersihkan sampah plastik yang berserakan. Dari pengalaman terlibat baik di Gebyuran tahun 2015-2016 selalu ada perubahan dalam tata cara Gebyuran maupun sajiannya, yang artinya syarat ketat sebagai sebuah ritual. Tahun 2015 orang yang menggebyur pertama kali yakni Suhari pada Pak Topo, sedangkan tahun 2016 Ibu Hartati dan Lurah Purwodinatan, Sukamto yang menggebyur anak kecil di depan Mushola sebagai penanda Gebyuran dimulai. 
 
Sebelum Gebyuran oleh saran anak-anak muda mereka saling menaburkan serbuk warna-warni sehingga nampak lebih semarak. Pun dengan sajian setelah gebyuran usai, tahun lalu bubur sumsum dan kadang wedang jahe. Lebih dominan bubur sumsum karena itu sesuai dengan tradisi di kampung yang biasanya kalau ada gawe di kampung-kota entah itu nikahan, sunatan dll mereka menyuguhkan bubur sumsum untuk dimakan bersama. Bubur ini konon fungsinya untuk menguatkan stamina. Tahun ini mereka menyajikan nasi gudangan pada warga yang terlibat. Durasinya juga berbeda, tahun lalu gebyuran berlangsung setelah asyar hingga 17.30 sedangkan tahun ini dimulai asyar dan rampung 16.15 wib. Ketiadaan alur ketat dalam prosesi ini membuat tradisi ini tak mempunya bentuk atau durasi yang ketat, bahkan pemaknaan bisa muncul saat terjadi proses wawancara. Namun secara umum warga sepakat ini adalah cara-cara positif untuk menyalurkan dendam, amarah, kebencian, dan wujud keguyuban dengan cara perang air dengan sesama. 
 
Secara tegas, beberapa tokoh masyarakat memaknai hal ini sebagai salah satu strategi kebudayaan mereka untuk meneguhkan identitas. Ikatan dengan masa lalu atas nama tokoh penting Kyai Kertoboso Bustam, usaha menarik perhatian media massa adalah cara-cara santun untuk menegaskan keberadaan mereka. Dalam beberapa sesi diskusi dengan Aris Zarkasyi dan Hari Bustaman mereka cukup khawatir dengan fenomena lenyapnya kampung-kampung kota yang ada di Semarang. Gebyuran Bustaman adalah diplomasi kultural yang menandakan bahwa mereka ada dan penting juga bagi kota. Kekhawatiran ini bukannya tak beralasan, karena ada bagian-bagian dari rumah warga yang tidak bersertifikat. Pun jika mempunyai sertifikat bukan jaminan juga karena iming-iming uang sangat besar dari investor biasanya jika mereka minat. 
 
Upaya ini mengingatkan saya konsep lain yakni place making: ‘placemaking today is ambitious and optimistic. At its most basic, the practice aims to improve the quality of a public place and the lives of its community in tandem. Put into practice, placemaking seeks to build or improve public space, spark public discourse, create beauty and delight, engender civic pride, connect neighborhoods, support community health and safety, grow social justice, catalyze economic development, promote environmental sustainability, and of course nurture an authentic sense of place”. (Silberberg, 2013: 2). Silberberg melanjutkan place making sebagai act to do. ‘Act to do’ ini bentuknya bermacam-macam salah satunya dengan menciptakan event. Gebyuran Bustaman sebagai sebuah tradisi belumlah ada hingga tahun 2013. Dicipta ulang pertama kali pada tahun 2013 setelah warga terlihat antusias dalam event sebelumnya bertajuk ‘Tengok Bustaman’ yang menyedot animo massa dan media. Sejak itu Gebyuran Bustaman menjadi peristiwa tahunan yang dinanti-nanti.  Kiranya motif-motif inilah yang serta merta, enteng, murah, dan tidak neko-neko dianggap sebagai ekpresi dalam seni rakyat yang ringan. Kondisi serupa terjadi juga praktek seni yang tumbuh di daerah Pekunden di Kendal yang pernah diteliti oleh antropolog Tjetjep Rohendi Rohidi tentang ekspresi rakyat miskin yang selalu memerhatikan efisiensi, murah, dan bisa dilakukan secara mudah. Hal yang sama dan tercermin juga dalam tradisi Gebyuran Bustaman.
 
Antusiasme media yang meliput juga menjadi kegemberiaan dan kebanggaan tersendiri. Pak Aris Zarkasyi, ketua RT 4/RW 3 sekaligus warga Bustaman, mengakui adanya event ini membuat kampungnya makin dikenal. “Orang tahunya Bustaman hanya gulainya atau tukang jagalnya, sekarang Gebyuran Bustaman juga menjadi kebanggaan kami,” tuturnya. Dari temuan awal sekilas lintas dapat diperoleh kesimpulan Gebyuran Bustaman merupakan penggalian ulang foklore sebagian lisan yang hidup di kampung. Karena warga latar belakangnya rata-rata adalah kelas menengah ke bawah dengan dominasi tingkat perekonomian kelas bawah ekspresi yang dilakukan juga secara murah meriah, tak memakan biaya dengan penekanan pada kesenangan dan kebersamaan. Hal ini juga dimaksudkan sebagai sarana perekat social. Dan dengan modal yang tidak besar sebagai implikasi dari pendapatan kegiatan ini turut meningkatkan kebanggaan warga atas kampungnya. Penggalian ulang tradisi atau invensi tradisi ini bukannya dilakukan tanpa sebab. Banyak motif yang terkandung di dalamnya selain meneguhkan nilai-nilai juga sebagai strategi kultural warga menghadapi pembangunan yang massif di kota. Contoh kecil ini bisa menjadi model pengembangan bagi wilayah-wilayah yang menghendaki hasil yang kurang lebih sama yakni dengan menggali tradisi dalam hal ini folklore untuk meningkatan sense of place dan place attachment sehingga warga kampung-kota mampu menggunakan modal kultural ini sebagai basis advokasi diri.

Oleh 
Akhmad Khairudin
 
Diambil dari Srawung Kampung-Kota
KampungnesiaPress, 2017  
 
 

Berita Terkait