Agar Keningar Tak Menjadi Kenangan

Mata Warto berkaca-kaca ketika menceritakan kampung halamannya, Desa Keningar. Perjuangan beratnya bersama warga kampung lain untuk menghentikan pertambangan batu dan pasir, mengoyak emosinya. Desa kami tak layak lagi ditambang, kata pria kelahiran 1969 ini, Minggu 10 September 2017. Warto berbicara dalam diskusi Melihat Keningar Lebih Dekat yang digelar gabungan komunitas di Rumah Banjarsari, Surakarta. Bersama puluhan warga Desa Keningar lainnya, Warto menempuh waktu empat jam menuju Solo. Mereka ingin membagi cerita tentang kampungnya kepada puluhan peserta diskusi, yang didominasi para mahasiswa.  

Desa Keningar masuk kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jaraknya dari puncak Gunung Merapi hanya 5,8 kilometer, menjadikan Keningar masuk sebagai salah satu kawasan rawan bencana (KRB) III. Erupsi Merapi di tahun 2010, meluluhlantakkan Keningar. Warga Keningar telah turun-temurun hidup berdampingan dengan gunung paling aktif di Pulau Jawa itu. Tak hanya mendapatkan berkah tanah yang subur, tetapi juga sumber air untuk memenuhi kebutuhan desa-desa lain di bawahnya. Namun, Merapi sekaligus menyisakan kecemasan lain. Pasir sebagai salah satu produk material erupsi, menarik sejumlah penambang sejak 1996. Mereka mengambil batu dan mengeruk pasir dengan alat berat. Ratusan truk tiap hari datang ke desa seluas 108 hektar ini untuk mengangkut hasil tambang.

Warto pernah menjadi buruh tambang di kampungnya. Hingga akhirnya dia tersadar bahwa tambang telah mengubah banyak hal, terutama menyebabkan sumber-sumber air menghilang. Ketika tambang selesai, perusahaan pindah tempat atau pergi begitu saja, meninggalkan lubang-lubang bekas galian yang menganga tanpa reklamasi. Pemerintah dan aparat keamanan pun berdiam diri meski tambang beroperasi ilegal. Sungguh pahit desa kami, semuanya cuma karena uang, uang dan uang, kata ayah dua anak ini. Warto pun memutuskan berhenti pada 2006. Dia memilih menjadi jadi buruh bangunan dan petani. Dia lalu bergabung dengan 17 warga lain, berjuang menutup pertambangan agar dampak kerusakannya tak makin meluas. Tim penolak ini dijuluki Tim 18.

Sumardi, warga Keningar lain bercerita, erupsi Merapi tahun 2010 menjadi puncak kesadaran warga terhadap pertambangan pasir. Saat warga berbondong-bondong lari menyelamatkan diri, kendaraan yang dipakai tak bisa melaju cepat. Beberapa warga di antaranya mengalami kecelakaan. Sebab satu-satunya jalan untuk evakuasi rusak parah akibat dilewati 400 truk sepanjang hari. "Laju kendaraan saat itu hanya 20-35 km per jam," kata pria berusia 33 tahun ini.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana kemudian memperbaiki jalan tersebut pada 2011. Tak ingin rusak kembali, Tim 18 memutar otak untuk menghambat truk-truk tambang. Saat itu mereka belum berani melawan pertambangan secara terbuka karena banyak dibekingi preman. Mereka menyiasatinya dengan membuat portal dengan dikemas pentas budaya jathilan, reog dan warok pada 2012. Setiap harinya, portal ini tutup pada pukul 18.00 dan buka keesokan harinya jam 06.00 WIB.

Aksi nekad warga itu awalnya mendapat banyak perlawanan dari supir truk selama tiga bulan. Warto yang bertugas membuka dan menutup portal itu bahkan nyaris dipukul oleh seorang supir. Namun akhirnya cara ini berhasil menjaga jalan evakuasi dari kerusakan. Meski begitu perlawanan dari warga belum sepenuhnya berhasil menutup seluruh tambang. Padahal warga telah menempuh semua cara, mulai unjuk rasa, audensi, melapor ke Kementerian Lingkungan Hidup hingga ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Warga pun terpaksa berjuang dengan caranya sendiri menyelamatkan alam Keningar. Perlahan-lahan mereka memulihkan lahan-lahan bekas tambang yang gundul dan kering dengan tanaman pertanian.

Desa Keningar sejatinya berasal dari nama pohon keningar. Tanaman ini populer juga disebut kayu manis, salah satu rempah-rempah yang banyak diburu di era kolonialisme bangsa Eropa. Topomini tersebut untuk merujuk bahwa dulunya banyak pohon keningar tumbuh di desa ini. Tapi sekarang tidak ada lagi pohon keningar di Desa Keningar, tulis V. Tity Endang S, pegawai desa setempat. Tity menuliskan asal-usul nama kampungnya itu di buku Kenang Keningar, yang diterbitkan SATUNAMA Yogyakarta tahun 2017.  Total ada 26 tulisan di buku setebal 156 halaman tersebut. Buku ini berkisah tentang kenangan, cinta, dan luka yang menjadi memori bersama bagi warga kampung. Buku bersampul abu-abu ini sebagian besar ditulis oleh warga Keningar sendiri, mulai pelajar hingga ibu rumah tangga. Kisah-kisah tersebut berbentuk esai, cerita pendek dan puisi.

Yehezkiel Sugiyono, salah satu penggerak Desa Keningar, bercerita, bahwa proses pembuatan buku ini berlangsung kurang dari satu tahun. Bersama Yayasan SATUNAMA, sebuah lembaga swadaya masyarakat untuk penguatan masyarakat sipil di Yogyakarta, warga belajar menulis, berorganisasi dan membentuk Sanggar Lare Joyomukti untuk anak-anak. Membaca buku ini membuka pengetahuan saya, bagaimana kehadiran tambang batu pasir telah mengoyak hidup masyarakat Keningar yang sebelumnya selaras dengan alam. Pawit, seorang ibu rumah tangga, misalnya, menulis, bahwa sebelum kehadiran tambang, warga bisa menumbuhkan jagung, singkong, cabai dan segala tanaman lain. Warga pun hidup damai, saling gotong royong, dan hidup berdampingan.

Lahan-lahan yang dulu ditanami berbagai jenis tanaman, kini berubah menjadi hamparan batu-batu yang membuat udara teramat panas apalagi saat kemarau, tulis Pawit, istri Warto. Kerukunan masyarakat pun terkikis. Debit air yang berkurang memicu konflik antar warga. Mereka saling berebut mengairi sawah. Saat musim hujan, warga diliputi was-was. Lahar dingin Merapi sewaktu-waktu bisa datang membanjiri pemukiman, sementara tebing penahan air telah hancur menjadi hamparan batu-batu.

Tak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, masa depan generasi penerus Desa Keningar ikut pula terancam. Pawit menulis: Anak-anak tidak mau sekolah karena mereka merasa gampang mencari duit dengan menjadi buruh tambang. Remaja-remaja mulai mengenal tempat-tempat hiburan malam. Kegelisahan atas masa depan anak-anak Keningar, membuat Pawit mengembangkan kesenian. Dia melatih anak-anak kampungnya menari jathilan dan cakarlele, dua kesenian yang mulai hilang diterpa dampak pertambangan.

Pawit adalah penari perempuan tradisional yang tersisa di Keningar. Pengalamannya menari sejak umur delapan tahun itu yang ia tularkan ke anak-anak. Selain merawat dua kesenian itu agar tidak punah, dia bermimpi kerukunan warga Keningar terwujud lewat kesenian. Semoga bumi Keningar bisa tersenyum seperti dulu lagi, tulis ibu yang gagal menamatkan SMP ini. Pendiri komunitas Kampungnesia, Akhmad Ramdhon, yang membedah buku itu, mengatakan, bahwa Kenang Keningar adalah upaya warga untuk menumbuhkan cinta terhadap kampung sebagai ruang hidup. Buku itu, mengingatkan publik tentang alam yang kian rusak karena perbuatan manusia. Apa yang terjadi di Keningar, kata dia, bisa saja menimpa kampung-kampung lain. Ia pun mengajak peserta untuk menengok kondisi di kampung masing-masing dan menuliskannya. Bahkan termasuk kampung kita sendiri bisa terancam seperti Keningar, kata dosen Sosiologi Universitas Sebelas Maret ini.

Diskusi itu ditutup dengan penampilan Sanggar Lare Joyomukti. Sebanyak 15 bocah, laki-laki dan perempuan, menari Jathilan dengan lincah diiringi gamelan. Tarian pengharapan agar anak-anak itu tetap bisa mewarisi bumi Keningar.
 
 
Ika Ningtyas
Freelance Journalist
 
 

Berita Terkait